Spanyol vs perancis

Bukan Spanyol yang Dulu bagi Perancis

Kompas.com - 23/06/2012, 03:52 WIB

Babak delapan besar makin menggelora. Penonton sejagat akan menyaksikan bertangkapnya dua tim yang sama-sama berkarakter kuat, Perancis dan Spanyol. Dalam sejarah Piala Eropa dan Piala Dunia, Perancis belum pernah kalah dari Spanyol. Memang. Akan tetapi, Spanyol kini bukanlah Spanyol yang dulu. ”La Furia Roja” adalah sebentuk perubahan yang berbahaya! Satu lagi, Spanyol memiliki pemain teladan, Andres Iniesta, yang matang dan memesona.

Di laga utama internasional, Perancis dan Spanyol terakhir bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia 2006 di Hannover, Jerman. Hasilnya, Perancis menyingkirkan Spanyol dengan skor 3-1.

Di kancah Piala Eropa, kedua tim pernah lima kali bertemu, dan Perancis memenangi empat laga di antaranya. Satu laga berakhir imbang. Final Piala Eropa 1984 di Perancis adalah bukti superioritas ”Les Bleus” pada masa lalu. Perancis melumat Spanyol, 2-0.

Perancis kembali digdaya saat membuat Spanyol beringsut keluar dari perhelatan Piala Eropa 2000. Perancis menaklukkan Spanyol, 2-1, di perempat final di Bruges, Belgia.

Keadaan berbalik pada Piala Eropa 2008. Perancis selesai di penyisihan grup dan Spanyol mengenakan mahkota. Dua tahun kemudian, Perancis bahkan pulang dengan memalukan pada Piala Dunia 2012, sedangkan Spanyol kembali mengangkat piala.

Bagaimanapun, sejarah bisa dimaknai berbeda oleh setiap individu. Sejarah bahkan bisa tidak bermakna apa-apa. Merujuk kategorisasi Benjamin Franklin, sejarah mungkin tetap hanya sebuah ornamen dan kita tak pernah bisa memastikan bagaimana membuat sejarah menjadi berguna.

Maka, historia atau (d’)histoire akan ditorehkan Spanyol dan Perancis, Minggu (24/6) dini hari WIB di Donetsk. Spanyol bertekad menekuk Perancis untuk pertama kali di Piala Eropa, untuk kemudian melaju ke semifinal dan berjumpa Portugal.

Melihat rekor Perancis yang lebih buruk dibandingkan dengan Spanyol di penyisihan, tekat kuat Pelatih Vicente del Bosque bisa berbuah manis. Spanyol meraih tujuh poin setelah seri 1-1 melawan Italia, menang 4-0 dari Irlandia, dan unggul 1-0 atas Kroasia di Grup C. Adapun Perancis mengumpulkan empat poin dari hasil 1-1 melawan Inggris, menang 2-0 atas Ukraina, dan kalah 0-2 dari Swedia di Grup D.

Striker tim ”Matador”, Fernando Torres, yakin timnya belajar dari pengalaman sukses Piala Dunia 2010. Pertemuan pertama dengan Perancis setelah enam tahun itu akan mengakhiri rentetan kekalahan Spanyol. Sejumlah pemain Spanyol di Piala Dunia 2006 itu kini makin dewasa. Selain Torres, ada kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, gelandang Xavi, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, dan Iniesta, serta bek Sergio Ramos.

”Kami harap pengalaman kami hingga saat ini mampu membuat keadaan berbalik menjadi berkat buat Spanyol,” tutur Torres dalam situs pribadinya www.fernando9torres.com.

Bagi Torres, mengakhiri catatan negatif selalu menjadi saat-saat yang menggembirakan. Tim Spanyol pernah memutus catatan sejarah keberhasilan tim lain dan membuat prediksi menjadi salah.

”Kami berharap Perancis tidak kembali pada formasi terbaik mereka. Namun, jika itu terjadi, kami telah siap. Kini Spanyol sangat sulit dipatahkan ketika berada pada penampilan terbaik,” ungkap Torres.

Formasi Perancis

Soal formasi, Pelatih Perancis Laurent Blanc tidak bisa memasukkan Philippe Mexes karena masih cedera. Laurent Koscielny akan dipasangkan dengan Adil Rami di tengah belakang.

Blanc mungkin akan kembali memasang Yohan Cabaye sebagai gelandang bersama Alou Diarra dan Yann M’vila. Karim Benzema dan Franck Ribery bekerja sama dengan Jeremy Menez di bagian depan, sedangkan Samir Nasri sementara tidak dimasukkan sebagai starter.

Benzema, yang mengenal dengan baik karakter para pemain Spanyol, mengatakan, satu hal yang positif dari Spanyol adalah gaya bermain berdasar penguasaan bola. Gaya ini biasanya memicu terbukanya wilayah serang. ”Kami akan berusaha memanfaatkan ruang ini,” kata pemain Real Madrid ini.

Gelandang Florent Malouda memuji rekannya di Chelsea, Torres, yang kembali menemukan performa terbaiknya. Torres ia sebut pemain yang berbahaya. ”Ia mengakhiri musim ini dengan sangat baik. Ia akan menunjukkan bahwa ia adalah striker terbaik di dunia. Ia adalah ancaman. Ia bisa mencetak dua atau tiga gol dan mengguncangkan pertahanan kami sendirian,” tutur Malouda kepada Reuters.

Faktor Iniesta

Perancis harus mencermati Iniesta, sosok teladan itu. Perancis harus melawan dua kekuatan, Spanyol dan Iniesta. Iniesta diam-diam telah menjadi pemain yang menonjol di turnamen ini. Ia dua kali terpilih menjadi pemain terbaik dan mampu jadi teladan bagi teman-temannya. Ia adalah ketangguhan mental bagi ”geng” Spanyol.

Ketika publik mengelu-elukannya, Iniesta tak pernah membanggakan diri. Pemain yang tutur katanya lembut ini mengatakan, predikat untuknya memang membanggakan. Namun, itu tidak membuat dirinya lengah. Penilaian baik kepadanya menjadi motivasi. ”Berarti lawan akan lebih waspada kepada kami,” ujar Iniesta.

Iniesta bahkan menjadi teladan bagi Perancis, setelah tiadanya teladan semumpuni Zinedine Zidane. ”Harus memiliki hati untuk bertanding melawan Spanyol,” kata Blanc kepada AP.

Dengan Villa yang harus istirahat karena cedera, Iniesta memegang komando penyerangan. Bukan berarti ia harus mencetak gol, perannya justru lebih dari itu. Sebuah foto ketika Iniesta ”dikeroyok” lima pemain Italia menjadi bahasan utama media di Italia. Simbolistis.

”Ia (Iniesta) pemain yang luar biasa. Kalau kita bareng dia, semua jadi terasa lebih mudah,” kata rekannya, David Silva.

Bagi Iniesta, tugas tim adalah menjadi lebih baik agar mengulangi sejarah tahun 2008, betapa pun lebih sulitnya. ”Kami akan membuat publik bangga kepada kami. Jika kami menang, semuanya menang. Sebaliknya, kalau kalah, semuanya kalah,” tuturnya.

Akankah Perancis mampu membangun roh kolektivitas saat menghadapi Spanyol? Bukankah sejarah mencatat, Perancis.... Ah, lupakan saja dulu sejarah itu!

(SUSI IVVATY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau