Gaya Liburan yang Melatih Anak Percaya Diri

Kompas.com - 15/06/2012, 19:05 WIB

SINGAPURA, KOMPAS.com - Orangtua bisa memanfaatkan momen liburan untuk mengasah kepercayaan diri anak. Jika Anda sudah merencanakan melakukan perjalanan bersama keluarga untuk mengisi liburan, Anda bisa mengajarkan anak-anak percaya diri untuk mandiri.

Salah satu pilihan caranya, ajak anak Anda melakukan perjalanan secara mandiri, tanpa bantuan orangtua, namun tetap dengan pengawasan dan pendampingan orang dewasa. Inilah yang ditawarkan Garuda Indonesia melalui kegiatan Superkids Trip to Singapore, berlangsung 15-17 Juni 2012. Sebanyak lima anak usia 3-14 mengikuti kegiatan ini.

Anak-anak Superkids ini di antaranya Yudhisira Purwadi (6) kakak dari Rayyan Purwadi (3), Prana Arivianza (8), Ghinina Ramia Putri Rumahorbo (7) yang melakukan perjalanan bersama sang kakak Grace Ajeng Nuria Rumahorbo (14).

"Kegiatan ini ingin mengajak anak minimal usia delapan untuk mendapatkan pengalaman melakukan perjalanan tanpa harus selalu bersama orangtua, namun tetap dengan pendampingan orang dewasa," jelas Sakti Prameswari, Marketing Communication Coordinator PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., kepada Kompas Female, di sela tur wisata di Jurong Bird Park, Singapura, bersama para peserta Superkids, Jumat (15/6/2012) lalu.

Ghia dan Grace kompak melakukan perjalanan ini. Keduanya tiba di Singapura tanpa ditemani orangtuanya. Meskipun selang beberapa jam, kedua orangtuanya datang menyusul keduanya.

Begitu pun dengan Anqi Zaliani (16) yang mengikuti tur mendampingi adik satu-satunya Prana. Kakak beradik berjarak usia delapan tahun ini tak kalah kompaknya. Keduanya asyik mengikuti tur di hari pertama, tanpa orangtua.

Meski begitu, anak-anak yang melakukan perjalanan ke Singapura ini didampingi orang dewasa dari pihak penyelenggara.

Lain lagi dengan Yudhi dan Rayyan, kakak beradik yang masih belia ini mau tak mau harus ditemani ayah ibunya. Meski begitu, keduanya juga mengikuti aturan main tur ini, yakni anak-anak melakukan check-in sendiri, boarding, begitu pun saat melapor di imigrasi pada bandara. Baik Yudhi dan Rayyan percaya diri melakukan perjalanan, dengan melakukan sejumlah tahapan tanpa bantuan orangtua baik saat keberangkatan dari bandara Soekarno Hatta Jakarta juga kedatangan di Changi, Singapura.
flickr-2
Anak-anak pun antusias dengan perjalanan mandiri mereka. Seperti Ghia yang tak hentinya bertanya, kepada kakak juga orang dewasa yang ditemuinya.

"Nanti masuk ke ruang tunggu lewat E2 ya, Tante. No kursi Ghia berapa? Ini nomor pesawatnya ya?" tanya Ghia mencari jawaban atas keingintahuannya setelah selesai check-in di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Tentunya, Ghia mendapatkan jawaban atas setiap pertanyaannya itu.

Lain lagi dengan Prana. Ia sempat tak mengerti ketika petugas saat check-in bertanya padanya, "Ada bagasi?" Prana menjawab "Tidak," Namun setelahnya ia bertanya-tanya, "Tadi sempat bingung pas ditanya bagasi," tuturnya sederhana.
flickr-4
Sembari menunggu waktu boarding, anak-anak peserta tur Superkids ini pun mendapatkan suguhan dongeng dan sulap di ruang tunggu. Kali ini, si kecil Rayyan yang antusias mengikuti permainan pesulap. Ia pun terhibur karenanya, dengan melepas tawa lebih keras dari kakak juga teman barunya di Superkids, juga ingin tahu di balik sulap yang diperagakan agar anak-anak tak bosan menunggu.

Saat waktu memasuki pesawat tiba, satu per satu anak-anak memasuki pesawat, tanpa bantuan orangtuanya. Mereka pun mulai mencari nomor kursi yang tertera pada tiket boarding pass. Rayyan yang pertama kali menemukan kursi, dan asik sendiri memasang pengaman pada kursinya.
flickr-5
"Ini pertama kalinya keluarga berlibur ke luar negeri. Biasanya perjalanan dengan pesawat kami lakukan saat liburan lebaran ke rumah eyangnya anak-anak. Kegiatan seperti ini bisa menambah kepercayaan diri anak, jadi tidak sebentar-sebentar minta tolong bundanya," tutur Wiwik Budihardjanti, ibu Yudhi dan Rayyan, kepada Kompas Female.

Melalui perjalanan yang mengajari anak mandiri, bagi Wiwik, anak-anaknya pun bisa belajar bertanggung jawab atas dirinya.  Sementara mengenai pilihannya mengikuti kegiatan Superkids untuk mengisi liburan sekolah, Wiwik menjelaskan, "Harganya termasuk tidak mahal karena sudah termasuk trip, tiket pesawat, dan hotel. Ini mempermudah karena tidak harus mencari dan booking hotel untuk liburan," ungkapnya.

Sementara bagi Sri Soelianti, ibu Prana dan Anqi, kegiatan semacam ini lebih berguna untuk menumbuhkan keberanian anak. Meski keluarganya bukan untuk kali pertama bepergian dan berlibur dengan pesawat, namun ini merupakan pengalaman pertama bagi Prana untuk melakukan perjalanan tanpa bergantung pada ayah ibunya.

"Perjalanan ke luar negeri itu biasanya lebih panik, apa yang mau diurus, di bawa, dan lainnya. Dengan anak-anak yang bisa membantu mengurus check-in sendiri, boarding, itu cukup membantu. Tapi sebenarnya ini lebih kepada melatih keberanian anak, selain juga pengalaman baru bagi karena biasanya semua diurus orangtua. Semoga saja pengalaman ini bisa membantu Prana kalau sewaktu-waktu ia harus melewati hal seperti ini ke depannya," tutup Sri.

Anda tentu bisa mengadopsi gaya liburan ini, dengan versi sendiri. Misalnya, mengganti tujuan wisata atau model transportasinya. Prinsipnya, liburan sekolah juga semestinya memberikan pembelajaran bagi anak untuk menguatkan karakternya, dengan pengalaman baru yang berkesan dan akan selalu terekam sepanjang hidupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau