Sekolah Kejuruan Kekurangan Guru

Kompas.com - 21/05/2012, 06:54 WIB

Probolinggo, Kompas - Potensi mengembangkan sekolah kejuruan di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, cukup bagus. Hanya saja, saat ini masih kekurangan guru keahlian atau guru produktif yang bisa mengajar sesuai dengan potensi sekolah.

”Di sekolah kami hanya ada satu guru produktif dan berstatus guru tidak tetap (GTT). Seorang GTT mengajar seluruh siswa karena memang sangat kekurangan guru produktif,” tutur Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Sumber, Sukirno, Minggu (20/5).

Padahal, menurut Sukirno, idealnya di satu SMK seperti SMKN 1 Sumber minimal ada 3-4 guru produktif. Siswa SMKN 1 Sumber sebanyak 79 siswa.

Guru produktif adalah guru yang mengajar sesuai dengan kompetensi sekolah. Misalnya bidang pertanian, kesehatan, atau elektronika.

”Potensinya bagus. Kalau nanti sekolah berkembang dan siswa semakin banyak, maka siswa butuh bimbingan lebih banyak guru produktif, baik untuk teori atau praktik,” kata Sukirno.

Kekurangan guru ini dibenarkan oleh Rashid Subagio, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo. Bahkan menurut dia, Kabupaten Probolinggo bukan hanya kekurangan guru keahlian, melainkan juga guru umum.

Mengajukan tambahan

”Jumlah guru produktif di Kabupaten Probolinggo memang masih kurang. Guru umum pun jumlahnya masih kurang sehingga kami sudah mengajukan permohonan tambahan guru kepada pemerintah,” ujar Rashid.

Saat ini, ada 99.000 siswa SD hingga SMK di Kabupaten Probolinggo. Dari jumlah tersebut, jumlah guru sekitar 20.000 orang. ”Jika dihitung setiap jenjang pendidikan, setidaknya kami saat ini masih kekurangan 2.000-an guru. Setiap guru masih mengajar siswa melebihi jumlah idealnya,” ujar Rashid.

Seperti di SMKN 1 Sumber saat ini seorang guru bisa mengajar hingga hampir 80 orang. Padahal untuk jenjang SMK, menurut Rashid, idealnya seorang guru maksimal mengajar sebanyak 20 siswa.

”Selain kekurangan guru, SMK di tempat kami juga masih kekurangan gedung. Dari tujuh SMKN yang sudah ada, masih ada dua SMK belum memiliki gedung,” katanya.

Saat ini, memang sedang diusahakan agar sekolah dengan kompetensi segera terpenuhi kebutuhan guru dan gedung. Salah satu SMKN yang belum memiliki gedung sekolah adalah SMKN 1 Gending.

”Kami selama ini belum memiliki gedung dan menumpang di sekolah lain. Namun, tahun ini kami sudah dibangunkan gedung sendiri,” tutur guru kimia SMKN 1 Gending, Hadi Kurniawan.

Persoalan kekurangan guru dan gedung, menurut Rashid, penting diperhatikan karena potensi mengembangkan SMK di Kabupaten Probolinggo bagus. Semisal, di daerah pelosok gunung seperti Sumber, yang sebelumnya tidak banyak generasi mudanya bersekolah. Begitu sekolah hadir di daerah itu, yakni SMK pertanian, anak-anak muda di daerah itu mulai berminat untuk sekolah. (DIA)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau