PPNUI Membelot ke Foke, Tim Alex-Nono Santai

Kompas.com - 13/06/2012, 20:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI) memutuskan mengalihkan dukungannya kepada pasangan cagub-cawagub DKI, Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli.

Padahal, saat pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta sebelumnya, partai ini menyatakan dukungannya untuk kandidat Alex Noerdin-Nono Sampono.

Terkait penarikan dukungan dari PPNUI itu, tim pemenangan Alex-Nono mengaku tak mempermasalahkannya.

Anggota tim sukses Alex-Nono dari Partai Golkar, Fatahillah Ramli, mengatakan PPNUI bersama 14 partai kecil lainnya sebenarnya sudah meneken kontrak politik untuk mendukung pasangan nomor urut 6 itu.

Namun, entah mengapa tiba-tiba tim Alex-Nono dikagetkan dengan berita soal penarikan dukungan PPNUI.

"Tidak ada komunikasi apa-apa. Kami tahunya dari media," ucap Fatah, Rabu (13/6/2012), saat dijumpai di posko pemenangan Alex-Nono, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat.

Kendati sama sekali tidak diberitahukan, Fatah menyatakan pihaknya tak akan mempermasalahkan sikap yang diambil PPNUI. Pasalnya, Fatah yakin suara dukungan kepada Alex-Nono tidak akan berpengaruh dengan perginya PPNUI.

"Tidak masalah. Kalau PPNUI tidak ada, paling hanya menghilangkan 10-12 suara konstituen. Kalau dia merasa sudah besar, harusnya dia masuk partai di parlemen, tapi ini kan tidak," ucap Fatah.

Mantan tim sukses Jusuf Kalla saat Pilpres tahun 2009 itu pun menuding PPNUI tidak cermat melihat momentum. Menurutnya, jika PPNUI ingin menjadi partai besar seharusnya dia bergabung dengan tim Alex-Nono yang disebutnya akan memenangi pertarungan Pilkada.

"Mereka sepertinya hanya punya mental relawan, bukan mental tim sukses. Mental relawan itu hanya sekadarnya yang bisa, tapi mental tim sukses harus menang," imbuh Fatah.

Sebelumnya, Ketua DPW PPNUI DKI Jakarta, Zawawi Suat, mengatakan pihaknya tidak pernah memberikan dukungan pada Alex Noerdin dan Nono Sampono.

Ia juga menambahkan bahwa setelah rapat pleno terkait dukungan kandidat calon gubernur pada 5 April lalu, partainya bulat mendukung pasangan Foke-Nara.

"Jadi saat itu ada konflik internal yang harus diselesaikan. Setelah ada islah, baru ditentukan dukungan ini," kata Zawawi.

Ia mengungkapkan saat itu PPNUI memiliki dua Ketua Umum, yaitu Andi William dan Yusuf Humaidi. Dukungan pada pasangan Alex-Nono ini diberikan oleh Saeful Rizal yang merupakan Sekretaris Jenderal PPNUI di bawah Yusuf Humaidi pada saat dualisme kepemimpinan.

"Penetapan itu tidak sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga," kata Zawawi.

Namun, kedua ketua umum tersebut kemudian melakukan islah dengan putusan Ketua Umum dijabat oleh Yusuf Umaidi dan Sekretaris Jenderal dijabat Andi William berdasarkan surat Kementerian Hukum dan HAM.

Lantaran hal ini, dukungan untuk Alex Noerdin dan Nono Sampono dianggap tidak sah. Saat ini, PPNUI telah mengirimkan surat penarikan dukungan pada Alex Noerdin dan Nono Sampono kepada KPU Provinsi DKI Jakarta.

Bahkan, ia menegaskan bahwa sejak 2007 sampai sekarang, PPNUI sudah mendukung Fauzi Bowo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau