Teroka

Kembalinya "Bujangga Manik"

Kompas.com - 18/06/2012, 02:23 WIB

ATEP KURNIA

Alkisah, terjadi pencurian karya bangsa Indonesia oleh perantau Inggris di negeri ini, akhir abad ke-16. Ia pulang ke negerinya awal abad ke-17, membawa dua naskah kuno dari Jawa Barat. Dialah Richard James. Bisa jadi ia ikut ekspedisi penjelajah Inggris ke Nusantara (1579-1611). Bisa jadi juga ikut berlayar Sir Francis Drake (1580) ke Pulau Jawa; atau Sir Thomas Cavendish (1587); atau ikut Sir James Lancaster (1601) ke Banten. Saat itu, mungkin ia memperoleh naskah.

Kedua naskah, Rasacarita dan Bujangga Manik, diserahkan Andrew James (kakak Richard) ke Perpustakaan Bodleian, Oxford, Inggris, tahun 1627. Adik bungsu Andrew, Thomas James (1574-1629), pustakawan pertama Perpustakaan Bodleian.

Pengelana Pakuan

Sekian ratus tahun lewat, J Noorduyn (1926-1994), filolog Belanda, mengingatkan lagi pada salah satu naskah, Bujangga Manik. Tahun 1968, sebagai Sekjen KITLV, memungkinkannya menelusuri jejak-jejak naskah Sunda kuno ke luar negerinya.

Penemuan naskah Bujangga Manik menarik dan banyak hal dipetik darinya. Mungkin itu alasan J Noorduyn memilih menjadi fokus kajian. Naskah tentang pangeran pengelana dari Istana Pakuan, Kerajaan Sunda, yang dua kali berkunjung ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan ke Bali awal abad ke-16—sebelum runtuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511)— merupakan teks multidimensi.

Dari sisi geografi, naskah ini merinci ratusan nama daerah, gunung, dan sungai yang dilewati tokoh bernama Bujangga Manik atau Perebu Jaya Pakuan atau Ameng Layaran saat menjelajah Pulau Jawa dan Bali. Dari sisi sejarah menarik, meski tak langsung, penuturan Bujangga Manik, di antaranya berhubungan dengan Majapahit yang belum pindah ibu kotanya dan Malaka sebelum dikuasai Portugis.

Dari sisi literasi menarik. Bisa jadi model, bagaimana orang Sunda, khususnya yang terpengaruh agama Hindu dan Buddha, awal abad ke-16, menuntut ilmu.

Saat pergi dari Istana Pakuan, Bujangga Manik menyandang tas berisi buku, ”Saa(ng)geus nyaur sakitu/dicokot ka(m)pek karancang/dieusian apus ageung/dihurun deung siksa guru/....” Kutipan itu mengisyaratkan kepemilikan buku. Saat itu, buku keistimewaan kaum agamawan, bangsawan, dan cendekiawan. Bujangga Manik, kombinasi bangsawan dan agamawan. Pangeran itu meninggalkan istana dan berziarah ke tempat suci di Jawa dan Bali.

Membaca nyaring

Di antara bahan/media, yang digunakan bahan tulis untuk golongan atau naskah keagamaan adalah nipah, ditulis dengan tinta hitam, berbentuk prosa liris, dan berbahasa Kawi. Adapun naskah lontar yang bukan untuk alat tulis di kabuyutan, ditulis dengan cara digores pisau pangot (pengutik), berbentuk puisi, dan berbahasa Sunda kuno, juga Kawi.

Cara baca paling mungkin saat itu adalah membaca nyaring. Ini penegasannya pada naskah Kisah Putra Rama dan Rawana. Ada adegan ketika sang pendeta yang dititipi anak Sita sedang membaca buku, ”…tucap aki Hayam Canggong/eukeur ngayun-ngayun boncah/t(e)her maca Watang Ageung/Ruana to(ng)goy milangan.”

Kata-katanya dianggit bersajak, berirama. Merdu di telinga. Itulah yang diisyaratkan membaca nyaring. Membaca saat itu, meski bisa sendiri, umumnya dilakukan bersama-sama. Seseorang membaca lantang, yang lain mendengarkan dengan khidmat.

Saat itu, di skriptorium Eropa, tempat penulisan dan penyimpanan naskah, berlangsung kebiasaan membaca nyaring. Membaca dalam hati berkembang setelah pendeta Irlandia membuat tanda baca pada abad ke-10.

Naskah Bujangga Manik, termasuk Kisah Putra Rama dan Rawana yang diteliti A Teeuw dan J Noorduyn (Three Old Sundanese Poems, 2006), mengetengahkan satu fase literasi yang telah dan mungkin masih berlangsung di kalangan orang Sunda, khususnya: menulis naskah dan membaca nyaring. Juga fase ketika lembaga penjaga ilmu pengetahuan, dalam hal ini kabuyutan, memainkan peran layaknya perpustakaan kini.

 ATEP KURNIA Peneliti Literasi di Pusat Studi Sunda

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau