Dan Oscar Dimenangi Pakistan dan Iran

Kompas.com - 03/06/2012, 03:32 WIB

A Rachim Latif

Pada bulan Maret silam, pengumuman Academy Awards yang berhadiah Oscar telah diselenggarakan dengan sukses. Kalimat keramat ”Dan pemenangnya adalah...” telah mengiringi para pemenang, termasuk penobatan film terbaik The Artist.

Selepas pengumuman Oscar yang telah memasuki tahun ke-84 ini, saya sebagai importir/distributor film pergi ke India dan Pakistan dengan suatu keyakinan bahwa banyak perfilman di negeri Asia telah menunjukkan perkembangan yang pesat. Setidaknya ada empat hal yang mendukung keyakinan ini.

Pertama, saham 51 persen dari bisnis hiburan milik Steven Spielberg telah dimiliki oleh konglomerat India yang bernama Anil Ambani. Kedua, sungguhpun perfilman China belum sehebat perfilman India, pertumbuhan bioskopnya sungguh mengagumkan. Tiada hari tanpa pembangunan bioskop dan dewasa ini jumlahnya telah mencapai 9.500 layar. Ketiga, film dokumenter terbaik versi Oscar telah diraih oleh wanita sineas Pakistan. Keempat, film A Separation dari Iran telah memetik Oscar untuk kategori film asing terbaik. A Separation yang disutradarai Asghar Farhadi telah saya negosiasikan dengan Asghar selaku produsernya dan menurut rencana akan saya edarkan di perbioskopan Indonesia sekitar pertengahan tahun ini.

Siapakah yang tidak mengenal Steven Spielberg? Ia adalah sutradara kondang Hollywood yang telah menghasilkan film-film yang bagus dan meledak (antara lain Jaws, ET, Jurassic Park, Schindler’s List) dan juga seorang raksasa bisnis film dengan Dream Works Studios-nya. Namun, mengapa 51 persen saham perusahaannya itu jatuh ke tangan seorang konglomerat India? Menurut banyak analisis, potensi film-film Hollywood di Asia sungguh fenomenal. Sekurang-kurangnya setengah jumlah penduduk Bumi memang ada di Asia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa potensi penonton film di Asia sungguh menggiurkan bagi para mogul Hollywood.

RRC yang berhaluan sosialis itu pun merasakan pengaruh ”serbuan” film Hollywood ke Asia. Dengan pertambahan bioskop yang signifikan, perfilman China telah tumbuh menjadi suatu home industry, yaitu dapat memenuhi selera masyarakat penonton di dalam negeri. Maka, setiap tahun China cukup mengimpor 20 judul film asing. Belakangan berkat negosiasi-negosiasi Amerika-China, bertambah 14 judul film Hollywood yang dimasukkan dengan catatan sebatas film-film berformat 3D dan Imax. Artinya, China yang terkenal dengan sineas-sineas tangguh dan film-film yang dapat menerobos ke pasaran film Amerika itu tetap punya harga diri berdasarkan kemampuan industri film domestiknya.

 

Dulu Pakistan adalah bagian dari India lalu memerdekakan diri sebagai sebuah negara Islam. Sebenarnya selama ini perfilman Pakistan tidak terlampau menonjol di arena internasional. Muncul wanita sineas bernama Sharmeen Obaid-Chinoy yang dengan berani dan lugas membuat film dokumenter yang berjudul Saving Face. Film dokumenter ini menokohkan seorang dokter ahli bedah kulit yang menjadi saksi atas kekerasan-kekerasan dalam rumah tangga di Pakistan. Ternyata begitu banyak wanita Pakistan di balik cadar mereka yang rapat menyimpan luka-luka yang memedihkan sebagai akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh suami mereka.

Sharmeen (33) melakukan semacam kampanye anti-kekerasan terhadap wanita, apa pun latar belakangnya. Filmnya tidak hanya memberikan kepada para tokoh dokumenternya simpati dan pengertian, tetapi jauh lebih penting adalah kehormatan. Saving Face menunjukkan Pakistan yang sedang berubah, yaitu orang kebanyakan dapat menuntut haknya dan dalam masyarakat yang terpinggirkan dapat dicari keadilan. Pendeknya terasa pahit, tetapi menggugah.

Iran adalah juga negeri Islam dengan film-film yang lebih berkualitas, termasuk memenangi berbagai hadiah festival internasional dan beberapa kali masuk unggulan kategori film asing versi Oscar. Namun, baru kali ini Oscar benar-benar diraih lewat A Separation. Film produksi independen Asghar Farhadi (40) yang sekaligus produser-sutradara-penulis skenario ini berlatar Iran kontemporer lewat kehidupan sepasang suami istri.

Yang menarik, film ini menampilkan adegan-adegan keseharian dan memunculkan kiasan suatu ”perpisahan” antara Iran sebagai negara modern dan aturan-aturan yang berdasarkan hukum Islam yang ketat. Ada suatu ”revolusi” diam-diam antara masalah kejujuran dari karakter-karakter yang dilingkungi oleh aturan-aturan dan dogma-dogma agama.

Saya membaca banyak kritik yang memuji film dari sutradara yang telah dipenjarakan oleh Pemerintah Iran itu. Kehendak Simin untuk berpisah dengan Nader adalah demi masa depan, sungguhpun ia masih cinta kepada suaminya. Demikian pula Nader juga tidak bisa begitu saja meninggalkan ayahnya demi pengabdian sebagai anak. Sementara sang pengasuh nekat bekerja secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang suami agar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya yang miskin. Semua itu dihadapkan dengan hukum Islam yang antara lain tidak membolehkan seorang wanita bekerja di rumah seorang pria tanpa kehadiran istrinya.

 

Sekembali ke Tanah Air, saya dihadapkan pada kenyataan kondisi perfilman Indonesia sekarang. Ada peringatan bulan film nasional yang berpuncak pada hari film nasional 30 Maret. Tetapi, acara tersebut ”berlalu begitu saja”. Terdengar rencana untuk peluncuran restorasi film Usmar Ismail yang berjudul Lewat Jam Malam (1953), yang masih hitam-putih. Namun, di tengah keprihatinan pengelolaan Sinematek Indonesia, ide restorasi itu ternyata adalah inisiatif dan dananya dari luar negeri.

Kini perfilman Indonesia berada di bawah dua kementerian, yaitu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Saya menjadi bertanya-tanya, apakah status di bawah dua kementerian ini akan serta-merta mengangkat derajat perfilman nasional. Saya pesimistis hal itu tidak akan cepat terwujud mengingat ”perjuangan” orang-orang film kita dibandingkan dengan kegigihan orang-orang yang telah saya ceritakan, baik di India, Pakistan, maupun Iran.

Sekali lagi China masih memiliki kehormatan dengan menaikkan jumlah film impor Amerika tanpa merugikan roda industri film mereka. Di Indonesia cengkeraman film-film Hollywood makin kuat dan itu dikuatkan oleh perkembangan terakhir bahwa bioskop harus membeli peralatan khusus untuk dapat memutar film-film Amerika di sini. Belum lagi semakin sedikit film nasional yang meledak sehingga dapat ”mendorong” para investor ataupun produser membuat film-film yang berkualitas, katakanlah seperti film A Separation di Iran.

Konglomerat India, Anil Ambani, menghadiri upacara penyerahan Oscar dan menerima penyambutan karpet merah atas terobosan bisnisnya untuk membeli saham perusahaan Spielberg. Dalam majalah Time baru-baru ini (volume 179, nomor 17/2012), sutradara Iran, Asghar Farhadi, dan sutradara Pakistan, Sharmeen Obaid-Chinoy, masuk ke dalam ”100 orang paling berpengaruh di dunia”, yang di dalamnya, termasuk Hillary Clinton, Viola Davis, Barack Obama. Saya semakin terenyak: perjuangan macam apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh orang-orang film-film Indonesia?

A Rachim Latif, Importir/Distributor Film

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau