Bert van Marwijk dikecam mengusung anti-sepak bola dan mengingkari tradisi total football
Mantan pelatih Feyenoord ini tidak ambil pusing dengan segala kritik itu. Sejak mengambil alih tim ”Oranye” dari Marco van Basten setelah Piala Eropa 2008, Van Marwijk telah menetapkan metode bermainnya yang revolusioner.
”Semua orang dalam euforia, tetapi kemudian tiba babak gugur dan kami harus berkemas pulang karena kami sama sekali tidak menang,” ujar Van Marwijk mengenai Piala Eropa 2008 dalam buku biografi yang ditulis oleh Edwin Schoon.
Sejak awal, Van Marwijk telah menetapkan sikapnya, ”Saya tidak ingin mengulangi itu. Saya ingin tim saya menang meskipun di hari yang buruk.”
Konsekuensinya sangat jelas, ia lebih mementingkan hasil dibandingkan permainan atraktif. Peraih Piala UEFA 2002 bersama Feyenoord ini menanamkan filosofi permainannya ke dalam benak setiap pemain setahap demi setahap hingga semua mengerti apa yang diinginkannya. Pertahanan dan kecepatan transisi menjadi kekuatan tim.
Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan membuktikan konsep yang lahir dari kecerdikannya yang sangat efektif. Belanda melaju hingga ke final untuk ketiga kalinya dalam sejarah Belanda setelah 1974 dan 1978. Kesempatan menjadi juara dunia setelah 32 tahun itu gagal diraih Belanda. Spanyol lebih beruntung berkat gol Andres Iniesta pada menit ke-116 babak perpanjangan waktu.
Pelatih yang berusia 60 tahun pada 19 Mei lalu ini akan kembali menerapkan permainan pragmatis di Piala Eropa 2012. Van Marwijk berpeluang besar mengulang kesuksesan tim Belanda di Piala Eropa 1988, ketika mereka sukses merebut trofi.
Selain kelihaian mengolah strategi, Van Marwijk sangat memperhatikan detail perkembangan setiap pemain. Ia terus memantau perkembangan setiap pemain dari jauh. Jika perlu, ia akan mengajak bicara para pemainnya secara pribadi untuk mengetahui apa keinginan dan masalah mereka. ”Seorang pemain kadang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi pendengar,” ujar Van Marwijk.
Namun, ada satu hal yang sangat dipahami oleh para pemain Belanda dari pelatihnya. Mereka memiliki batasan yang jelas dalam menjalankan strategi permainan. Artinya, jika keluar dari garis itu, sama saja mengundang masalah besar. Van Marwijk tidak akan berbasa-basi dalam menegakkan aturannya.
Karakter lugas dan tanpa basi-basi inilah yang menimbulkan masalah dengan sejumlah pemain bintang pada awal kepemimpinannya. Namun, kelihaiannya membaca detail karakter pemain dan keterbukaan mendengarkan apa keinginan pemainnya selalu berujung pada kekompakan di ruang ganti.
Van Marwijk telah memenangi pertarungan dengan pemain-pemain bintangnya. Kini pelatih genius ini akan membawa 23 ”prajuritnya” untuk menundukkan Eropa. Tugas besarnya adalah mengantarkan tim ”Oranye” sebagai jawara turnamen, bukan hanya berhenti menjadi tim favorit.
Pengalaman 2008 membuktikan, betapa Belanda yang tampil luar biasa pada penyisihan grup, tetapi mereka gugur di perempat final. Setelah unggul 3-0 atas Italia, 4-1 atas Perancis, dan menyikat Romania 2-0 di grup, Belanda tersingkir di perempat final setelah kalah 1-3 di tangan Rusia. Tahun ini, Van Marwijk perlu membuktikan, aksi Belanda membuahkan trofi Henri Delaunay.