Dangdut DARI KAMAR IKKE

Kompas.com - 27/05/2012, 04:00 WIB

Mawar Kusuma

Bantal kecil dipeluknya di pangkuan. Lalu mengalunlah lagu. ”Yang bersedih hati karena ditinggal

Sore yang tenang di rumah Ikke Nurjanah (38) pecah oleh lantunan tembang dangdut. Dengan lirih, Ikke berdendang. Ia meraih komputer jinjing sebelum kemudian mengempaskan tubuh mungilnya di atas kasur empuk. kekasih, itu namanya cengeng.... Obatnya patah hati, cepat cari ganti....” Ha?

”Judulnya ’Cengeng’,” ujar Ikke tertawa.

Kamar tidur menjadi tempat favorit Ikke berlatih vokal. Ia terbiasa menggunakan bantuan komputer jinjing untuk memutar musik pengiring. Sambil menancapkan alat pengeras suara, Ikke kembali bernyanyi. Kali ini, ia menyanyikan single terbaru ”Lelaki Pemalu”.

”Aku paling suka nyanyi di kamar. Senang karena enggak akan didengar orang. Malu kalau fals,” tambah Ikke.

Ikke paling betah berlama-lama di kamarnya. Bahkan, kamar menjadi ruangan terluas di rumah berukuran 500 meter persegi itu. Jika tak ada keperluan shooting atau manggung, Ikke bisa menghabiskan waktu seharian di kamar.

Kamar yang selalu tertutup dan berpendingin udara itu memiliki dua pintu. Satu pintu menuju ruang tengah dan satu pintu menuju secuil halaman samping. Dari halaman itu, sinar matahari menerobos dan membangunkan Ikke setiap hari baru.

Halaman samping ini sekaligus menjadi penghubung menuju ruang penyimpanan baju pentas di pojok belakang rumah. Hari-hari Ikke juga dimanjakan oleh cahaya matahari yang melimpah dari teras halaman belakang rumah.

Selain di ruang tidur, Ikke terbiasa berlatih dangdut sembari treadmill atau senam lantai di halaman belakang. Ia pun memiliki ruang karaoke di lantai atas. Tetapi, Ikke jarang berlatih di ruang itu karena malas naik turun tangga.

Jatuh hati 

Ikke empat tahun lalu membeli rumah di Cipayung, Jakarta Timur. Ia langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Ia menyukai lingkungannya yang asri. ”Kayak rumah zaman dulu. Rumput di depannya lebih tinggi. Rasanya pas masuk rumah enak banget,” tambahnya.

Rumah Ikke tergolong unik karena lahannya yang menurun. Lokasi bangunan rumah jadi lebih rendah dibandingkan dengan jalan raya. Jika dilihat dari ruang tamu, garasi mobil seperti berada di lantai atas. Di muka rumah, Ikke mempertahankan pohon rambutan dan menanam pohon anggur dan markisa.

Begitu memasuki gerbang, tamu akan seperti terpisah dari lingkungan kampung padat penduduk yang menyesaki sekeliling rumah Ikke. Lalu lalang kendaraan serta suara bising anak-anak tak sanggup menyusup ke dalam rumah.

Dinding bagian muka rumah yang ditempeli batuan sungai memperkuat kesan rumah yang sejuk. Tamu Ikke harus menuruni tangga batu sebelum memasuki ruang tamu yang dihiasi lukisan diri Ikke.

Agar tak banjir, limpasan air hujan segera masuk ke gorong-gorong yang terhubung langsung ke sungai di belakang rumah. ”Rumah itu jodoh. Kalau sudah di rumah, suka malas keluar. Betah banget di rumah,” kata Ikke.

Konsep apartemen 

Ikke menata rumahnya sesederhana mungkin. Ia memindahkan dapur dari halaman belakang ke dalam rumah. Ikke menyediakan satu kamar untuk anaknya, Siti Adira Kinaya, dan satu lagi kamar tamu. Ia membangun ruang dua lantai di samping rumah untuk kantor manajemen.

Selain kamar tidur, Ikke paling suka berlama-lama di ruang tengah yang menyatu dengan dapur dan ruang makan. Di sofa ruang tengah, Ikke betah menonton televisi atau mendengarkan lagu India yang menjadi musik favoritnya.

Walaupun tanpa pendingin udara, ruang tengah ini selalu sejuk. Angin menerobos masuk dari halaman belakang lewat pintu kaca yang selalu terbuka. ”Aku pengin simpel. Konsepnya seperti apartemen,” tambah Ikke.

Di meja sudut ruang tengah, Ikke meletakkan beberapa suvenir dari penggemar. Sebuah foto menampilkan Ikke muda dengan rambut ikal sedang menyanyi di Lumajang. Foto seukuran kartu pos yang dibubuhi nama dan tanda tangan pengirimnya itu diambil tahun 1980-an.

Ia juga menyimpan suvenir lain yang kebanyakan berupa boneka. ”Sampai sekarang banyak yang ngirim boneka. Padahal, aku sudah tidak remaja,” kata Ikke tertawa.

Sebelum pindah ke rumah itu, Ikke sempat beberapa kali pindah rumah. Ia lahir dan besar di Pademangan sebelum pindah ke Cakung dan Cibubur. Ia juga sempat tinggal di Ciganjur.

Lantai bolong

Di Pademangan, biduan bernama asli Hartini Erpi Nurjanah ini mulai berkenalan dengan dangdut. Ia tumbuh di keluarga yang hobi menyanyi. Ibunya penyuka pop, sedangkan ayahnya pencinta lagu Melayu Deli.

Saat kecil, Ikke sudah sering tampil menyanyi di sekitar rumah yang berdekatan dengan Pantai Ancol itu. Ia paling senang menyanyikan lagu ”Bunga Dahlia” yang dipopulerkan Ida Laila. Tetangganya yang seorang pemandu bakat langsung mengajak Ikke rekaman.

Di bangku kelas I SMP, Ikke sudah rekaman dengan Mus Mulyadi. Mereka berduet menyanyikan lagu ”Semangkok Bersama Sesendok Berdua” (1987). Kala itu, dalam setahun, Ikke bisa meluncurkan dua hingga tiga lagu.

Di panggung, Ikke hanya menyapa penggemarnya dengan ucapan, ”Halo, selamat siang, lagu pertama....” Ia kemudian banyak belajar tentang cara penguasaan panggung ketika menyanyi bersama pedangdut senior seperti Evie Tamala.

”Mentalku belum siap ketemu masyarakat dangdut yang kadang nakal banget. Enggak kuat mentalnya. Belum bisa merekrut mereka dengan bahasa komunikasi saya,” ujar Ikke.

Dulu, Ikke harus pintar menyesuaikan kostum ketika tampil di panggung yang lantainya bolong-bolong. Ada saja yang nonton dari kolong panggung. Ikke pun harus menghadapi pencinta dangdut yang mabuk dan melontarkan omongan kasar.

Kini, dangdut bagi Ikke menjadi jalan hidup. Ikke bertekad, goyang dangdut tak harus erotis, pakaian penyanyi dangdut harus sopan, dan dangdut harus menjadi milik semua kalangan. ”Penonton butuh kedekatan. Bukan jarak,” kata Ikke.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau