Alasan Corby Sakit, Seharusnya Tak Jadi Pertimbangan Grasi

Kompas.com - 07/06/2012, 21:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Gerakan Nasional Anti Madat  menyayangkan salah satu pertimbangan dalam pemberian grasi terhadap Schapelle Leigh Corby karena ia sering sakit-sakitan di penjara. Pertimbangan ini berasal dari Mahkamah Agung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Nyatanya, kan, tidak sakit? Alasannya bukan karena alasan hukum. Kalaupun alasan kemanusiaan juga tidak, karena nyatanya dia juga tidak sakit-sakitan. Kalau memang mau fair, ada orang yang sudah lumpuh malahan di LP atau rutan. Bagaimana itu," kata Ketua Gerakan Nasional Anti Madat (Granat) Henry Yosodiningrat di Pengadilan Tata Usaha Negara, Jakarta Timur, Kamis (7/6/2012).

Mahkamah Agung telah memberikan pertimbangan hukum kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum Presiden memberikan grasi kepada terpidana kasus narkotika, Corby. Dalam pertimbangannya itu, MA mengusulkan agar hukuman pidana Corby dikurangi lima tahun atau sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi Denpasar sebelumya. Salah satu pertimbangan MA adalah alasan kemanusiaan.

Corby, menurut data di LP Kerobokan, Bali, yang diterima MA, sering sakit-sakitan selama di penjara. "Ini kebijkaan yang melukai rasa keadilan masyarakat dan bertentangan dengan semangat perjuangan bangsa untuk melawan kejahatan narkotika," tutur Henry.

Hal senada juga diungkapkan  anggota Dewan Penasihat Granat, Fahmi Idris. Menurut dia, pertimbangan dari MA dan Menteri Hukum dan HAM belum tentu  benar adanya. Pertimbangan itu tidak berdasarkan rasa keadilan pada masyarakat Indonesia. "Presiden sudah berupaya, tetapi kalau pertimbangannya keliru bagaimana? Bukan berarti di MA, lalu Menteri Hukum dan HAM terus otomatis benar, kan," tutur Fahmi.

Meski menyayangkan pertimbangan ini, kata Fahmi, pihaknya tetap akan melanjutkan gugatan terhadap keppres soal grasi Corby ataupun Grobmann asal Jerman. Ia pun optimistis Granat akan memenangi gugatan. "Kalau ini Yusril (Yusril Ihza Mahendra) menang lagi, berarti ini yang ketujuh kalinya dia menang, karena sudah enam perkara yang dia menangi selama ini," tutur Fahmi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau