Impor agar Dihentikan

Kompas.com - 23/06/2012, 02:46 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah tahun 2012 ini sebaiknya tidak mengeluarkan kebijakan untuk mengimpor beras. Pasalnya, produksi padi nasional berdasarkan angka ramalan II Badan Pusat Statistik naik tinggi, yaitu 4,31 persen atau sebanyak 68,59 juta ton gabah kering giling.

Menurut mantan Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia sekaligus anggota Komisi IV DPR, Siswono Yudo Husodo, produksi beras nasional tahun ini bagus. Tanaman padi ditanam dan dipanen pada saat yang tepat sehingga produktivitas tinggi dan kualitas bagus.

Melihat panen padi tahun ini, tidak ada kepentingannya bagi pemerintah untuk mengimpor beras. ”Kalau impor dilakukan, bisa dipastikan hanya untuk mengejar komisi semata,” kata Siswono, Jumat (22/6), di Jakarta.

Dengan produksi 68,59 juta ton gabah kering giling (GKG), surplus produksi beras di atas 3 juta ton. Surplus produksi itu cukup untuk mengamankan harga, apalagi pengadaan beras Bulog juga tinggi.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro mengatakan, melihat kondisi di lapangan dan setelah mencek silang dengan para pengamat dan pelaku di lapangan, panen padi tahun ini tampaknya membaik.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam angka ramalan II memperkirakan produksi padi 2012 mencapai 68,59 juta ton GKG, atau naik 4,31 persen dibandingkan dengan produksi 2011 sebanyak 65,76 juta ton. Kenaikan produksi padi sangat signifikan.

Meski begitu, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) melihat perkiraan produksi belum mencerminkan kondisi di lapangan. Itu disebabkan angka ramalan II BPS belum memperhitungkan realitas panen gadu I dan II, juga masih ada ancaman hama-penyakit dan kekeringan.

Ketua Umum KTNA Winarno Tohir mengatakan, indikator lainnya, serapan pupuk di gudang lini III kabupaten sekitar 82 persen. Belum serapan sampai di tingkat petani. Oleh karena itu, Winarno mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dan tetap mendampingi petani di lapangan.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) DKI Jakarta Nellys Soekidi mengatakan, panen padi tahun ini memang lebih baik. Produktivitas naik dan kualitas lebih bagus sehingga harga gabah di tingkat petani mahal. Di Malang, misalnya, harga gabah kering panen pada musim gadu I berkisar Rp 3.700-Rp 3.800 per kg. ”Harga ini termasuk tinggi. Para pedagang berebut barang,” katanya.

Meski produksi padi naik, Nellys belum bisa memperkirakan berapa persen kenaikannya. Namun, dia menyangsikan kalau kenaikannya sampai 4,31 persen. ”Memang naik, tetapi rasanya sekitar 3 persen,” katanya.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Rabu lalu, menerima kunjungan kerja Menteri Perdagangan Thailand. Dalam kunjungan itu dibicarakan antara lain perlunya kerja sama ekonomi yang lebih erat antarkedua negara.

Ditanya apakah ada pembicaraan khusus soal impor beras, Bayu mengatakan, itu tentu dibicarakan karena surplus produksi beras di Thailand banyak, tetapi kebijakan impor diputuskan dalam rapat koordinasi Menko Perekonomian.

Sementara itu, dari Sumatera Utara, Edy Mulyason Purba, penasihat KTNA Kabupaten Simalungun mengatakan, alih fungsi lahan di wilayahnya terus terjadi, baik untuk perkebunan maupun untuk permukiman.

Total lahan sawah di Simalungun semula 43.000 hektar, informasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah setempat, kini tinggal 25.000 hektar. ”Lahan terus berkurang. Ini yang bisa menjelaskan mengapa meski panen raya, harga beras tidak turun,” katanya. (MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau