Banyak kemungkinan terjadi di perhelatan akbar semacam Piala Eropa 2012. Wajar lapak taruhan menjadi riuh. Ada yang terseok-seok di awal, tetapi bahagia di akhir. Ada yang sukses lebih dahulu, tapi lantas antiklimaks. Ada yang gagal melulu, sebaliknya ada yang menang terus.
Mari mengulik Jerman. Melihat performa di Grup B, tim panser termasuk satu tim yang stabil. Finalis Piala Eropa 2008 ini melenggang ke delapan besar setelah memenangi semua gim di babak penyisihan melawan tim-tim yang juga diperhitungkan, Portugal (1-0), Belanda (2-1), dan Denmark (2-1).
Jika menapak tilas sedikit ke belakang, Jerman memang pantas membuat publik berdecak. Di babak kualifikasi Grup A, juara Eropa tiga kali (tahun 1972, 1980, 1996) ini memenangi 10 pertandingan dengan nilai bulat 30. Ia hanya kalah sekali melawan Perancis 1-2 dalam laga persahabatan, Februari 2012.
Sebelum menjejaki final Piala Eropa 2012 ini, satu modal keyakinan sudah dikantongi. Pelatih Jerman Joachim Loew mengatakan, skuadnya saat ini sedang lapar. ”Juga sedang bersemangat dan fokus untuk mencetak gol. Kami tahu bagaimana hidup di bawah tekanan,” tutur Loew kepada majalah
Sejak awal, Loew sadar bahwa timnya menghadapi lawan yang tidak mudah, bahkan Grup B dijuluki
Tibalah saatnya berperang, dan Jerman memang gemilang ketika unggul 1-0 atas Portugal di laga pertama Grup B. Satu-satunya gol dari Mario Gomez adalah hasil untuk permainan berdisiplin dan penuh ketenangan.
Ketika menyaksikan Denmark mampu menekuk Belanda 1-0, Jerman mewaspadai tim ”Dinamit” ini. Namun, apa yang disuguhkan Jerman adalah sebuah penampilan cerdas.
”Kami bisa merasakan, apa yang harus kami lakukan saat melawan Denmark, itulah yang terjadi,” kata gelandang Sami Khedira.
Jerman terus memperbaiki diri sejak kekalahan di semifinal Piala Dunia 2010, yang menempatkannya di posisi ketiga. Kini, Jerman telah menemukan bentuknya dan itu disajikan di tiga pertandingan Grup B. Pelatih dan semua pemain menunjukkan, mereka adalah tim yang telah dewasa . Jerman mungkin tim yang meletup-letup, tetapi mampu bermain efektif.
”Kami lebih tenang saat ini, dan lebih pintar. Kami terus menjaga kesabaran dan penguasaan diri selama mungkin. Kami sangat berkonsentrasi sepanjang 90 menit,” tutur Khedira, ketika ditanya perbedaan Jerman di Piala Eropa 2012 dengan Jerman di Piala Dunia 2010.
Apa yang dikatakan Khedira memang mewujud. Dengan kedewasaannya, Jerman menebar ancaman di perhelatan ini. Bermain dalam formasi 4-2-3-1 membuat Loew mampu memaksimalkan barisan pemain tengah yang digempur sejak usia muda. Mesut Oezil, Thomas Mueller, Lukas Podolski, dan Mario Gomez menjadi empat pemain serang yang mampu membombardir pertahanan lawan. Lantas ada Miroslav Klose, yang kini berusia 33 tahun tetapi masih menyimpan banyak cadangan amunisi. Sembilan gol ia lesakkan selama kualifikasi.
Ada tim nasional yang tidak padu ketika di dalamnya berisi para pemain dari sejumlah klub yang berbeda. Ini tidak terjadi di tim nasional Jerman. Serangan ala Real Madrid yang dipertontonkan Oezil dan Khedira berpadu dengan gaya Bayern Muenchen dan Bayer Leverkusen, dan ini menghasilkan adonan beraroma lezat.
Bagi Loew, spirit yang ditunjukkan timnya di Piala Eropa ini adalah lanjutan dari tahun 2010. Hal terbesar baginya adalah melihat bagaimana para pemainnya berkembang dan membentuk tim yang sesungguhnya. Tidak ada seorang pemain yang menonjol. Kebersamaan ini yang paling menonjol dari tim Jerman, menurut Loew. Hal lain yang juga fundamental adalah barisan pemain muda yang segar, berteknik tinggi, dan antusias.
Jerman niscaya adalah tim yang stabil, konsisten, dan dewasa sejauh ini. Berdiri dan bertempur, itulah yang dilakukan pasukan ”Der Panzer”.
Penggalan lagu yang menggugah dari Manowar ini tepat untuk menggambarkan spirit Jerman, ”