Dua Satpam IPB Tewas Ditembak Pencuri Motor

Kompas.com - 26/05/2012, 05:38 WIB

BOGOR, KOMPAS - Waspada. Pencuri motor semakin brutal. Dua petugas satuan pengamanan Kampus Institut Pertanian Bogor, yang berusaha menyelamatkan motor yang hendak dicuri di lokasi parkir Masjid Al Hurriyah saat shalat Jumat, tewas ditembak pelaku setelah sempat bergumul.

Manajemen IPB berharap kasus ini bisa dijadikan momentum bagi polisi untuk menata ulang kepemilikan senjata api.

Dua petugas satpam yang tewas itu adalah Supriatna (40) dan Suhardi (41). Saat kejadian, keduanya sedang di dekat lokasi parkir Masjid Al Hurriyah yang berada di lingkungan Kampus IPB di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saat itu mahasiswa, dosen, dan pegawai IPB sedang bersiap shalat Jumat.

Mereka curiga dengan gerakgerik dua pengendara sepeda motor yang mendekati lokasi parkir. Supriatna mendekati pengendara sepeda motor itu yang lalu diikuti Suhardi. Dua pengendara sepeda motor itu berusaha kabur, tetapi dikejar oleh keduanya. Lalu, sempat terjadi pergumulan sebelum pelaku melepas tembakan.

”Saya sedang menaruh sandal di dekat masjid dan mendengar dua kali letusan pistol. Kemudian diikuti dua letusan lagi. Sewaktu saya lihat ke parkiran, dua satpam sudah tergeletak,” tutur Sekretaris Eksekutif IPB Bonny Poernomo Wahyu Sukarno.

Suhardi meninggal di lokasi kejadian, sedangkan Supriatna meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.

”Total di tubuh kedua korban ada empat proyektil,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Martinus Sitompul.

Menyamar mahasiswa

Santoso (21), mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB, melihat dua pelaku berdandan seperti mahasiswa, mengenakan jaket hitam dan membawa tas.

Polda Jawa Barat dan Polres Bogor sudah membentuk tim pemburu. Polisi sudah membuat sketsa pelaku. Saat ini kawasan Kampus IPB juga dijaga ketat.

Jenazah dua petugas satpam itu, Jumat malam, disemayamkan di Gedung Rektorat IPB untuk penghormatan terakhir sebelum diserahkan kepada perwakilan keluarga.

Rektor IPB Herry Suhardiyanto mendesak adanya penataan ulang kepemilikan senjata api di kalangan sipil.

”Pelaku yang nekat menembakkan pistol di kampus pada siang hari artinya sangat nekat,” kata Bonny.

Kasus serupa pernah terjadi di perumahan Vila Bintaro Indah, Jombang, Tangerang Selatan, 17 Maret lalu. Korbannya, Djuli Elfano (47), kamerawan TVRI. Dia tewas ditembak perampok saat mempertahankan motor anaknya yang hendak dicuri.

Tim dari Subdirektorat Reserse Mobil Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya sudah menangkap dua dari enam orang komplotan pencuri dan perampas motor bersenjata api. Komplotan ini juga yang menembak mati Djulie Elfano.

”Baru dua yang tertangkap,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (23/5). (GAL/RTS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau