Yovita Arika dan Aswin Rizal Harahap
Gempuran ribuan peluru meriam Belanda ke Benteng Somba Opu pada 1669 memang tak menyisakan bukti kejayaan Kerajaan Gowa waktu itu. Namun, sejatinya kehancuran benteng itu bukanlah bukti kekalahan Sultan Hasanuddin, melainkan simbol perlawanan mempertahankan harga diri, yang kini juga menjadi simbol harga diri rakyat Sulawesi Selatan.
Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1635-1670) berkecamuk Perang Makassar yang berakhir dengan hancurnya Benteng Somba Opu pada 24 Juni 1669. Belanda menghancurkan benteng tersebut karena Raja Gowa ke-16 tersebut tetap melawan meski sudah menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Isi perjanjian antara lain agar Sultan Hasanuddin memusnahkan benteng itu.
”Peristiwa hancurnya Benteng Somba Opu itu dijadikan hari lahirnya Sulawesi Selatan. Ini untuk mengambil spirit perlawanan luar biasa mempertahankan harga diri. Karena itu, ketika benteng tersebut direvitalisasi tahun 1998, bukan untuk dibangun utuh lagi, tetapi justru untuk memperlihatkan kehancurannya,” kata sejarawan dari Universitas Hasanuddin, Dr Andi Suriadi Mappangara, di Makassar, Sulawesi Selatan, awal Juni lalu.
Benteng pertahanan terakhir Sultan Hasanuddin tersebut memang tidak lagi menyerupai benteng. Dengan revitalisasi, sisa-sisa benteng berupa tembok benteng di sisi barat dan fondasi tembok benteng di sisi timur dan selatan tersebut dibenahi serta diupayakan tetap terpelihara agar tidak semakin hancur.
Untuk membantu masyarakat Sulawesi Selatan melihat sejarahnya, pemerintah provinsi setempat membangun sejumlah rumah adat Sulawsi Selatan di kompleks benteng. Taman Miniatur Sulawesi Selatan ini juga menjadi simbol bahwa dalam mempertahankan harga diri bangsa harus mengedepankan persatuan. Hal ini seperti dilakukan Sultan Hasanuddin yang merangkul raja-raja kecil di sekitar Kerajaan Gowa untuk menghadapi pasukan Belanda.
Semangat Sultan Hasanuddin itulah yang diharapkan dapat diwarisi masyarakat, terutama Sulawesi Selatan. Semangat rasa senasib sepenanggungan (siri’na pace) dan menegakkan harga diri bangsa (siri’na tanae) memang ada dalam budaya Bugis-Makassar, bahkan suku-suku lainnya di Sulawesi Selatan. Semangat itu juga ada pada diri para pemuda dan raja-raja di Sulawesi Selatan ketika mereka bersama-sama memperjuangkan dan mempertahankan NKRI.
Negara Indonesia Timur bentukan Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia (pada 27 Desember 1946) tidak dapat bertahan lama (bubar pada 17 Agustus 1950) juga karena mendapat perlawanan para pejuang Sulawesi Selatan. Tulisan terakhir Robert Wolter Monginsidi sebelum dihukum mati pada 5 September 1949, ”setia hingga terakhir di dalam keyakinan”, seolah menjadi pesan terakhirnya kepada generasi selanjutnya untuk tetap berjuang mempertahankan harga diri bangsa.
Kini, semangat para pahlawan tersebut tetap diupayakan ada, meski tak mudah dalam pelaksanaannya. Dalam hal kecil saja, semangat untuk menjaga Benteng Somba Opu menjadi milik bersama rakyat Sulawesi Selatan sulit terlaksana. Kebijakan otonomi daerah membuat semangat persatuan antardaerah tergerus kepentingan daerah masing-masing.
Dengan alasan memprioritaskan pembangunan di daerah masing-masing, daerah-daerah tidak mengalokasikan dana untuk pemeliharaan rumah adat daerah mereka, yang dibangun di kompleks Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa. Sementara, menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan M Syuaib Mallombasi, dana pemprov juga terbatas.
Menjadi wajar jika wisatawan yang datang ke Benteng Somba Opu tidak menemukan ”semangat Sultan Hasanuddin” di sana. Sangat kontras dengan patung Sultan Hasanuddin yang berdiri ”megah” di depan Bandara Sultan Hasanuddin. Bukan hanya sisa-sisa benteng yang terkesan dibiarkan begitu saja, benda-benda koleksi Museum Karaeng Pattingaloang di kompleks benteng tak cukup memberi penjelasan mengenai sejarah benteng ataupun semangat perlawanan Sultan Hasanuddin melawan pasukan Belanda.
Kondisi museum terlihat kurang terawat. Debu tebal menempel di rak-rak dan lemari kaca tempat penyimpanan benda-benda koleksi museum. Kertas-kertas yang bertuliskan nama dan keterangan benda-benda tersebut terlihat lusuh sehingga tulisan di kertas itu pun nyaris tak terbaca. Satu-satunya benda koleksi museum yang dapat memberi gambaran rupa benteng tersebut ketika masih utuh adalah gambar denah benteng pada 1938. Tidak ada penjelasan sejarah benteng.
”Kami sedang berupaya menghidupkan Benteng Somba Opu. Beberapa tahun benteng ini tidak ada pengelolanya, baru mulai 2010 pengelolaan benteng di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan. Dulu benteng ini dikelola Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Ketika era otonomi daerah diserahkan kepada pemerintah daerah setempat, tetapi malah terbengkelai,” kata staf Pengelola Unit Pelaksana Teknis Daerah Benteng Somba Opu, M Yusuf Husain.
Menurut Suriadi, banyak situs sejarah di Sulawesi Selatan yang terbengkalai dan kurang terawat. Selain dana pemerintah terbatas, kesadaran masyarakat untuk merawat situs juga kurang. Tindakan sejumlah warga yang menempati rumah adat di Benteng Somba Opu adalah salah satu contoh. Begitu juga perusakan makam Sultan Hasanuddin, apa pun itu motifnya.
Makam Sultan Hasanuddin di Jalan Palantikan, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, pada 24 Mei 2012 dini hari dirusak orang tak dikenal. Kubah dan batu nisan berbentuk ayam jantan di atas pusara pahlawan yang sangat dihormati warga itu hancur. Cincin permata berbahan fiber di jari patung Sultan Hasanuddin raib.
Belum diketahui motif perusakan ini. Namun yang jelas, pelaku hanya merusak makam Sultan Hasanuddin. Delapan pusara lainnya di kompleks makam itu tetap utuh. Sejumlah kalangan menduga perusakan makam Sultan Hasanuddin itu merupakan salah satu upaya untuk memecah belah masyarakat Sulawesi Selatan yang didominasi suku Bugis, Makassar, Tator, dan Mandar.
Sekali lagi, semangat siri’na pace dan siri’na tanae diuji dalam kasus tersebut. Persatuan atau rasa senasib sepenanggungan untuk menjunjung harga diri bangsa semakin menjadi barang mahal. Apalagi ada kecenderungan, dalam pemilihan kepala daerah, masyarakat akan memilih calon dari suku yang sama, selain pertimbangan kepentingan pragmatis. Di kalangan generasi muda pun masih dijumpai pandangan sempit kedaerahan atau kesukuan. Bentrokan antarkelompok mahasiswa dari daerah yang berbeda beberapa kali terjadi, bahkan sering kali hanya karena masalah sepele seperti perbedaan pendapat.
Merawat situs-situs bersejarah yang menjadi jejak perjuangan para pahlawan memang penting. Namun, yang terpenting adalah merawat ”semangat” perjuangan mereka dan menghidupkannya dalam tindakan untuk mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan.