2 Siswi Korban Perkosaan Tinggalkan Kampung Halaman

Kompas.com - 18/06/2012, 06:43 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com — Diduga tak kuat menahan gunjingan para tetangga dan warga kampung, dua siswi berprestasi di Kecamatan Duampanua Pinrang, Sulawesi Selatan, yang diduga menjadi korban perkosaan oleh kepala sekolahnya sendiri memilih meninggalkan kampung halamannya.

Korban diduga takut dan taruma pascakejadian itu. Orangtua bingung mencari lantaran korban meninggalkan rumah waktu subuh tanpa sepengetahuan keluarga.

Sementara puluhan keluarga korban yang emosi menanggapi pengaduan kedua korban langsung mendatangi rumah sang kepala sekolah. Namun, mereka kecewa karena tak menemukan pelaku yang diduga sudah meninggalkan rumahnya sebelum warga datang.

M, salah satu korban yang berhasil ditemui lewat perantaraan warga, mengaku memilih menyendiri pascakejadian agar bisa tenang. M diduga trauma mendapat perlakuan tak senonoh oleh guru yang juga tokoh yang dikaguminya sendiri.

Belakangan M baru tahu ternyata bukan dirinya saja yang menjadi korban. Mw, teman sekelasnya, bahkan lebih parah karena diduga mendapat perlakuan tak senonoh di kamar mandi sang kepala sekolah.

Seperti pengakuan M, dirinya mengalami perbuatan tak senonoh saat meminta tanda tangan kepala sekolah. Tiba-tiba saja Muhammad Aras, sang kepala sekolah, meminta salah satu tangan korban.

M yang tak menaruh curiga terhadap pelaku langsung menjulurkan tangannya. Korban tak menyangka tiba-tiba ditarik dan terjatuh di pangkuan pelaku. Saat pelaku memelut erat korban itulah mulai melakukan tindakan tak senonoh.

"Saya dipeluk dengan sekuat tenaga hingga sulit melepaskan diri, bagian-bagian sensitif tubuh saya dijamah meski saya melawan," ujar M, yang mengaku baru tahu jika ada sejumlah teman lain juga mengalami perlakuan tak senonoh setelah M curhat ke sejumlah temannya.

Belakangan, Mw juga yang terkenal sebagai siswi pendiam di sekolahnya ini menjadi korban. Mw diduga mengalami perlakuan lebih parah hingga shock dan taruma pascakejadian.

Hamida, ibu kandung Mw, korban perkosaan lainnya yang mengadu ke kantor Polsek setempat, mengaku sangat menyesalkan kejadian yang justru diduga dilakukan oleh gurunya sendiri.

Hamida seolah tak percaya anaknya tiba-tiba membuat pengakuan mengejutkan. Setelah mengurung diri di kamar dua hari pascakejadian, Rabu (13/6/2012) lalu di sekolahnya, Mw menuturkan kepada kedua orangtua dan neneknya jika dirinya telah menjadi korban perkosaan oleh MA, yang tak lain adalah kepala sekolah korban sendiri.

Hamida tak hanya gundah memikirkan nasib dan masa depan anaknya yang diduga menjadi korban perkosaan oleh orang yang selama ini dipercaya sebagai guru dan keluarganya sendiri.

Hamida juga makin bingung lantaran Mw, yang baru saja tamat SMP di Kecamatan Duampanua Pinrang ini menghilang entah ke mana. Korban mengaku kepada keluarga terpaksa meninggalkan rumah dan keluarganya lantaran trauma dan takut.

Keberatan dengan ulah sang kepala sekolah tersebut, Hamida dan suaminya langsung melaporkan kasus ini ke polsek setempat. "Kami bingung, karena Mw kabur dari rumah sejak pagi tadi. Ia meninggalkan kampung halaman ke tempat lain karena ingin mencari ketenangan," ungkap Hamida, menuturkan pengakuan anaknya via ponsel.

Keluarga korban tak berhasil menemukan MA, sang kepala sekolah yang diduga telah melakukan perbuatan tak senonoh. MA diduga telah meninggalkan rumahnya bersama istri dan anak-anaknya sebelum warga mendatangi rumahnya.

Saat ini kasus tersebut telah ditangani petugas Polsek Duampanua Pinrang. Kapolsek Duampanua AKP Abdul Kadir menyatakan, pelaku MA telah diamankan di Mapolres Pinrang. "Pelaku sudah diamankan, kini dia sedang menjalani pemeriksaan," kata Abdul Kadir.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau