Kolom olahraga

Mario Balotelli

Kompas.com - 21/06/2012, 02:09 WIB

Anton Sanjoyo

Mario Balotelli adalah manusia unik, perpaduan antara aset dan beban. Dengan temperamen yang mudah meledak, dia sering membuat masalah. Namun, di sisi lain, bakatnya yang hebat kerap membuatnya menjadi game winner. Situasi ini selalu membuat pelatihnya dalam posisi sulit.

Saat Pelatih Italia Cesare Prandelli memasukkan nama Mario Balotelli ke dalam skuadnya, banyak rekan sejawatnya yang mengingatkan, dia akan mendapat banyak masalah. Namun, Prandelli bukan tipe orang yang suka menghindari masalah. Baginya, Balotelli adalah tantangan besar, bagian dari ambisi tertingginya sebagai manajer. ”Saya menerima tantangan ini. Mario sendiri sudah berjanji untuk menjaga perilakunya,” ujar Prandelli.

Bersama Balotelli, Prandelli yakin dirinya tidak sedang berjudi atau mempertaruhkan tim ”Azzurri” yang datang ke Euro 2012 dengan kembali dibayangi kasus suap. Dia tampaknya belajar dari pengalaman koleganya, Roberto Mancini, Pelatih Manchester City, klub tempat Balotelli bernaung.

Mancini pernah berada dalam situasi paling sulit di sepanjang kariernya ketika mengalami serentetan masalah nonteknis akibat ulah Balotelli (dan Carlos Tevez) menjelang usainya Liga Inggris. Namun, dengan pengalamannya yang hebat, Mancini bahkan sukses mendorong Balotelli dan Tevez tampil maksimal untuk mengantarkan ”The Citizen” kembali jadi juara Inggris setelah 46 tahun.

Jelas, bagi Mancini maupun Prandelli, Balotelli adalah aset meskipun potensinya menjadi beban juga besar. Mancini paham benar situasi ini sehingga dia lebih banyak melakukan pendekatan pribadi kepada Balotelli yang sering membuat ulah.

Seperti kata Mancini, sebagai pemain, Balotelli punya segalanya untuk jadi pemain hebat. Inteligensinya yang di atas rata-rata membuatnya mampu melakukan manuver-manuver brilian, mencetak gol dan membawa timnya menang. Namun, perilakunya memang cenderung merusak dirinya sendiri. Kartu merah adalah hukuman yang cukup sering dia terima. Kelakuannya di luar lapangan lebih merepotkan lagi. Pers Italia menjulukinya ”pembuat ulah nomor wahid”.

Pada suatu kesempatan, Mancini pernah berujar, menjadi manajer Balotelli adalah pengalaman luar biasa. Bukan sebagai pelatih sepak bola, melainkan sebagai manusia.

Balotelli, 21 tahun, dilahirkan di Palermo. Orangtuanya adalah imigran Ghana, Thomas Barwuah dan Rose. Sejak lahir, Balotelli punya masalah dengan usus dan pencernaannya yang membuatnya harus mengalami beberapa kali operasi. Biaya kesehatannya yang mahal memaksa orangtuanya menyerahkan Balotelli kecil kepada departemen sosial untuk dicarikan keluarga yang mampu mengurus dan membiayai perawatannya.

Pada usia tiga tahun, Mario kecil diserahkan kepada keluarga Francesco dan Silvia Balotelli melalui penetapan pengadilan Brescia. Francesco dan Silvia yang mengetahui bakat sepak bolanya mendukung penuh mimpi Balotelli untuk menjadi bintang lapangan hijau.

Ketika menginjak remaja dan mulai tenar setelah dikontrak klub elite Internazionale, orangtua kandungnya meminta kembali hak pengasuhan. Ini membuat Balotelli kecewa dan menuduh Thomas dan Rose mau ”memeluknya” kembali saat dirinya sudah tenar. Kekecewaan Balotelli bertambah karena Francesco dan Silvia ternyata tidak ingin mengadopsinya secara penuh. Ini membuat Balotelli baru bisa punya kewarganegaraan Italia saat berusia 18 tahun.

Dibesarkan sebagai anak ”adopsi” dan merasa dibuang oleh orangtua kandungnya tampaknya sangat memengaruhi kejiwaan Balotelli. Hubungannya yang tidak harmonis dengan kedua orangtua angkatnya membuat perilaku Balotelli makin liar dan kerap bertingkah seperti anak kecil yang ingin mendapat perhatian dari orang sekitarnya.

Sama seperti Mancini, Prandelli menyadari benar potensi sekaligus risiko keberadaan Balotelli di dalam tim. Namun sepertinya Prandelli lebih percaya pada potensi sehingga memberikan Balotelli dua kesempatan menjadi starter saat Italia menghadapi Spanyol dan Kroasia. Penampilannya tidak terlalu menonjol meski punya kontribusi besar dalam strategi menyerang ”Azzurri”.

Pada laga penentuan melawan Irlandia, posisi Balotelli digantikan Antonio Di Natale, pemain yang mencetak gol saat melawan Spanyol. Balotelli gelisah di bangku cadangan, dan bahasa tubuhnya menunjukkan kemarahan luar biasa kepada Prandelli. Menit ke-74, Balotelli masuk menggantikan Di Natale dan, menjelang peluit akhir, pemain yang juga dijuluki ”The Magician” ini membuat gol akrobatik menawan. Meski ditarik kostumnya oleh John O’Shea sehingga kehilangan keseimbangan, Balotelli tetap bisa melakukan tendangan salto untuk menaklukkan kiper Shay Given.

Begitu mencetak gol, Balotelli terlihat mengeluarkan kata-kata dengan urat leher menegang. Bek Leonardo Bonucci yang paling dekat dengannya langsung memeluk pundak dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membekap mulut Balotelli. Dalam pengakuan setelahnya, Bonucci mengatakan, tidak tahu persis apa yang dikatakan Balotelli karena diucapkan dalam bahasa Inggris.

Hingga kini apa yang dikatakan Balotelli masih misteri dan hanya dia sendiri serta Bonucci yang tahu. Tampaknya Bonucci melindungi Balotelli agar pemain temperamental itu tidak semakin liar mengumbar kata-kata kasar kepada Prandelli.

Prandelli tampaknya tahu Balotelli memaki dirinya, tetapi dia tidak menganggap hal itu sebagai masalah besar. Prandelli sejak awal sadar, menangani Balotelli adalah tantangan tersendiri. Impian suksesnya sebagai manusia, seperti kata Mancini. Barangkali, kalaupun Italia tak bisa jadi juara, Prandelli bisa dianggap sukses jika mampu mengendalikan ”si bengal” Balotelli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau