Polandia berusaha tetap tersenyum

Polandia Berusaha Tetap Tersenyum

Kompas.com - 21/06/2012, 02:17 WIB

Pesta sepak bola Eropa belum berakhir. Orang-orang Polandia dan para wisatawan tentu tidak berniat untuk melepas apa yang mereka alami untuk pertama kalinya. Tim nasional Polandia kalah di penyisihan Grup A. Hati mereka pasti berat dan hancur. Namun, negara itu masih menjadi tuan rumah Piala Eropa 2012, paling tidak untuk dua pekan ke depan.

Kepedihan itu berawal pada Sabtu (16/7) malam yang panas dan panjang ketika Polandia tereliminasi dari Grup A setelah ditekuk Ceko 0-1. Secara simultan, Rusia pun dijatuhkan Yunani dengan skor yang sama 0-1.

Tidak diduga, itu adalah seni dalam permainan ini. Ketika para pemain berlaga dengan semangat tinggi, pada saat yang sama mereka tidak dapat menduga apa yang mungkin terjadi dalam 90 menit di lapangan.

”Kami tahu setiap orang pasti sedih ketika harus pulang lebih awal. Kami ingin menunjukkan bahwa hasrat lebih penting daripada oksigen,” kata striker Yunani Giorgos Samaras mengacu pada kekacauan yang terjadi di negaranya.

Namun, jika hasrat adalah faktor penentu, Polandia pasti saat ini sudah berada di perempat final. Mereka adalah tuan rumah yang sangat bergairah menyambut Piala Eropa 2012. Yang jelas, Yunani memiliki kemampuan yang disandingkan dengan hasrat. Akan tetapi, Polandia memiliki kemampuan yang minim.

Seperti dilaporkan The New York Times, suasana di Warsawa tidak jauh berbeda sebelum tim nasional Polandia dikalahkan. Polisi dengan mudah ditemui di berbagai sudut kota untuk berjaga-jaga. Mereka mengantisipasi jangan sampai kerusuhan yang terjadi saat pertandingan Rusia melawan Polandia kembali terulang.

Sekitar 100.000 orang juga berdesakan di tengah kota di sekitar layar raksasa yang menyiarkan pertandingan secara langsung. Di lokasi lain, zona penggemar masih menjadi alasan bagi orang banyak untuk mendapat hiburan. Wisatawan dari sejumlah negara ada di mana-mana.

Kota tua Warsawa, yang diratakan selama Perang Dunia II dan dimusnahkan kaum Nazi Jerman, menunjukkan kebangkitannya. Kota itu telah dibangun kembali. Anak muda dan orang tua memenuhi kafe dan bar di sepanjang jalan-jalan sempit.

Komandan Pasukan AS Jenderal Dwight D Eisenhower yang berkunjung ke Warsawa setelah perang berakhir pada 1945 berkomentar, ”Saya melihat banyak kota diporakporandakan, tetapi belum pernah ada yang separah ini.”

Eisenhower mungkin tidak tahu banyak tentang sepak bola, tetapi laki-laki yang kemudian menjadi Presiden AS itu pasti akan mengapresiasi semangat kota itu untuk kembali berdiri dan pada kebersamaan di Sabtu malam.

Kita bisa melihat semangat itu masih ada walaupun rasa kecewa sempat memukul warga Polandia. Para biarawati pun ikut bergembira bersama orang-orang yang bergegas mencari tempat duduk di dekat televisi yang ditaruh di luar rumah. Pasangan penyanyi musik cadas mengendarai Harley-Davidson melalui jalanan berbatu dan bernyanyi untuk pesta sepak bola itu. Mereka menghibur polisi dan wisatawan asing.

”Polska! Polska! Polska!” masih diteriakkan saat pertandingan pada Sabtu lalu. Rambut dan wajah para suporter dicat warna merah dan putih.

Saat ini, walaupun tidak bisa mendukung tim kesayangan mereka lagi, orang-orang Polandia tetap berusaha tersenyum. Mereka masih menonton televisi, menerka-nerka siapa yang akan menjadi juara, dan menjadi tuan rumah yang baik. (UTI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau