Menghitung Keuangan di Hari Tua

Kompas.com - 22/05/2012, 09:15 WIB

KOMPAS.com - Berapa usia Anda saat ini? Apa profesi Anda? Berapa banyak uang di tabungan Anda atau berapa besar nilai investasi Anda saat ini? Apakah nilai investasi Anda dan hasilnya diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan sepanjang hayat di kandung badan?

Jika ya, tidak perlu menjawab berapa usia dan atau profesi Anda. Kondisi keuangan Anda sudah berada pada level financial freedom. Yang perlu Anda lakukan hanyalah bersyukur.

Tetapi, bagaimana dengan kalangan yang usianya sudah menjelang pensiun, tetapi hingga saat ini masih terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup saat ini, dan apalagi pada masa datang?

Siapa pun yang memasuki pensiun atau berhenti bekerja pada sebuah perusahaan mesti memikirkan masa tuanya tanpa membebani siapa pun juga. Lantas bagaimana caranya?

Siapkan dana
Siapkan dana yang cukup untuk membiayai masa tua. Itu jawabnya. Masa tua bukan lagi masa untuk mengumpulkan aset, tetapi menikmati aset yang telah dimiliki atau paling tidak mampu hidup mandiri tanpa membebani anak cucu dan handai tolan. Dengan kata lain, definisikan dulu apa saja kebutuhan finansial Anda di hari tua. Jawabannya hanya ada dua, yakni kebutuhan untuk membiayai hidup sehari-hari hingga hayat di kandung badan, dan juga kebutuhan untuk mampu membiayai biaya kesehatan jika Anda sakit.

Kebutuhan untuk hidup sehari-hari di masa tua sebenarnya jauh lebih sedikit ketimbang ketika masih di usia produktif. Yang paling utama adalah kebutuhan untuk makan sehari-hari. Sementara kebutuhan biaya transportasi pasti akan lebih rendah. Demikian juga kebutuhan untuk sandang. Berbeda, dengan ketika masih produktif.

Dengan berkurangnya biaya transportasi dan biaya pembelian sandang, tentu kebutuhan biaya bulanan menjadi lebih rendah. Berapa kira-kira penurunannya? Bisa mencapai 50 persen. Dengan kata lain, kebutuhan biaya bulanan Anda setelah tidak produktif paling tinggi hanya 50 persen dari sebelumnya.

Biaya bulanan tentu berbeda dengan penghasilan. Ketika masih produktif pun, kebutuhan pengeluaran untuk konsumsi sejatinya tidak boleh melebihi 70 persen dari penghasilan bulanan. Jika penghasilan bulanan Anda katakanlah Rp 10 juta per bulan, keperluan untuk konsumsi maksimum adalah Rp 7 juta. Nah, dengan berkurangnya keperluan setelah tidak produktif sebagaimana dipaparkan di atas, berarti dana yang diperlukan tidak lebih dari Rp 3,5 juta saja.

Lalu berapa penghasilan Anda setelah pensiun? Jika Anda karyawan pemerintah atau badan usaha milik negara, biasanya akan mendapatkan pensiun sekitar 30 persen dari nilai penghasilan terakhir ketika memasuki masa pensiun. Dengan contoh di atas, berarti penghasilan pensiun Anda adalah Rp 3 juta. Konkretnya, masih defisit dibandingkan dengan kebutuhan bulanan setelah pensiun yang mencapai Rp 3,5 juta. Belum lagi, kebutuhan untuk membiayai pengobatan jika Anda sakit. Bagaimana menutupi itu semua?

Aset produktif
Anda tentu memiliki aset yang Anda kumpulkan ketika masih produktif. Aset tersebut bisa berupa tanah, rumah, kendaraan, dan mungkin juga deposito, atau malah investasi lainnya. Jika Anda beruntung dan memiliki semua itu, tidak ada yang dikhawatirkan. Bunga deposito Anda mungkin mampu menutupi kekurangan kebutuhan biaya hidup Anda setelah pensiun dan juga biaya kesehatan Anda. Tetapi, bagaimana jika Anda tidak memiliki deposito dan/atau investasi lainnya? Hanya ada dua cara.

Pertama, Anda jual aset tetap Anda, lalu pindahkan menjadi aset produktif. Jika Anda memiliki rumah yang nilainya cukup tinggi, baik karena ukuran dan/atau lokasi rumah yang strategis, pertimbangkan untuk menjual rumah tersebut dan pindah ke rumah yang lebih kecil yang lokasinya tidak lagi di daerah strategis sehingga harga rumah lebih terjangkau. Selisih dari penjualan rumah itu Anda gunakan untuk berinvestasi, atau paling tidak didepositokan. Bunga depositonya Anda gunakan untuk membiayai kekurangan biaya hidup sehari-hari. Selain itu, Anda juga mesti menyisihkan dana untuk membeli polis asuransi kesehatan yang akan digunakan sepanjang hidup Anda.

Kedua, apa boleh buat, Anda masih harus aktif lagi, dalam arti mencari tambahan penghasilan. Bisa bekerja paruh waktu atau belajar berwirausaha dengan menggunakan modal dari aset yang Anda miliki. Agar usaha yang Anda rintis tidak gagal, tentu mesti dipertimbangkan juga untuk memiliki mitra kerja sama yang sudah lebih berpengalaman di bidang tersebut. Sebaiknya tidak usah merasa ”nekat” jika memulai usaha baru. Apalagi dengan mempertaruhkan dana terbatas yang Anda miliki. Lebih baik memilih usaha yang tidak terlalu berisiko, tetapi bisa memberikan tambahan pendapatan bagi Anda.

Kesimpulannya, untuk aman secara finansial di hari tua, sesungguhnya mesti disiapkan sejak dini sejak ketika Anda masih produktif. Namun, jika saat ini sudah telanjur memasuki usia yang tergolong purnabakti, bukan berarti Anda pasti akan bermasalah secara finansial. Banyak jalan menuju Roma. Beberapa alternatif di atas mungkin bisa menjadi masukan bagi Anda. Selamat mencoba.

(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau