Aksi Suriah Tak Bisa Diterima

Kompas.com - 27/06/2012, 03:33 WIB

Brussels, Selasa - Pakta Pertahanan Atlantik Utara mengecam keras Suriah karena telah menembak jatuh jet tempur Turki. Aksi militer Suriah itu ”tak bisa diterima”. NATO menyatakan dukungan dan solidaritas kuat kepada Turki dan mendesak Suriah agar tak mengulangi aksi serupa.

Kecaman terhadap rezim Damaskus disampaikan para diplomat dan duta besar dari 28 negara anggota NATO dalam pertemuan darurat di markas aliansi tersebut, di Brussels, Belgia, Selasa (26/6). Pertemuan yang dipimpin Sekjen NATO Anders Fogh Rasmussen itu dimulai sekitar pukul 08.00 waktu setempat.

Pertemuan darurat NATO berlangsung atas permintaan Turki terkait kasus penembakan pesawat militer F-4 Phantom miliknya oleh Suriah, Jumat pekan lalu. Turki memutuskan mengambil langkah itu sesuai Pasal 4 Traktat NATO, yang ditandatangani pada 4 April 1949.

Pasal 4 itu menyatakan, siapa saja anggota aliansi yang merasa integritasnya sebagai negara terancam bisa mengajukan konsultasi dengan seluruh anggota NATO untuk menentukan sikap. Semua anggota aliansi akan membahas bersama respons yang tepat. Turki adalah anggota NATO sejak 18 Februari 1952.

”Kami menganggap tindakan Suriah tidak dapat diterima dan mengecam keras,” kata Rasmussen. ”Sekutu-sekutu NATO telah menyatakan dukungan dan solidaritas kuat kepada Turki,” katanya seusai pertemuan itu.

Rasmussen juga melanjutkan, keamanan NATO ”tak terpisahkan”. Pasal 5 yang meminta anggota-anggota aliansi melihat serangan terhadap salah satu negara sebagai serangan terhadap semua anggota aliansi belum sempat dibahas dalam rapat.

Padahal, pada hari Senin, Wakil Perdana Menteri Turki Bulent Arinc mengatakan, Ankara akan meminta agar insiden itu dipertimbangkan berdasarkan Pasal 5, yang mungkin akan ditanggapi dengan aksi militer NATO. Meski pasal ini belum dibahas, Rasmussen mengatakan, ”Kami siaga bersama Turki dalam satu semangat solidaritas.”

Militer Suriah menembak jatuh pesawat Turki di atas Laut Tengah, Jumat (22/6). Menurut versi Damaskus, pesawat itu telah memasuki wilayah udaranya. Adapun Ankara berkeras pesawatnya ditembak di wilayah udara internasional di Laut Tengah. Bangkai jet jatuh di perairan internasional, dan dua pilotnya belum ditemukan.

Perubahan sikap

”Ini contoh lain pengabaian oleh otoritas berwenang Suriah atas norma-norma internasional, perdamaian dan keamanan, serta kehidupan umat manusia,” kata Rasmussen. ”Kami terus mengikuti situasi itu dengan saksama dan perhatian penuh,” katanya.

Reaksi lebih tegas disampaikan Turki. Menurut Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, angkatan bersenjata Turki ”akan merespons semua bentuk pelanggaran”. Dia mengatakan, sejumlah helikopter Suriah lima kali melanggar wilayah udara Turki baru-baru ini, tetapi dibiarkan oleh Turki.

Aksi penembakan oleh Suriah atas pesawat tempur Turki dinilai Erdogan sebagai satu ”ancaman jelas dan nyata”. Dalam kritiknya yang paling vokal terhadap rezim Damaskus, Erdogan bersumpah membalas ”tindakan keji” itu dan menjanjikan perubahan sikap militer terhadap setiap tentara Suriah yang mendekati perbatasan kedua negara.

Segala risiko yang ditimbulkan oleh Suriah di perbatasan Turki, kata Erdogan, akan ”dianggap sebagai ancaman dan diperlakukan sebagai target militer”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi, mengatakan, militer negaranya telah bertindak cepat dalam menyikapi pelanggaran atas wilayah udara Turki.(AFP/AP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau