TUNIS, SENIN -
Ekstradisi tersebut semakin menunjukkan perpecahan serius di tubuh pemerintahan Tunisia setelah sempat ditentang
Kepastian ekstradisi Al-Mahmoudi itu disampaikan Perdana Menteri (PM) Libya saat ini,
”Hari ini, Al-Mahmoudi telah diserahkan secara resmi oleh pemerintah Tunisia. Dia akan ditahan di penjara di bawah tanggung jawab Kementerian Hukum dan akan diadili dalam waktu dekat,” ujar El-Keib.
Pernyataan El-Keib itu mengejutkan banyak pihak di Tunisia, terutama mereka yang menentang ekstradisi, seperti Presiden Marzouki, yang juga mantan aktivis hak asasi manusia.
Keberatan mereka terutama dipicu kekhawatiran akan nasib dan keselamatan Al-Mahmoudi, yang diyakini bakal terancam jiwanya dan tidak akan pernah menghadapi pengadilan yang adil jika dipulangkan ke Libya.
Nasib seperti itu pernah dialami Khadafy dan putranya yang tewas dieksekusi kelompok perlawanan Libya tak lama setelah ditangkap.
Juru bicara kepresidenan Tunisia, Adnan Mancer, menyebutkan, Presiden tak pernah diberi tahu soal keputusan ekstradisi tersebut.
”Jika memang benar (ekstradisi) dilakukan, tentu hal itu akan semakin memprovokasi krisis yang tengah terjadi di dalam pemerintahan (Tunisia) sekarang,” ujar Mancer.
Meski demikian, PM Tunisia Hamadi Jebali berkilah dirinya hanya menjalankan ketentuan hukum saat mengambil keputusan ekstradisi. Hal itu disampaikan pejabat Kementerian Hukum Tunisia, Mustapha Yahyaoui.
Pada 15 Januari, sejumlah kelompok hak asasi manusia Tunisia, Amnesty International, dan Human Rights Watch, menandatangani pernyataan menolak ekstradisi Al-Mahmoudi.
Al-Mahmoudi ditangkap September tahun lalu oleh otoritas Tunisia saat menyeberangi perbatasan secara ilegal dalam perjalanan menuju Aljazair.
Sejumlah anggota keluarga Khadafy diketahui memang mencari suaka politik ke Aljazair.
Sejak penangkapan itu, pemerintahan baru di Libya berkali-kali meminta Pemerintah Tunisia memulangkan Al-Mahmoudi untuk diadili atas seluruh kejahatan yang pernah ia lakukan.
Bechir Essid, pengacara Al-Mahmoudi, mengkritik keras langkah Tunisia mengekstradisi kliennya.
”Saya menilai hal itu telah merusak martabat pemerintahan Tunisia, terutama jika dikaitkan dengan prinsip agama dan moral yang selama ini mereka anut,” kata Bechir.
Bechir menambahkan, kondisi kesehatan Al-Mahmoudi menurun drastis setelah berada di penjara Libya.