Kegamangan Terus Melanda

Kompas.com - 05/06/2012, 03:04 WIB

Tokyo, Senin - Bursa saham, pasar uang, dan bursa berjangka terus dilanda kegamangan. Indeks harga saham dan kurs mata uang mengalami kejatuhan di seantero dunia pada hari Senin (4/6). Sumber keprihatinan utama masih seputar krisis utang zona euro, yang tidak kunjung terselesaikan.

Dari Tokyo diberitakan kurs yuan meningkat terhadap euro. Kurs satu euro anjlok dari 97,01 yuan menjadi 96,94 yuan. Di pasar valuta Tokyo, kurs euro terhadap dollar AS juga anjlok menjadi 1,2402 dollar AS, dari 1,2423 dollar AS per satu euro.

Kurs yen dan dollar AS anjlok karena keprihatinan pada keadaan di Yunani, Spanyol, dan juga Irlandia, yang terus-menerus dihadapkan pada masalah kehabisan dana untuk menggerakkan perekonomian. Para investor terus berlarian dari zona euro. Hal yang memperburuk keadaan adalah berita soal ekonomi Amerika Serikat yang tidak menggembirakan.

”Pasar sungguh gugup,” kata Minori Uchida, analis senior dari Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ. Jepang juga kesulitan dengan penguatan kurs yen karena kekhawatiran akan keadaan ekonomi yang memburuk di zona euro.

Jepang selalu gelisah setiap kali terjadi penguatan atau apresiasi yen terhadap euro dan dollar AS. ”Apresiasi yen tidak menggambarkan fondasi ekonomi yang sebenarnya,” kata Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda, di Tokyo.

Portugal juga menunjukkan keadaan yang tidak menggembirakan. Negara yang sudah mendapatkan dana talangan dari Dana Moneter Internasional (IMF), Uni Eropa, dan Bank Sentral Eropa (ECB) ini tak juga menunjukkan perbaikan. Portugal diberitakan terpaksa kembali menyuntikkan dana sebesar 6,65 miliar euro, setara 8,2 miliar dollar AS, ke bank swasta BCP dan BPI, bank milik Pemerintah Portugal, CGD.

Keadaan runyam di zona euro kini juga mulai mengimbas Rusia. Zona euro memiliki kedekatan ekonomi dengan Rusia. Kejatuhan ekonomi zona euro turut memengaruhi prospek ekonomi Rusia. Kurs rubel juga turut mengalami kejatuhan.

Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev, Sabtu (2/6), telah meminta Bank Sentral Rusia melakukan intervensi agar kejatuhan rubel tidak berlanjut. Pada tahun 2008, kurs rubel juga turut terpukul menyusul krisis ekonomi di AS.

Harga minyak jatuh

Krisis ekonomi di zona euro juga turut menyebabkan kelanjutan kejatuhan harga minyak. Dalam perdagangan di Singapura, Senin, harga minyak jenis Brent North Sea turun menjadi 96,70 dollar AS per barrel. Harga minyak jenis West Texas Intermediate juga anjlok menjadi 81,64 dollar AS per barrel.

Kejatuhan harga minyak merupakan kabar gembira bagi negara-negara importir minyak. Akan tetapi, hal itu merupakan refleksi kelemahan ekonomi, yang juga melemahkan permintaan terhadap bahan bakar minyak.

”Pasar energi juga mengalami kemerosotan akibat kelesuan ekonomi di AS dan Eropa,” kata Justin Harper, ahli pasar komoditas dari IG Markets Singapore.

Kelesuan ekonomi diperparah oleh kondisi yang tidak kunjung beres. Pembicaraan tentang potensi keluarnya Yunani dari euro tetap marak. Menteri Keuangan Perancis Pierre Moscovici, Minggu (3/6), dalam beberapa pekan terakhir tetap mendukung posisi Yunani di zona euro.

Namun, pada hari Minggu Moscovici malah menyuarakan kepasrahan bahwa Yunani kemungkinan bisa saja keluar dari zona euro jika tidak mau mendisiplinkan perekonomian, antara lain dengan mengurangi pengeluaran pemerintah. Adalah defisit yang terakumulasi secara tahunan yang menyebabkan Yunani dibelenggu utang dan kini pada posisi tidak mampu lagi melanjutkan pembayaran bunga dan cicilan utang.

Para pemimpin dunia, khususnya zona euro, telah berkali-kali bertemu untuk membahas cara mengatasi krisis zona euro. Namun, sejauh ini sama sekali belum ada titik cerah soal solusi krisis.(REUTERS/AP/AFP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau