Konsumsi Gula Berlebih Merusak Otak

Kompas.com - 16/05/2012, 11:30 WIB

KOMPAS.com - Inilah salah satu alasan kenapa Anda harus membatasi asupan gula. Sebuah riset teranyar para ilmuwan di Amerika Serikat mengindikasikan, makan terlalu banyak gula dapat menggerogoti kemampuan otak. Kesimpulan ini didapat setelah peneliti di University of California Los Angeles (UCLA) melakukan uji laboratorium terhadap hewan tikus yang diberi diet sirup jagung tinggi kadar fruktosa selama enam minggu.

Dalam analisanya peneliti membagi tikus ke dalam dua kelompok. Satu kelompok tikus diberi suplemen otak yang diperkaya asam lemak omega-3 dalam bentuk minyak biji rami dan asam docosahexaenoic (DHA), sementara kelompok lainnya tidak.

Sebelum diberi minuman gula, tikus tersebut dilatih selama lima hari untuk menyelesaikan permainan teka-teki (maze), sebuah permainan yang mencari jalan keluar. Setelah enam minggu diberikan minuman manis, tikus itu kembali diminta untuk bermain maze, untuk melihat sejauh mana mereka mampu menyelesaikannya.

"Penurunan fungsi otak pada hewan yang diberi omega 3 dan DHA cenderung lambat, meski otak mereka menunjukkan penurunan aktivitas sinaptik," kata Fernando Gomez-Pinilla, seorang profesor bedah saraf dari David Geffen School of Medicine, UCLA.

"Sel-sel otak tikus mengalami kesulitan sinyal satu sama lain, mengganggu kemampuan tikus untuk berpikir dan sulit untuk mengingat rute setelah diberi diet tinggi gula," jelasnya.

Peneliti juga menemukan, otak tikus yang tidak di beri asupan suplemen DHA cenderung mengembangkan tanda-tanda resistensi terhadap insulin, suatu hormon yang mengontrol gula darah dan mengatur fungsi otak.

"Karena insulin dapat menembus penghalang darah otak, hormon sinyal neuron mungkin memicu reaksi yang mengganggu belajar dan menyebabkan kehilangan memori," kata Gomez-Pinilla yang mempublikasikan riset ini dalam Journal of Physiology.

Dengan kata lain, makan fruktosa terlalu banyak dapat mengganggu kerja insulin untuk mengatur gula, yang diperlukan untuk memproses pikiran dan emosi.

"Insulin penting dalam tubuh untuk mengendalikan gula darah, tetapi dapat memainkan peran yang berbeda dalam otak, dimana insulin tampaknya mengganggu memori dan belajar," kata Gomez-Pinilla

"Studi kami menunjukkan bahwa diet tinggi fruktosa merusak otak serta tubuh. Ini adalah sesuatu yang baru," ujarnya.

Walaupun studi ini tidak mengatakan apakah tingkat konsumsi fruktosa kadar tinggi akan berdampak sama pada manusia, namun para peneliti menegaskan kalau temuan ini memberi beberapa bukti bahwa sindrom metabolik dapat mempengaruhi pikiran serta tubuh.

"Temuan kami menggambarkan bahwa apa yang Anda makan memengaruhi bagaimana Anda berpikir," kata Gomez-Pinilla.

"Diet tinggi fruktosa dalam jangka panjang dapat mengubah kemampuan otak Anda untuk belajar dan mengingat informasi. Tetapi dengan menambahkan asam lemak omega-3 dapat membantu meminimalkan kerusakan," ucapnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau