DENPASAR, KOMPAS.com--Sekitar 250 mahasiswa dan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar ikut memperkuat pementasan kolosal "oratorium Purusada Santha" untuk pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV di panggung terbuka Ardha Candra Taman Budaya Denpasar.
"Pementasan berdurasi 60 menit itu dilakukan Minggu malam (10/6), dipersiapkan sekitar satu bulan, tanpa mengganggu proses ujian akhir mahasiswa di lembaga pendidikan tinggi seni tersebut," kata Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha di Denpasar, Jumat.
PKB tersebut akan disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Ia mengatakan, persiapan dilakukan dalam dua kelompok, yakni menyangkut tari yang melibatkan mahasiswa Jurusan Tari dan Jurusan Kerawitan Fakultas Seni Pertunjukkan.
Latihan gabungan mahasiswa dan dosen kedua jurusan itu baru dilakukan sepuluh hari terakhir setelah mahasiswa selesai mengikuti ujian akhir, sehingga persiapan memeriahkan PKB itu sama sekali tidak mengganggu proses belajar mengajar.
Arya Sugiartha yang juga ketua seksi pawai budaya PKB itu menambahkan, persiapan pentas sudah mencapai 100 persen dan gladi bersih akan dilakukan Jumat malam (8/6).
Sendratari "Purusada Santha" yang diangkat dari Kekawin Sutasoma itu menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika adalah sasanti Negara Indonesia yang telah menyalakan api kesadaran masyarakat sebagai sebuah bangsa yang dirajut dari keberagaman.
Cerita dimulai pada abad ke-14, zaman kejayaan Majapahit dinasti Maharaja Raja Sanegara atau Hayam Wuruk. Buah ikrar Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada berhasil mengukuhkan mozaik nusantara.
Untuk merekat keragaman wilayah taklukan Majapahit itu, Raja Hayam Wuruk menitahkan pujangga keraton, Mpu Tantular, menggubah karya sastra yang bermuatan kedamaian dan cinta kasih.
Mpu Tantular mempersembahkan karya ciptanya sebuah puisi lirik berjudul "Purusada" yang bertutur tentang seorang pangeran bernama Sutasoma yang memerangi kekerasan dan permusuhan dengan kebeningan nurani dan persahabatan.
Sasanti bhinneka tungga ika pada awal larik "tan hana dharma mangrwa" dalam bait kakawin karya Tantular yang bermakna "berbeda-beda namun tetap satu jua". Pada era republik, ini sebuah anugerah kemajemukan dalam kesetaraan.
Tiga babak
Arya Sugiarta menjelaskan, pementasan selama satu jam itu dibagi dalam tiga babak, yakni babak pertama mengisahkan puncak kejayaan zaman Majapahit pada pemerintahan maharaja Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang mendapat dukungan penuh dedikasi oleh mahapatih Amangkubumi Gajah Mada.
Namun keberagaman nusantara yang dicanangkan Gajah Mada lewat ikrar Sumpah Palapa-nya dirasakan oleh Hayam Wuruk memerlukan perekat persatuan. Pujangga kerajaan, Empu Tantular, kemudian mengisahkan kepada sang maharaja tentang seorang pangeran Sutasoma yang memperjuangkan perdamaian tentang cinta kasih.
Para prajurit Wilwatikta perjalanan Hayam Wuruk dan Prapanca (Budaya Nusantara) Empu Tantular bercerita kepada Hayam Wuruk (mengisahkan cerita Sutasoma).
Babak kedua mengisahkan seorang pangeran Hastina yang bernama Sutasoma, putra raja Sri Mahaketu itu tidak mau hidup dalam gemilang kemewahan keraton melainkan memilih menjadi pertapa di hutan untuk mencari kehidupan sejati.
Setelah meperoleh anugerah dewata, dengan penuh kasih, Sutasoma berhasil menundukkan kebuasan gajah, naga, dan macan. Sementara itu, Purusada, seorang raja raksasa, mencari Sutasoma untuk dipersembahkan kepada Betara Kala. Sutasoma tak melawan dan menyerahkan dirinya dengan ikhlas.
Dewa Siwa yang menitis dalam tubuh Purusada terpesona dengan ketulusan Sutasoma. Batara Kala juga terharu dan membatalkan niatnya memangsa Sutasoma. Purusada sadar dan insaf (purusadasantha) akan kezalimannya dan berguru pada Sutasoma, Sang Budha.
Sutasoma roman dengan Candrawati, adik dasabah, datang dasabahu bahwa Purusada datang untuk menyerang Astina Dasabahu diutus untuk memerangi Purusada.
Perang pasukan Dasabahu dengan Purusada. Perang Sutasoma dengan Purusada Sutasoma diserahkan kepada dewa Kala (perang antara Sutasoma dengan Dewa Kala) Sutasoma ditelan oleh Naga, membuat Dewa Kala menjadi sadar Purusada, Dewa Kala berguru kepada Sutasoma.
Babak ketiga kisah Sutasoma yang digubah menjadi kakawin oleh Mpu Tantular itu, inti sarinya kemudian dipakai lambang persatuan Negara Indonesia. Sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang terbentang di kaki Burung Garuda dipetik dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait kelima.
Kisah penuh kasih Sutasoma dan kandungan rasa toleransi keberagaman Bhinneka Tunggal Ika itu, dalam masyarakat Indonesia yang berbangsa, berbahasa, dan bertanah air satu, diimplementasikan dalam ekspresi budaya dan ungkapan damai jagat seni, ujar Arya Sugiartha.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang