Siap Mati demi Trofi Eropa

Kompas.com - 18/05/2012, 02:41 WIB

MUENCHEN, KAMIS - Bayern Muenchen menyiapkan segudang mantra guna melecut pemain agar tampil mati-matian melawan Chelsea di final Liga Champions, Sabtu (19/5) besok. Mantra itu mulai dari ”generasi emas”, ”laga terakbar seumur hidup”, rekor juara, hingga tekad siap mati.

Mantra dan aneka jargon itu dikemukakan sejumlah pemain Bayern menjelang duel akbar di Stadion Fussball Arena, Muenchen, yang juga kandang mereka. Kubu Chelsea tidak mau kalah. Kubu Inggris mengangkat tema penebusan atas kegagalan pada final 2008 di Moskwa.

”Ini laga terpenting seumur hidup,” kata Arjen Robben, pemain sayap Bayern, Kamis (17/5). ”Inilah saatnya. Anda harus memenangi Liga Champions (setidaknya) sekali dalam seumur hidup. Dua tahun lalu, kami kalah di final dan kini kami mendapat kesempatan kedua.”

Robben bukanlah pemain kemarin sore. Dia telah mereguk gelar juara liga di Spanyol, Jerman, Inggris, dan Belanda. Namun, pemain berusia 28 tahun itu belum pernah mencicipi manisnya juara Liga Champions. Hal serupa dirasakan sayap Bayern lainnya, Franck Ribery.

”Saya sudah berumur 29 tahun dan Anda tidak selalu mengalami laga seperti ini setiap musim,” kata Ribery yang absen di final 2010 karena diskors. Ketika berbicara kepada wartawan, Kamis, pemain timnas Perancis itu memakai kaus bertuliskan slogan Bayern ”Mia san Mia (Kami adalah Kami)”.

Mati pun siap

Tanpa diperkuat Ribery, Bayern takluk di tangan Inter Milan yang saat itu dilatih Jose Mourinho, 0-2, pada final 2010 di Madrid.

”Sulit mencapai final, itu sebabnya (laga final) ini begitu penting. Kami harus menumpahkan semua yang kami miliki dan berusaha dengan berbagai cara. Dan sekalipun jika kami mati setelah itu, biarlah saja itu terjadi,” kata Ribery. Bersama Robben (kemudian pasangan dua pemain sayap itu dikenal dengan julukan ”Robbery”), dia menjadi pemain kunci atas suksesnya Bayern ke final Liga Champions.

Jika menang dan juara, Bayern bakal menjadi tim pertama yang menjuarai Liga Champions di kandang sendiri. Selama ini, baru dua klub—saat ajang masih bernama Piala Eropa dengan format lama—yang menjuarai Eropa di kandang sendiri: Real Madrid (1957) dan Inter Milan (1965).

Tim finalis terakhir yang tampil di kandang sendiri, AS Roma, pada 1984, kalah dari Liverpool lewat adu penalti. ”Anda harus mendapatkan gelar internasional untuk menjadi generasi emas,” ujar Philipp Lahm, kapten Bayern, yang termotivasi sukses bos di klubnya, Uli Hoeness (Presiden) dan Karl-Heinz Rummenigge (Ketua), yang menjadi bagian Bayern saat juara tiga tahun beruntun (1974, 1975, dan 1976).

Penebus duka Moskwa

Chelsea juga tidak kekurangan motivasi pelecut untuk merebut trofi pertama Liga Champions. Striker Didier Drogba menyitir duka akibat kegagalan di final 2008 Moskwa. Saat itu, dia diusir pada babak perpanjangan waktu karena menampar bek Manchester United, Nemanja Vidic.

Ia hanya bisa melihat kegagalan Nicolas Anelka dan John Terry gagal mengeksekusi penalti dalam adu penalti, membuat trofi jatuh ke pelukan MU.

”Setelah kejadian di Moskwa itu, sebagian besar kami berpikir akan tampil di final lagi tahun berikutnya. Namun, Anda bisa lihat, sangat sulit mencapai final,” kata Drogba. Bagi Chelsea, duka kegagalan di Moskwa hanya bisa ditebus dengan trofi di Muenchen. (AP/AFP/REUTERS/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau