Anak-anak Suriah Dijadikan Tameng Hidup

Kompas.com - 12/06/2012, 12:42 WIB

Sebuah laporan PBB mengungkap bahwa pasukan pemerintah Suriah kerap menggunakan anak-anak sebagai perisai hidup di dalam pertempuran melawan pasukan oposisi.

Beberapa anak-anak mengatakan mereka dipaksa menaiki tank untuk menghentikan serangan yang dilancarkan oposisi.

Utusan khusus PBB untuk anak-anak dan konflik bersenjata Radhika Coomaraswary kepada BBC mengatakan tim yang dipimpinnya kembali dari Suriah membawa laproan mengerikan.

Radhika mengatakan dia tak pernah melihat situasi konflik di mana nyawa anak-anak tidak diselamatkan bahkan ikut menjadi target sasaran pembunuhan.

"Banyak bekas tentara mengatakan mereka menembaki kawasan permukiman sipil melihat anak-anak dibunuh dan disiksa," kata Radhika.

"Kami juga mendengar pengakuan beberapa anak yang mengatakan mereka dinaikkan ke atas tank dan digunakan sebagai tameng hidup sehingga tank itu tidak ditembaki," tambah dia.

Selain pasukan pemerintah, Radhika menambahkan pasukan oposisi juga ditengarai membahayakan nyawa anak-anak.

"Pada awalnya kami dengar Pasukan Pembebasan Suriah merekrut anak-anak untuk tugas-tugas kesehatan dan bantuan lainnya namun mereka berada di garis depan," papar Radhika.

Terkejut

Radhika Coomaraswary mengatakan sangat terkejut dengan penderitaan anak-anak Suriah yang terjebak di tengah pertempuran.

Di banyak daerah konflik, sering ditemukan kasus tewasnya anak-anak di kawasan rawan tembak menembak. Namun yang terjadi di Suriah sudah sangat melewati batas.

"Penyiksaan anak-anak dalam tahanan bahkan yang berusia di bawah 10 tahun, sudah sangat keterlaluan. Kondisi ini tak kami temukan di daerah konflik lain," kata Radhika.

Dalam laporan tahunan anak-anak dan konflik bersenjata memasukkan laporan soal serangan di desa Ayn l'Arouz di Provinsi Idlib pada 9 Maret 2012.

Laporan itu mengutip sejumlah saksi mata yang mengatakan pasukan pemerintah dan milisi bersenjata mengambil anak-anak dengan paksa dari rumah mereka.

Mereka kemudian ditempatkan di jendela depan bus pengangkut pasukan yang menyerang desa itu.

Anak-anak lain mengaku mereka dipukuli, mata mereka ditutup, dicambuk menggunakan kabel listrik, disundut rokok dan bahkan disetrum saat diinterogasi.

Saat ini PBB memiliki pasukan pengamat untuk memastikan Suriah menjalankan gencatan senjata dan rencana damai yang ditawarkan PBB dan Liga Arab.

Namun sejauh ini gencatan senjata tak kunjung terjadi bahkan pembantaian warga sipil terus terjadi di sejumlah kota di Suriah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau