Itu pendapat pribadi Prandelli yang dilontarkan dalam wawancara dengan televisi RaiSport di Zurich, Swiss, Jumat (1/6), atau persis sepekan menjelang kick off Piala Eropa 2012. Prandelli dan tim Italia berada di Zurich untuk menjalani uji coba melawan Rusia, yang dijadwalkan hari itu atau Sabtu dini hari WIB.
”Jika Anda katakan kepada kami, demi kebaikan sepak bola tim nasional (Italia) seharusnya tidak tampil di Piala Eropa, hal itu bukan masalah bagi saya. Ada hal-hal lain yang saya anggap lebih penting,” kata Prandelli.
”Saya hanya ingin bicara soal sepak bola. Namun, melihat apa yang terjadi, kami bisa tidak tampil. Terkait pemain, kami akan terus menyatakan bahwa mereka yang terlibat (dalam skandal dugaan pengaturan skor) tidak akan berangkat ke Piala Eropa.”
Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tidak pernah—dan kemungkinan tidak akan—menyarankan Italia untuk mundur dari Piala Eropa 2012. Pernyataan Prandelli lebih semacam ungkapan kegundahannya pada kondisi sepak bola negerinya.
Italia tidak henti-hentinya diguncang skandal suap dan pengaturan skor. Ironisnya, berbagai skandal itu seperti menjadi sumber pemicu semangat pemainnya saat tampil untuk timnas di ajang-ajang besar. Ketika mereka menjuarai Piala Dunia 1982 dan 2006, sepak bola negeri itu juga diguncang skandal tersebut.
Kini, menjelang Piala Eropa —ajang yang baru sekali dimenangi tim ”Azzurri”—skandal serupa mencuat lagi. Skandal ini diinvestigasi polisi Italia yang telah menangkap 14 orang. Bek klub Zenit St Petersburg, Domenico Criscito, dicoret dari tim nasional setelah diperiksa polisi di markas timnas.
Selasa lalu, Perdana Menteri Italia Mario Monti mengusulkan agar sepak bola Italia dibekukan dua atau tiga tahun. Polisi juga memeriksa rekening bank kiper andalan Italia, Gianluigi Buffon, karena dituding memasang taruhan judi dengan uang banyak. Tudingan itu disangkal Buffon.
Pelatihnya di Juventus, Antonio Conte, juga resmi diberi tahu polisi bahwa dia juga akan diperiksa terkait posisinya saat melatih Siena musim 2010-2011. ”Buffon sangat kuat, dia punya kepribadian hebat. Para pemain Juventus, sebelum terbukti, belum akan menjalani pemeriksaan,” kata Prandelli.
Di tengah guncangan skandal yang sama, akankah Italia mengulang sukses di Piala Dunia 1982 dan 2006? Di Piala Eropa kali ini, pasukan Prandelli bersaing dengan juara bertahan Spanyol, Kroasia, dan Irlandia di Grup C. Mereka tampil meyakinkan dengan tidak terkalahkan pada babak kualifikasi, tetapi minim uji coba jelang turnamen bergulir.
Mereka batal beruji coba melawan Luksemburg, Selasa (29/5), karena gempa di Italia utara. Uji coba melawan Rusia, Sabtu dini hari WIB, adalah satu-satunya pemanasan mereka sebelum tampil perdana lawan Spanyol di Gdansk pada 10 Juni.
Bukan hanya Prandelli yang gundah, Pelatih Inggris Roy Hodgson juga harus memeras otak mengatasi problem krisis gelandang tengah pascacedera Gareth Barry dan Frank Lampard. Dua gelandang andalan itu secara berurutan cedera perut dan paha. Barry digantikan bek Phil Jagielka, sementara Lampard bakal digantikan Jordan Henderson setelah mendapat lampu hijau UEFA.
Situasi semakin pelik bagi Inggris setelah kondisi gelandang Scott Parker juga meragukan, karena menjalani perawatan gangguan Achilles. Namun, hal itu ditepis Hodgson. ”Dia (Parker) bisa tampil (dalam uji coba lawan Belgia, Sabtu ini). Saat kami lawan Perancis nanti, para pemain bakal dalam kondisi fisik yang bagus,” katanya.
Inggris bakal menjamu Belgia di Wembley pada Sabtu ini. Ini uji coba terakhir mereka sebelum bertolak ke markas tim Inggris di Krakow, Polandia, 6 Juni. Selain Inggris, beberapa tim tancap gas menuntaskan uji coba terakhir mereka:
Belanda vs Irlandia Utara, Portugal vs Turki, Denmark vs Australia, Polandia vs Andorra, dan Kroasia vs Norwegia.
Tim favorit Jerman telah menyelesaikan uji coba dengan memukul Israel 2-0 di Leipzig, Kamis (31/5) atau Jumat dini hari WIB. Dua gol dicetak Mario Gomez dan Andre Schuerrle. ”Jelas belum semuanya berjalan bagus. Kami seharusnya mencetak lebih banyak gol, tetapi kemenangan itu bagus bagi kami,” kata Joachim Loew, Pelatih Jerman.
Perancis juga mulai menemukan bentuk permainan saat memukul Serbia 2-0 di Reims, Perancis. Dua gol itu diceploskan Franck Ribery dan Florent Malouda. ”Kami lebih bagus secara fisik, tetapi kami belum siap. Kami masih kesulitan 15 menit terakhir,” ujar Laurent Blanc, Pelatih Perancis.