Restoran Jepang Legendaris di Pusat Kota Jakarta

Kompas.com - 19/06/2012, 07:41 WIB

KOMPAS.com — Berbicara tentang restoran Jepang di Jakarta, maka Shima Restaurant harus masuk dalam daftar teratas. Restoran fine dining ini menjadi salah satu restoran Jepang nan mewah pertama di Jakarta.

Usianya saja sudah 38 tahun. Ekspatriat Jepang sejak lama sudah menjadi langganan di restoran ini. Tak heran, restoran ini terutama di jam makan siang selalu dipenuhi tamu-tamu yang ingin menikmati kuliner Jepang yang autentik.

Tak hanya orang Jepang, orang lokal pun gemar mencicipi teppanyaki di tempat ini. Ya, teppanyaki menjadi menu andalan Shima Restaurant. Shima disebut-sebut sebagai restoran Jepang fine dining pertama di Jakarta yang menyajikan teppanyaki.

Pilih salah satu meja teppanyaki. Kursi-kursi tinggi berada di konter kompor teppan. Koki akan memasak secara langsung di atas kompor teppan, yaitu pelat besi lempeng yang sangat lebar. Sambil menunggu persiapan, bagaimana dengan memulai hidangan dengan sashimi khas restoran ini.

Executive Chef Kosaka Shingo dengan apik mengkreasikan wadah sashimi dari es. Dengan menggunakan balon, ia membuat mangkuk es. Sashimi diletakkan di dalam mangkuk es untuk menjaga kesegarannya.

Tak suka yang mentah, Anda bisa mencicipi tempura. Tepung tempura garing di luar berpadu dengan kelembutan daging udang. Wah, begitu pas. Sebelum menikmati hidangan teppanyaki, jangan lupa kenakan celemek khusus agar baju tetap bersih.

Teppanyaki merupakan cara memasak khas Jepang yang menggunakan plat besi sebagai wadah masak dan dibawah plat tersebut dipasangkan kompor. Pelat besi inilah yang disebut dengan teppan. Ibarat sebuah wajan berbentuk datar.

Segala bahan makanan dapat dimasakkan di atas teppan. Di Shima, ada beberapa menu paket teppanyaki. Namun, Anda sebaiknya mencoba mulai dari hidangan sayuran, hidangan daging, sampai hidangan penutup. Semuanya dimasak di atas teppan.

Mari mulai dengan aneka sayuran. Sebelumnya, pelayan telah menyiapkan aneka saus, seperti saus teppanyaki dan saus ponzu yang asam, serta saus dari kaldu ikan. Lalu brokoli dimasak ala teppanyaki, jamur, bawang bombay, dan tahu jepang yang kenyal.

Agar tak lengket, mentega sebagai bantuan memasak bahan. Mentega juga memberi aroma yang menggiurkan saat bahan-bahan mulai diaduk-aduk di atas teppan.

Walau dibumbui sederhana dengan garam dan merica, sentuhan mentega mampu membuat rasa sayur segar yang tetap garing begitu gurih. Pun tahu yang polos terasa enak. Tahu diberi sentuhan rumput laut menambah gurih dan tekstur semakin kaya.

Ok, mari berlanjut dengan seafood. Jepang yang merupakan negara kepulauan menjadikan masyarakatnya begitu fanatik dengan hidangan laut yang segar. Suara spatula bertemu pelat besi beradu menimbulkan sensasi orkestra menunggu masakan matang.

Ikan gindara dan lobster siap dimasak. Sentuhan mentega sedikit dan kembali mengeluarkan aroma laut bercampur dengan gurih mentega. Daging lobster dicuil dari cangkangnya dan dimasak. Saat penyajian, kembali daging dimasukkan dalam cangkang.

Lobster yang lembut dan terasa manis karena kesegarannya. Sementara ikan dimasak dengan bumbu ala Jepang. Lanjutkan dengan beef teppanyaki. Daging sapi dipotong dadu dengan ukuran kecil.

Lalu dimasak dengan kematangan setengah. Anda bisa pilih daging wagyu untuk mendapatkan sensasi daging lembut dan enak. Saking enaknya, hanya cukup dibumbui dengan garam merica, tanpa perlu dicocol dengan saus tersedia, rasanya sudah begitu melekat di lidah.

Seakan sari pati daging itu sendiri sudah menjadi bumbu bagi daging. Sebagai memudahkan memasak daging, koki menggunakan lemak dari daging sapi itu sendiri. Rasa daging pun makin berlipat-lipat ganda.

Jangan buru-buru meninggalkan kursi Anda. Saatnya menikmati hidangan penutup yang manis. Bagaimana kalau banana split? Tiga sendok es krim yang dipadukan dengan pisang. Tentu sebelum disajikan harus dimasak dulu ala teppanyaki.

Tunggu dulu, menggoreng es krim? Nah inilah aksi klimaks dari koki di belakang teppan. Pilih dulu es krim kesukaan Anda, bisa es krim rasa vanila, kacang merah, maupun teh hijau.

Aksi sesungguhnya pun dimulai. Pertama-tama, lampu dimatikan. Serupa dengan teknik ala banana flambe, bedanya ini dilakukan di atas teppan. Pisang digoreng dengan mentega, pun begitu dengan es krim. Kemudian, dituangkan alkohol di atasnya.

Bruushh! Lidah-lidah api menjulur ke atas, membakar pisang dan es krim. Di tengah kegelapan ruangan, api membara menerangi area teppan. Sebuah sensasi untuk mata.

Es krim tetap padat, sedikit meleleh, namun tetap lembut dinikmati. Aroma bakar tercium sesaat dari pisang. Sensasi manis es krim dan pisang, berkolaborasi gurih mentega. Tambahan atraksi flambe menawan. Ibarat adegan penutup yang benar-benar cantik. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau