Donetsk, Selasa - Wayne Rooney sudah kembali kepada khitah sebagai pencetak gol saat melesakkan gol tunggal ke gawang Ukraina di Donbass Arena, Donetsk, Ukraina, Selasa (19/6). Partai penutup Grup D yang berakhir 1-0 (0-0) itu membawa Inggris memuncaki klasemen dan bakal menghadapi Italia di perempat final. Bagi Inggris, hasil ini menepis keraguan publik menyusul banyaknya persoalan teknis dan nonteknis yang membelit.
Bagi Rooney, ini menjadi titik balik penampilannya yang cenderung selalu tidak secemerlang bersama Manchester United.
Adapun untuk Ukraina, hasil itu seperti mengukuhkan stigma betapa angkernya Donbass Arena bagi mereka. Sejauh ini, pasukan ”Synyo-Zhovti” yang diasuh Oleg Blokhin itu belum pernah mencicipi betapa nikmatnya kemenangan di stadion itu.
Pada laga itu, Roy Hodgson hanya menukar penyerang Liverpool Andy Carroll dengan Rooney. Selebihnya ia memainkan komposisi pemain yang sama ketika ”The Three Lions” menggebuk Swedia 3-2 pada Sabtu (16/6) lalu.
Keputusan ini berbuah manis setelah Rooney mencetak gol lewat sundulan pelan pada menit ke-48. Itu setelah serangkaian peluang yang gagal diubahnya jadi gol.
Kapten Inggris yang bermain untuk Liverpool Steven Gerrard menjadi otak di balik pembuktian Rooney. Ia mengirim umpan matang dari sisi kanan Inggris, melewati Danny Welbeck yang terlambat bereaksi sebelum Rooney menuntaskannya.
Adapun arsitek Oleg Blokhin membangkucadangkan penyerang Andriy Shevchenko dan Andriy Voronin. Sebagai ganti, ia memasang Artem Milevskiy dan Marco Devic sebagai tukang gedor.
Blokhin tidak keliru. Berulang kali duet striker yang merumput bagi Dynamo Kiev dan Metalist Kharkiv itu mendominasi serangan. Tentu selain agresivitas Andriy Yarmolenko sebagai penyokong utama serangan Ukraina.
Baru sembilan menit laga, Yarmolenko sudah melihat celah menganga di sisi tengah pertahanan Inggris. Tiga menit kemudian giliran Milevskiy dan Devic yang membuat Joe Hart menahan napas.
Lagi-lagi Yarmolenko membahayakan gawang Joe Hart setelah melewati Ashley Young pada menit ke-30. Sementara bagi Inggris, hingga saat itu permainan mereka dipenuhi kesalahan-kesalahan mendasar, seperti minimnya pergerakan dan kesalahan umpan.
Praktis hanya Steven Gerrard yang tampak tampil stabil dengan umpan-umpan ciamik-nya. Ia mengirim bola-bola matang bagi John Terry, Ashley Young, dan Rooney yang terus-menerus gagal diolah jadi keunggulan.
Setelah Rooney mencetak gol, permainan Inggris mulai membaik. Namun, Ukraina pun mulai meningkatkan eskalasi serangan.
Yarmolenko menjadi ancaman terbesar bagi punggawa barisan pertahanan ”The Three Lions”. Pada menit ke-61 Milevskiy lolos dari jebakan offside dan nyaris membuat stadion bergemuruh.
Kontroversi terjadi semenit kemudian ketika Joe Hart ditaklukkan Devic. Umpan matang yang diterima dari Milevskiy diubah jadi gedoran mengejutkan yang menundukkan Hart.
Namun, bola yang terlihat sudah melewati garis gawang dihalau John Terry. Wasit Viktor Kassai dari Hongaria bergeming.
Namun, kekecewaan Ukraina tak lama. Andriy Shevchenko masuk pada menit ke-70 menggantikan Devic. Ini menyusul masuknya Theo Walcott semenit sebelumnya menggantikan James Milner.
Masuknya Sheva menandai penampilan terakhir bekas bomber AC Milan dan Chelsea itu di pentas internasional membela Ukraina. Ia berencana tampil dalam pertandingan persahabatan untuk menandai secara resmi perannya bagi Ukraina.
Selama kariernya bagi timnas, striker berumur 35 tahun itu telah mencetak 48 gol dalam 111 kali penampilan.
Namun, Oleg kemudian menyadari lebih baik bertahan ketimbang bobol lebih banyak setelah mental tanding pemainnya rusak. Ia menarik keluar Milevskiy dan menukarnya dengan pemain bertahan Bohdan Butko pada menit ke-78.
Pelatih Inggris Roy Hodgson mengatakan, tim asuhannya memang beroleh keberuntungan dalam laga itu. Ia merujuk gol kontroversial Devic yang tidak disahkan wasit.
”Kami mendapatkan bagian keberuntungan kami. Tetapi, kami memang pantas mendapatkannya,” ujar Hodgson.
Ini seperti pembuktian visi Hodgson pada tim asuhannya. Jauh hari ia sudah mengatakan Inggris bisa jadi juara dengan semangat tim dan keberuntungan di saat tepat.
”Tidak ada yang percaya kepada kami pada mulanya. Namun, kami lalu mendapatkan momentum yang tepat,” ujar Gerrard. Ia mengatakan, kritik dan ketidakpercayan publik kepada ”The Three Lions” telah membantu para pemain untuk menunjukkan yang sebaliknya dengan menunjukkan permainan terbaik.
Namun, Gerrard sepakat bahwa penampilan Inggris dalam laga itu tidak cemerlang. ”Akan tetapi, kami tetap bersama sebagai tim dan menyelesaikan permainan serta menang 1-0 dari tim yang bagus,” ujarnya.
Arsitek ”Synyo-Zhovti” Oleg Blokhin tak bisa mengerti mengapa gol Devic pada menit ke-62 tak disahkan wasit yang menyaksikan dari dekat gol itu. ”Kami tidak cukup beruntung, tapi saya tidak merasa malu dengan penampilan tim,” katanya. (AP/AFP/Reuters/INK)