Kegundahan Cesare Prandelli

Kompas.com - 02/06/2012, 03:08 WIB

ROMA, JUMAT - Saat tim-tim besar Piala Eropa 2012 lainnya tancap gas menjalani uji coba terakhir, Pelatih Italia Cesare Prandelli melontarkan pernyataan mengejutkan. Italia, kata Prandelli, siap dicoret dari Piala Eropa 2012 terkait skandal dugaan pengaturan skor yang merusak reputasi Italia jika hal itu dimaksudkan demi kebaikan sepak bola.

Itu pendapat pribadi Prandelli yang dilontarkan dalam wawancara dengan televisi RaiSport di Zurich, Swiss, Jumat (1/6), atau persis sepekan menjelang kick off Piala Eropa 2012. Prandelli dan tim Italia berada di Zurich untuk menjalani uji coba melawan Rusia, yang dijadwalkan hari itu atau Sabtu dini hari WIB.

”Jika Anda katakan kepada kami, demi kebaikan sepak bola tim nasional (Italia) seharusnya tidak tampil di Piala Eropa, hal itu bukan masalah bagi saya. Ada hal-hal lain yang saya anggap lebih penting,” kata Prandelli.

”Saya hanya ingin bicara soal sepak bola. Namun, melihat apa yang terjadi, kami bisa tidak tampil. Terkait pemain, kami akan terus menyatakan bahwa mereka yang terlibat (dalam skandal dugaan pengaturan skor) tidak akan berangkat ke Piala Eropa.”

Asosiasi Sepak Bola Eropa (UEFA) dan Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) tidak pernah—dan kemungkinan tidak akan—menyarankan Italia untuk mundur dari Piala Eropa 2012. Pernyataan Prandelli lebih semacam ungkapan kegundahannya pada kondisi sepak bola negerinya.

Italia tidak henti-hentinya diguncang skandal suap dan pengaturan skor. Ironisnya, berbagai skandal itu seperti menjadi sumber pemicu semangat pemainnya saat tampil untuk timnas di ajang-ajang besar. Ketika mereka menjuarai Piala Dunia 1982 dan 2006, sepak bola negeri itu juga diguncang skandal tersebut.

Kini, menjelang Piala Eropa —ajang yang baru sekali dimenangi tim ”Azzurri”—skandal serupa mencuat lagi. Skandal ini diinvestigasi polisi Italia yang telah menangkap 14 orang. Bek klub Zenit St Petersburg, Domenico Criscito, dicoret dari tim nasional setelah diperiksa polisi di markas timnas.

Selasa lalu, Perdana Menteri Italia Mario Monti mengusulkan agar sepak bola Italia dibekukan dua atau tiga tahun. Polisi juga memeriksa rekening bank kiper andalan Italia, Gianluigi Buffon, karena dituding memasang taruhan judi dengan uang banyak. Tudingan itu disangkal Buffon.

Pelatihnya di Juventus, Antonio Conte, juga resmi diberi tahu polisi bahwa dia juga akan diperiksa terkait posisinya saat melatih Siena musim 2010-2011. ”Buffon sangat kuat, dia punya kepribadian hebat. Para pemain Juventus, sebelum terbukti, belum akan menjalani pemeriksaan,” kata Prandelli.

Di tengah guncangan skandal yang sama, akankah Italia mengulang sukses di Piala Dunia 1982 dan 2006? Di Piala Eropa kali ini, pasukan Prandelli bersaing dengan juara bertahan Spanyol, Kroasia, dan Irlandia di Grup C. Mereka tampil meyakinkan dengan tidak terkalahkan pada babak kualifikasi, tetapi minim uji coba jelang turnamen bergulir.

Mereka batal beruji coba melawan Luksemburg, Selasa (29/5), karena gempa di Italia utara. Uji coba melawan Rusia, Sabtu dini hari WIB, adalah satu-satunya pemanasan mereka sebelum tampil perdana lawan Spanyol di Gdansk pada 10 Juni.

Inggris krisis gelandang

Bukan hanya Prandelli yang gundah, Pelatih Inggris Roy Hodgson juga harus memeras otak mengatasi problem krisis gelandang tengah pascacedera Gareth Barry dan Frank Lampard. Dua gelandang andalan itu secara berurutan cedera perut dan paha. Barry digantikan bek Phil Jagielka, sementara Lampard bakal digantikan Jordan Henderson setelah mendapat lampu hijau UEFA.

Situasi semakin pelik bagi Inggris setelah kondisi gelandang Scott Parker juga meragukan, karena menjalani perawatan gangguan Achilles. Namun, hal itu ditepis Hodgson. ”Dia (Parker) bisa tampil (dalam uji coba lawan Belgia, Sabtu ini). Saat kami lawan Perancis nanti, para pemain bakal dalam kondisi fisik yang bagus,” katanya.

Inggris bakal menjamu Belgia di Wembley pada Sabtu ini. Ini uji coba terakhir mereka sebelum bertolak ke markas tim Inggris di Krakow, Polandia, 6 Juni. Selain Inggris, beberapa tim tancap gas menuntaskan uji coba terakhir mereka:

Belanda vs Irlandia Utara, Portugal vs Turki, Denmark vs Australia, Polandia vs Andorra, dan Kroasia vs Norwegia.

Tim favorit Jerman telah menyelesaikan uji coba dengan memukul Israel 2-0 di Leipzig, Kamis (31/5) atau Jumat dini hari WIB. Dua gol dicetak Mario Gomez dan Andre Schuerrle. ”Jelas belum semuanya berjalan bagus. Kami seharusnya mencetak lebih banyak gol, tetapi kemenangan itu bagus bagi kami,” kata Joachim Loew, Pelatih Jerman.

Perancis juga mulai menemukan bentuk permainan saat memukul Serbia 2-0 di Reims, Perancis. Dua gol itu diceploskan Franck Ribery dan Florent Malouda. ”Kami lebih bagus secara fisik, tetapi kami belum siap. Kami masih kesulitan 15 menit terakhir,” ujar Laurent Blanc, Pelatih Perancis. (AP/AFP/REUTERS/SAM)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau