Menurut mantan Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia sekaligus anggota Komisi IV DPR, Siswono Yudo Husodo, produksi beras nasional tahun ini bagus. Tanaman padi ditanam dan dipanen pada saat yang tepat sehingga produktivitas tinggi dan kualitas bagus.
Melihat panen padi tahun ini, tidak ada kepentingannya bagi pemerintah untuk mengimpor beras. ”Kalau impor dilakukan, bisa dipastikan hanya untuk mengejar komisi semata,” kata Siswono, Jumat (22/6), di Jakarta.
Dengan produksi 68,59 juta ton gabah kering giling (GKG), surplus produksi beras di atas
Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Kasih Anggoro mengatakan, melihat kondisi di lapangan dan setelah mencek silang dengan para pengamat dan pelaku di lapangan, panen padi tahun ini tampaknya membaik.
Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) dalam angka ramalan II memperkirakan produksi padi 2012 mencapai 68,59 juta ton GKG, atau naik 4,31 persen dibandingkan dengan produksi 2011 sebanyak 65,76 juta ton. Kenaikan produksi padi sangat signifikan.
Meski begitu, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) melihat perkiraan produksi belum mencerminkan kondisi di lapangan. Itu disebabkan angka ramalan II BPS belum memperhitungkan realitas panen gadu I dan II, juga masih ada ancaman hama-penyakit dan kekeringan.
Ketua Umum KTNA Winarno Tohir mengatakan, indikator lainnya, serapan pupuk di gudang lini III kabupaten sekitar 82 persen. Belum serapan sampai di tingkat petani. Oleh karena itu, Winarno mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dan tetap mendampingi petani di lapangan.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Perhimpunan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) DKI Jakarta Nellys Soekidi mengatakan, panen padi tahun ini memang lebih baik. Produktivitas naik dan kualitas lebih bagus sehingga harga gabah di tingkat petani mahal. Di Malang, misalnya, harga gabah kering panen pada musim gadu I berkisar Rp 3.700-Rp 3.800 per kg. ”Harga ini termasuk tinggi. Para pedagang berebut barang,” katanya.
Meski produksi padi naik, Nellys belum bisa memperkirakan berapa persen kenaikannya. Namun, dia menyangsikan kalau kenaikannya sampai 4,31 persen. ”Memang naik, tetapi rasanya sekitar 3 persen,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, Rabu lalu, menerima kunjungan kerja Menteri Perdagangan Thailand. Dalam kunjungan itu dibicarakan antara lain perlunya kerja sama ekonomi yang lebih erat antarkedua negara.
Ditanya apakah ada pembicaraan khusus soal impor beras, Bayu mengatakan, itu tentu dibicarakan karena surplus produksi beras di Thailand banyak, tetapi kebijakan impor diputuskan dalam rapat koordinasi Menko Perekonomian.
Sementara itu, dari Sumatera Utara, Edy Mulyason Purba, penasihat KTNA Kabupaten Simalungun mengatakan, alih fungsi lahan di wilayahnya terus terjadi, baik untuk perkebunan maupun untuk permukiman.
Total lahan sawah di Simalungun semula 43.000 hektar, informasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah setempat, kini tinggal 25.000 hektar. ”Lahan terus berkurang. Ini yang bisa menjelaskan mengapa meski panen raya, harga beras tidak turun,” katanya.