Kampanye pilkada dki jakarta

Maaf Ya, Pak Fauzi Bowo...

Kompas.com - 25/06/2012, 03:42 WIB

Ungkapan maaf ini keluar dari bibir calon gubernur DKI Jakarta, Alex Noerdin. Dia meminta maaf karena Sriwijaya FC unggul 24 poin dibandingkan Persija. Tidak hanya kesebelasan sepak bola saja yang bertanding, para gubernurnya pun bertanding untuk menjadi gubernur DKI Jakarta 2012-2017.

Pertandingan keenam pasang calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta secara resmi telah dimulai. Dimulainya pertandingan itu ditandai dengan penyampaian visi misi pasangan calon di depan sekitar 77 anggota DPRD DKI Jakarta di Ruang Paripurna DPRD DKI Jakarta, Minggu (24/6).

Jumlah anggota DPRD DKI sebanyak 94 orang. Namun, dalam acara yang sangat penting bagi masa depan Jakarta itu, sebanyak 17 bangku kosong. Selain itu, beberapa anggota DPRD juga terlihat keluar masuk ruangan saat calon gubernur menyampaikan visi misi.

Penyampaian visi misi ini dihadiri juga oleh Wakil Gubernur DKI Prijanto. Fauzi Bowo akan cuti selama 4 hari untuk kampanye. Masa empat hari itu tidak berurutan, tetapi berselang-seling tergantung jadwal kampanye.

Ketua DPRD DKI Ferrial Sofyan yang memimpin rapat penyampaian visi misi mengatakan, kampanye harus berjalan tertib dan aman. Jakarta menjadi barometer bagi pelaksanaan pilkada di daerah lain. Pilkada Jakarta juga menjadi cerminan Indonesia di mata dunia.

Proses penyampaian visi misi dilakukan berdasarkan urutan nomor urut pasangan calon. Jadi, Fauzi mendapatkan kesempatan pertama naik ke podium. Dengan memakai beskap hitam dan rantai emas dengan kuku macan tersemat di dada kirinya, Fauzi menyampaikan pembangunan apa saja yang sudah dilakukan dan apa yang akan diteruskan jika dia terpilih nanti.

Selama Fauzi membacakan pidatonya, beberapa orang pendukung dari pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini berteriak-teriak mencemooh Fauzi. Akibatnya, suasana nyaris tidak terkendali. Pendukung itu akhirnya diamankan petugas keamanan dan dibawa keluar.

Setiap calon mendapatkan waktu 25 menit untuk menyampaikan visi misi. Dari keenam pasang calon, tidak satu pun yang melebih waktu yang ditentukan.

Keenam pasang calon mempunyai visi yang hampir sama, yakni menjadikan Jakarta menjadi kota modern yang sejajar dengan kota-kota metropolitan dunia. Selain itu, juga menjadikan Jakarta menjadi kota yang aman, nyaman, dan layak huni. Perbedaannya hanya pada upaya dan titik fokus yang diambil keenam pasang calon.

Yang menarik dari penyampaian ini, semua pasangan calon, kecuali calon dari petahana, mengkritik pembangunan yang dicapai Pemerintah Provinsi DKI. Joko Widodo-Basuki T Purnama, misalnya, menyayangkan koridor bus transjakarta yang sangat lambat pertumbuhannya. Selama lima tahun baru satu koridor bertambah.

Calon gubernur dari jalur perseorangan, Faisal Basri, mengatakan, Pemprov DKI memberikan banyak fasilitas kepada warga Pondok Indah. Mereka tidak hanya mendapatkan jalur bus transjakarta, jalan tol, jalan layang non-tol, dan akan mendapatkan MRT. Seharusnya MRT lebih didahulukan di tempat kemacetan lainnya, seperti di timur dan barat.

Sementara Alex juga mengungkapkan semua cita-cita terhadap Jakarta akan tercapai apabila gubernur dan wakilnya kompak dan menyatu.

Pertandingan dalam pesta demokrasi ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum masa kampanye. Ada yang bertanding di media dengan pernyataanpernyataan negatif tentang lawan. Ada yang bertanding di tembok warga, di pohon, tiang listrik, baliho, dan sebagainya. Ada yang menyenangkan cara berperangnya, ada juga yang merepotkan.

Misalnya saja stiker pasangan calon yang ditempel di sembarang tempat. Kalau hanya spanduk, sangat mudah dibersihkan. Namun, kalau stiker, akan sulit dibersihkan karena menempel kuat. Stiker-stiker yang sulit dibersihkan itu membuat wajah kota semakin jorok dan tidak rapi. Hal ini tentu saja berbeda dengan visi misi yang disampaikan para calon gubernur dan wakil gubernur yang ingin menjadikan Jakarta sebagai kota yang sejajar dengan kota metropolitan dunia.

Perseteruan antartim sukses juga terjadi antara tim sukses Fauzi Bowo dan tim sukses Hendardji Soepandji. Hendardji selalu menggunakan slogan ”Jakarta Jangan Berkumis”. Artinya, Jakarta jangan berantakan, kumuh, dan miskin. Slogan ini tentu saja membuat tim sukses Fauzi Bowo tidak senang.

Pasalnya, selama ini Fauzi Bowo selalu memakai kumisnya untuk menandakan calon mana yang harus dipilih warga Jakarta. Hingga kini masalah slogan belum ada jalan keluar. Panitia Pengawas Pemilu DKI telah mencoba untuk menengahi. Namun, masing-masing pihak tetap bersikokoh memakai slogan ini. (ARN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau