Kiat Jokowi Menjembatani Kemajemukan Jakarta

Kompas.com - 10/06/2012, 23:05 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam beberapa kesempatan debat antarcalon gubernur, kemampuan Joko Widodo memimpin Jakarta diragukan. Ia dianggap terbukti sukses sebatas saat memimpin kota dengan masyarakat yang relatif homogen, berbeda dengan Jakarta yang adalah megapolitan dengan nuansa kemajemukan sosial ekonomi yang sangat kental.

Dalam acara dialog dengan masyarakat Indonesia Timur di Bellagio Cafe, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (10/6/2012), cagub bernomor urut 3 ini mencoba meyakinkan kemampuannya dengan beberapa kiat untuk merawat pluralitas Jakarta.

Kunci pertama dalam menangani kemajemukan masyarakat Jakarta adalah keterlibatan sosial secara langsung dari sang pemimpin.

"Ada yang namanya intervensi sosial, ada yang namanya pendekatan kelompok, ada yang namanya pendekatan individu. Kalau itu dilakukan pemimpinnya sendiri, pasti bisa ditangani (kemajemukan)," papar Jokowi.

Semua kelompok dan lapisan masyarakat harus mendapatkan kesempatan untuk berdekatan secara langsung dengan pemimpinnya. Kemajemukan akan sulit dirawat manakala pemimpin hanya sekadar menunggu laporan dari belakang meja. Sementara itu, pendekatan ke masyarakat hanya dilakukan oleh para staf atau bawahan.

Kunci sukses kepemimpinan, imbuh Jokowi, adalah bertemu dan menangkap secara langsung. "Jangan hanya percayakan semuanya kepada bawahan. Pemimpinnya harus mau turun ke bawah, melakukan pendekatan kelompok. Kalau itu sudah selesai, lakukan pendekatan individu. Hanya itu ilmunya," sambung Walikota Terbaik Indonesia Tahun 2011 ini.

Tidak hanya kondisi sosio-kultural warga Jakarta yang beraneka ragam. Latar belakang ekonomi warga pun bervariasi bahkan terkesan jomplang akibat gap kaya-miskin yang jelas terlihat.

"Jakarta jangan hanya dilihat di sininya (Mega Kuningan) aja, atau di Thamrin, dan Sudirman. Lihat juga di Marunda, Cilincing, Kampung Ambon. Ada suasana yang jomplang," kata Jokowi menggambarkan kondisi perekonomian warga Jakarta.

Kondisi ekonomi yang bervariasi, menurut Jokowi, bisa ditangani melalui manajemen sistem yang tepat. Semua warga harus bisa mengakses sistem tersebut dengan cara dan kesempatan yang sama. Jokowi menyebutkan Kartu Kesehatan Jakarta, salah satu programnya, sebagai contoh.

"Siapa pun warga, kaya maupun miskin bisa terlayani dengan cara yang sama dan dalam bentuk layanan yang sama," kata Jokowi menjelaskan programnya di bidang kesehatan.

Salah satu cara untuk mengatasi gap kaya-miskin adalah melalui kebijakan alokasi anggaran. Menurut mantan eksportir produk mebel itu anggaran harus lebih difokuskan pada mereka dan kawasan yang masih tertinggal. Sementara itu, mereka yang tergolong berada bisa difasilitasi dalam hal keleluasaan berusaha dan berkreasi.

"Anggaran sebagian besar harus ditujukan ke sana (kelompok/kawasan miskin), harus diberikan kepada yang tidak mampu. Kalau yang gede-gede diberikan ruang. Mereka sudah bisa mengembangkan ekonomi sendiri," ujar pasangan Basuki Tjahaja Purnama itu.

Apa yang dinyatakan Jokowi terwujud juga dalam kesehariannya, sebagaimana terlihat dalam berbagai kesempatan perjumpaannya dengan warga. Pendekatan dialogis menjadi prioritasnya.

Demikian pula kontak personal dengan masyarakat. Saat tiba di ruang pertemuan, yang pertama kali dilakukan Jokowi adalah menyalami satu per satu ratusan warga Indonesia Timur yang menghadiri acara tersebut. Pendekatan kelompok dan personal diyakini bisa diterapkan di mana saja dan menentukan kesuksesan seorang pemimpin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau