Kontroversi Slogan "Berkumis" Temui Titik Terang

Kompas.com - 21/06/2012, 19:28 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kontroversi slogan "Berkumis" milik pasangan Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria yang dipermasalahkan tim sukses Fauzi Bowo akhirnya menemui titik terang. Mediasi yang telah keempat kalinya dilaksanakan ini menyepakati beberapa poin.

"Dari mediasi tadi telah disepakati beberapa poin. Pertama, penggunaan akronim 'Berkumis' dengan niat baik agar 'Jakarta Tidak Berantakan, Kumuh, dan Miskin' merupakan penyampaian visi dan misi program pasangan calon," ujar Ketua Panitia Pengawas Pemilu DKI Jakarta Ramdansyah di Gedung Sasana Prasada Karya, Kamis (21/6/2012).

"Selanjutnya, dalam menyampaikan visi dan misi program 'Berkumis' tanpa kepanjangan dari akronim tersebut, seperti menirukan mimik negatif pasangan calon yang diidentikkan dengan kumis, sudah masuk dalam tindak pidana pilkada," katanya.

Ketiga, lanjut Ramdansyah, penggunaan akronim "Berkumis" harus disertai dengan kata berantakan, kumuh, dan miskin agar tidak mengarah kepada pasangan calon tertentu. "Saran ini rekomendasi dari ahli bahasa UI, Frans Asisi, dan ahli bahasa UNJ, Sri Suhita," katanya.

Berdasarkan pernyataan dari pakar periklanan BP3I, FX Ridwan Handoyo, tidak boleh ada pembedaan warna antara ber dan kumis yang mengarah kepada salah satu kandidat. "Misalnya saja (kata) berkumis nya itu di-bold (ditebalkan) atau ditekankan. Kata yang dipergunakan sebaiknya  mengandung nilai positif, seperti 'Mari Bangun Jakarta yang Tidak Berkumis (Berantakan, Kumuh, dan Miskin)' sesuai masukan dari BP3I atau 'Jakarta Jangan Berkumis (Berantakan, Kumuh, dan Miskin) sesuai masukan dari ahli bahasa UNJ," ujar Ramdansyah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau