Upacara Adat Labuhan Merapi Digelar Lagi

Kompas.com - 19/06/2012, 01:41 WIB

SLEMAN, KOMPAS.com--Upacara adat "Labuhan Merapi" yang merupakan kegiatan budaya tahunan kerabat "Kraton Ngayogyakarta" kembali akan digelar Rabu (20/6) dan Kamis (21/6) 2012 di lereng Gunung Merapi.

"Labuhan Merapi kali ini merupakan penyelenggaraan yang kedua kalinya semenjak erupsi besar 2010," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Untoro Budiharjo, Senin.

Menurut dia, pelaksanaan labuhan Merapi pada tahun 2012 ini masih diselenggarakan secara sederhana sebagaimana tahun 2011.

"Pelaksanaan Labuhan Merapi tahun ini masih dikemas secara sederhana seperti tahun kemarin, mengingat kondisi psikis dan sosial ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih semenjak terjadinya erupsi Merapi," katanya.

Kepala Bidang Peninggalan Budaya dan Nilai Tradisi Disbudpar Sleman Aji Wulantara menjelskan, rangkaian labuhan Merapi dimulai pada  20 Juni 2012 pukul 10.00 dengan penerimaan "uba rampe" (perlengkapan) labuhan dari Kraton Ngayogyakarta di Pendopo Kecamatan Cangkringan.

"Dilanjutkan dengan prosesi sederhana berupa serah terima ’uba rampe’ labuhan dari pihak kraton kepada juru kunci Merapi Mas Lurah Suraksosihono atau yang akrab dipanggil Pak Asih," katanya.

Selanjutnya pukul 12.30 WIB "uba rampe" labuhan yang terdiri atas sembilan macam yaitu Sinjang Kawung, Sinjang Kawung Kemplang, Desthar Daramuluk, Desthar Udaraga, Semekan Gadung Mlati, Semekan Gadung, Seswangen, Arta Tindih, dan Kampuh Paleng diarak ke hunian sementara korban Merapi di Dusun Plosokerep.

"Uba rampe tersebut kemudian di semayamkan di rumah Juru Kunci Gunung Merapi Mas Lurah Suraksosihono yakni putra Mas Ngabehi Suraksohargo atau Mbah Marijan, juru kunci Merapi sebelumnya," katanya.

Ia mengatakan, pada malam harinya mulai pukul 18.30 WIB bertempat di Mushola Pelemsari Huntara Plosokerep dilakukan kenduri wilujengan yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi yang diikuti sekitar 150 orang.

"Rombongan kemudian berarakan menuju Masjid Kinahrejo dan lokasi bekas rumah Mbah Maridjan untuk melakukan malam renungan dan doa yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi dan diikuti para abdi dalem Kraton dan warga Pelemsari," katanya.

Setelah rombongan kembali ke huntara Plosokerep pada pukul 22.00 hingga 24.00 WIB disajikan Uyon-Uyon oleh paguyuban kesenian Desa Umbulharjo dan dilanjutkan dengan pembacaan doa dan tahlil malam tirakatan yang dipimpin Juru Kunci Gunung Merapi dan para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta.

"Pada 21 Juni 2012 pukul 05.30 WIB dimulai perjalanan rombongan Labuhan Merapi yang dipimpin juru kunci Gunung Merapi menuju pertigaan Ngrangkah Umbulharjo Cangkringan menggunakan iring-iringan mobil dan motor. Dilanjutkan dengan perjalanan menuju Alas Bedengan sebagai lokasi Labuhan Merapi yang didahului dengan napak tilas di bekas rumah Mbah Maridjan," katanya.

Menurut dia, pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB dilakukan prosesi pelaksanaan Labuhan Merapi yang diikuti sekitar 1.000 orang yang terdiri atas para abdi dalem Kraton Ngayogyakarta, warga masyarakat Pelemsari dan pengunjung.

"Di lokasi alas Bedengan dipersembahkan doa dan uba rampe Labuhan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau