Babak delapan besar makin menggelora. Penonton sejagat akan menyaksikan bertangkapnya dua tim yang sama-sama berkarakter kuat, Perancis dan Spanyol. Dalam sejarah Piala Eropa dan Piala Dunia, Perancis belum pernah kalah dari Spanyol. Memang. Akan tetapi, Spanyol kini bukanlah Spanyol yang dulu. ”La Furia Roja” adalah sebentuk perubahan yang berbahaya! Satu lagi, Spanyol memiliki pemain teladan, Andres Iniesta, yang matang dan memesona.
Di laga utama internasional, Perancis dan Spanyol terakhir bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia 2006 di Hannover, Jerman. Hasilnya, Perancis menyingkirkan Spanyol dengan skor 3-1.
Di kancah Piala Eropa, kedua tim pernah lima kali bertemu, dan Perancis memenangi empat laga di antaranya. Satu laga berakhir imbang. Final Piala Eropa 1984 di Perancis adalah bukti superioritas ”Les Bleus” pada masa lalu. Perancis melumat Spanyol, 2-0.
Perancis kembali digdaya saat membuat Spanyol beringsut keluar dari perhelatan Piala Eropa 2000. Perancis menaklukkan Spanyol, 2-1, di perempat final di Bruges, Belgia.
Keadaan berbalik pada Piala Eropa 2008. Perancis selesai di penyisihan grup dan Spanyol mengenakan mahkota. Dua tahun kemudian, Perancis bahkan pulang dengan memalukan pada Piala Dunia 2012, sedangkan Spanyol kembali mengangkat piala.
Bagaimanapun, sejarah bisa dimaknai berbeda oleh setiap individu. Sejarah bahkan bisa tidak bermakna apa-apa. Merujuk kategorisasi Benjamin Franklin, sejarah mungkin tetap hanya sebuah ornamen dan kita tak pernah bisa memastikan bagaimana membuat sejarah menjadi berguna.
Maka,
Melihat rekor Perancis yang lebih buruk dibandingkan dengan Spanyol di penyisihan, tekat kuat Pelatih Vicente del Bosque bisa berbuah manis. Spanyol meraih tujuh poin setelah seri 1-1 melawan Italia, menang 4-0 dari Irlandia, dan unggul 1-0 atas Kroasia di Grup C. Adapun Perancis mengumpulkan empat poin dari hasil 1-1 melawan Inggris, menang 2-0 atas Ukraina, dan kalah 0-2 dari Swedia di Grup D.
Striker tim ”Matador”, Fernando Torres, yakin timnya belajar dari pengalaman sukses Piala Dunia 2010. Pertemuan pertama dengan Perancis setelah enam tahun itu akan mengakhiri rentetan kekalahan Spanyol. Sejumlah pemain Spanyol di Piala Dunia 2006 itu kini makin dewasa. Selain Torres, ada kiper Iker Casillas dan Pepe Reina, gelandang Xavi, Xabi Alonso, Cesc Fabregas, dan Iniesta, serta bek Sergio Ramos.
”Kami harap pengalaman kami hingga saat ini mampu membuat keadaan berbalik menjadi berkat buat Spanyol,” tutur Torres dalam situs pribadinya www.fernando9torres.com.
Bagi Torres, mengakhiri catatan negatif selalu menjadi saat-saat yang menggembirakan. Tim Spanyol pernah memutus catatan sejarah keberhasilan tim lain dan membuat prediksi menjadi salah.
”Kami berharap Perancis tidak kembali pada formasi terbaik mereka. Namun, jika itu terjadi, kami telah siap. Kini Spanyol sangat sulit dipatahkan ketika berada pada penampilan terbaik,” ungkap Torres.
Soal formasi, Pelatih Perancis Laurent Blanc tidak bisa memasukkan Philippe Mexes karena masih cedera. Laurent Koscielny akan dipasangkan dengan Adil Rami di tengah belakang.
Blanc mungkin akan kembali memasang Yohan Cabaye sebagai gelandang bersama Alou Diarra dan Yann M’vila. Karim Benzema dan Franck Ribery bekerja sama dengan Jeremy Menez di bagian depan, sedangkan Samir Nasri sementara tidak dimasukkan sebagai starter.
Benzema, yang mengenal dengan baik karakter para pemain Spanyol, mengatakan, satu hal yang positif dari Spanyol adalah gaya bermain berdasar penguasaan bola. Gaya ini biasanya memicu terbukanya wilayah serang. ”Kami akan berusaha memanfaatkan ruang ini,” kata pemain Real Madrid ini.
Gelandang Florent Malouda memuji rekannya di Chelsea, Torres, yang kembali menemukan performa terbaiknya. Torres ia sebut pemain yang berbahaya. ”Ia mengakhiri musim ini dengan sangat baik. Ia akan menunjukkan bahwa ia adalah striker terbaik di dunia. Ia adalah ancaman. Ia bisa mencetak dua atau tiga gol dan mengguncangkan pertahanan kami sendirian,” tutur Malouda kepada Reuters.
Perancis harus mencermati Iniesta, sosok teladan itu. Perancis harus melawan dua kekuatan, Spanyol dan Iniesta. Iniesta diam-diam telah menjadi pemain yang menonjol di turnamen ini. Ia dua kali terpilih menjadi pemain terbaik dan mampu jadi teladan bagi teman-temannya. Ia adalah ketangguhan mental bagi ”geng” Spanyol.
Ketika publik mengelu-elukannya, Iniesta tak pernah membanggakan diri. Pemain yang tutur katanya lembut ini mengatakan, predikat untuknya memang membanggakan. Namun, itu tidak membuat dirinya lengah. Penilaian baik kepadanya menjadi motivasi. ”Berarti lawan akan lebih waspada kepada kami,” ujar Iniesta.
Iniesta bahkan menjadi teladan bagi Perancis, setelah tiadanya teladan semumpuni Zinedine Zidane. ”Harus memiliki hati untuk bertanding melawan Spanyol,” kata Blanc kepada AP.
Dengan Villa yang harus istirahat karena cedera, Iniesta memegang komando penyerangan. Bukan berarti ia harus mencetak gol, perannya justru lebih dari itu. Sebuah foto ketika Iniesta ”dikeroyok” lima pemain Italia menjadi bahasan utama media di Italia.
”Ia (Iniesta) pemain yang luar biasa. Kalau kita bareng dia, semua jadi terasa lebih mudah,” kata rekannya, David Silva.
Bagi Iniesta, tugas tim adalah menjadi lebih baik agar mengulangi sejarah tahun 2008, betapa pun lebih sulitnya. ”Kami akan membuat publik bangga kepada kami. Jika kami menang, semuanya menang. Sebaliknya, kalau kalah, semuanya kalah,” tuturnya.
Akankah Perancis mampu membangun roh kolektivitas saat menghadapi Spanyol? Bukankah sejarah mencatat, Perancis.... Ah, lupakan saja dulu sejarah itu!