"Yeah, Inggris Bisa Juara"

Kompas.com - 19/06/2012, 10:22 WIB

KOMPAS.com - Laga penutup Inggris, menghadapi Ukraina di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina, Rabu (20/6) dini hari WIB, akan menjadi pembuktian visi Pelatih ”Three Lions” Roy Hodgson.

Jika skenario imbang atau bahkan menang berjalan mulus, tim Inggris bakal terus ke perempat final. Cemoohan yang selama ini dialamatkan kepada Inggris bukan tak mungkin akan berakhir pujian.

Bahkan, jika Inggris kalah atas Ukraina, harapan mereka belum pupus sepenuhnya menyusul torehan sebelumnya ketika imbang melawan Perancis dan keunggulan atas Swedia. Memang skenario terakhir ini menjadi yang paling riskan karena harus bergantung pada hasil Perancis menghadapi Swedia.

Padahal, tidak seorang pun percaya Inggris bisa mengimbangi atau bahkan mengungguli lawan-lawan mereka di Piala Eropa 2012. Beragam faktor teknis dan nonteknis mengganggu persiapan Inggris. Sebut saja pencopotan ban kapten John Terry yang berbuntut mundurnya arsitek Fabio Capello.

Puncaknya tentu saja saat Roy Hodgson ditunjuk menggantikan Capello, Mei lalu. Mantan pelatih Liverpool itu dicibir karena publik lebih memercayai Harry Redknapp.

Akan tetapi, Hodgson rupanya melihat jauh ke depan dengan keyakinan. Pandangan yang bertentangan dengan keraguan orang soal Inggris dirumuskan Hodgson dalam kalimat sederhana: ”Yeah, Kita Bisa Juara”.

Ia meyakinkan, tidak perlu jadi tim unggulan untuk mencapai target itu. Semangat dalam tim dan momentum keberuntungan yang tepat, menurut Hodgson, jauh lebih penting daripada pemujaan suporter.

Sekitar satu bulan kemudian, visi itu perlahan berwujud. Terakhir ketika Inggris memecundangi Swedia 3-2 dalam laga tempo tinggi yang menguras emosi.

Momentum kebangkitan Inggris dalam laga itu terjadi setelah Hodgson memasukkan pemain sayap Arsenal, Theo Walcott, di menit ke-60 saat Inggris tertinggal 1-2. Tiga menit berselang, Walcott pun menyamakan kedudukan. Walcott pula yang mengumpan Daniel ”Danny” Welbeck sebelum striker Manchester United itu memastikan kemenangan Inggris.

Bagi Inggris, laga penutup penyisihan grup ini semestinya tidak lebih sulit dari dua laga pembuka. Apalagi, tukang gedor andalan dari Manchester United, Wayne Rooney, siap bermain setelah menjalani sanksi larangan bertanding. Penampilan Rooney akan menjadi obat rindu setelah Inggris tidak masuk kualifikasi Piala Eropa 2008.

Tekanan Rooney

Namun, bagi Rooney, laga menghadapi Ukraina bisa jadi tekanan tersendiri. Ia gagal menunjukkan performa terbaiknya pada Piala Dunia 2006 dan 2010. ”Dalam turnamen internasional, saya tidak pernah tampil cukup bagus,” kata Rooney. Gol terakhirnya dalam kejuaraan besar bagi ”The Three Lions” ialah saat tampil di Euro 2004.

Bahkan, ia tak berani menjanjikan penampilan terbaik dalam laga kali ini dan hanya berharap tidak melakukan kesalahan. Namun, Rooney sepakat dengan visi Hodgson soal para pemain Inggris kali ini. ”Saat ini saya merasa sebagai pemain dengan kemampuan yang lebih baik,” ujar Rooney.

Apalagi, striker temperamental itu sudah mulai menguasai emosinya setelah menendang bek Montenegro, Miodrag Dzudovic, dalam laga kualifikasi terakhir. Sekalipun Rooney tetap bersikeras tidak ada kesengajaan dari tindakannya itu.

Dalam laga Rabu dini hari WIB, Rooney kemungkinan dipasangkan dengan bomber Liverpool, Andy Carroll. Namun, bisa juga diduetkan dengan rekan seklubnya, Danny Welbeck. Apalagi, Rooney merasa sudah padu dengan Wellbeck.

”Saya rasa keunggulan terbesar Danny ialah terus berlari di lini pertahanan lawan, dia sangat cepat,” puji Rooney. Namun, di laga itu Theo Walcott bisa jadi disimpan menyusul kambuhnya cedera hamstring sayap Arsenal itu saat berlatih.

Dukungan suporter

Sementara tuan rumah Ukraina dihantui cedera lutut yang dialami kapten Andriy Shevchenko. Striker Dynamo Kiev berumur 35 tahun itu seperti kelelahan setelah memborong dua gol dalam laga pertama melawan Swedia.

Jika Shevchenko tampil di bawah performa terbaik, atau bahkan tidak dimainkan, duet Andriy Yarmolenko dan Evhen Konoplyanka yang biasa menyokong Shevchenko bakal sia-sia. Belum lagi kekalahan 0-2 saat menghadapi Perancis yang masih menyisakan trauma bagi para pemain dan suporter.

Padahal, hanya kemenangan yang bisa menyelamatkan Ukraina jika tidak ingin tersisih seperti tuan rumah lainnya, Polandia. Karena itulah dukungan suporter tuan rumah akan menjadi pemain ke-12 yang lebih menentukan di tengah minimnya motivasi

Wakil Perdana Menteri Ukraina Boris Kolesnikov bahkan meminta setiap jendela rumah warga Ukraina mesti dipasangi bendera kebangsaan. Ia mendesak warga Ukraina mendukung tim nasional dan memberikan tekanan kepada lawan. ”Tidak ada resep lain,” kata Boris.

Bagi penyerang Ukraina, Andriy Voronin, laga ini bakal jadi yang terakbar dalam sejarah persepakbolaan negaranya.

”Bagi kami, pertandingan ini sangat penting. Tidak hanya bagi tim, tetapi juga bagi seluruh negeri,” ujar bomber Dynamo Moskwa itu.

Hingga beberapa jam sebelum laga, Inggris masih di atas angin. Sejumlah prediksi memperkirakan keunggulan bagi ”The Three Lions” dengan selisih hingga dua gol.

Namun, Inggris tetap harus mengingat laga terakhir menghadapi Ukraina dalam kualifikasi Piala Dunia, 10 Oktober 2009. Kala itu, Inggris kalah 0-1. Apabila itu terjadi, cibiran tak akan berubah menjadi puja-puji. (INGKI RINALDI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau