Pelatih Portugal Paulo Bento memahami sosok Cristiano Ronaldo tengah jadi sorotan utama menyusul lolosnya ”Seleccao Eropa” ke semifinal. Setelah penampilan di dua partai pembuka yang buruk, Ronaldo memborong dua gol ketika menghadapi Belanda dan mencetak gol tunggal saat menyingkirkan Ceko pada perempat final.
Atas alasan itulah Bento yang semasa kariernya menunjukkan kualitas sebagai gelandang bertahan tidak akan menambah tekanan bagi Ronaldo. Bento akan membiarkan Ronaldo mengeksplorasi kemampuannya di lini belakang Spanyol. Wilayah operasi Ronaldo akan mempertemukannya secara langsung dengan bek kanan Alvaro Arbeloa.
Penampilan Arbeloa yang banyak dikritik publik Spanyol akan jadi keuntungan tersendiri bagi Portugal. Namun, Bento tetap menghindari fokus pembahasan pada Ronaldo.
Pasalnya, Bento menyadari Portugal butuh lebih dari seorang Ronaldo untuk menghadapi seniman-seniman sepak bola yang menguasai tiki-taka di kubu ”Matador”. Strategi serangan balik cepat dan semangat tanding dalam organisasi permainan yang rapi akan menjadi andalan Bento, penerus pelatih Carlos Queiroz sejak September 2010 itu.
Pemain sayap Nani akan memastikan serangan balik cepat dan mengirim umpan sesegera mungkin kepada Ronaldo bakal jadi taktik jitu bagi Portugal. ”Senjata kami untuk melakukan serangan bukanlah rahasia,” kata gelandang Portugal, Custodio.
Namun, cederanya penyerang Helder Postiga membuat Bento mengubah skema permainan menghadapi Spanyol. ”Kami sudah bekerja keras hingga tahap ini. Sekarang kami harus mencoba pulih secepat mungkin dan kembali ke lapangan dalam kondisi terbaik,” kata Bento.
Setelah dipoles pelatih berusia 43 tahun itu, Seleccao Eropa memang berkembang menjadi tim yang bermain lebih efektif dengan mengandalkan serangan balik yang mematikan. Efisiensi serangan ini terlihat dari penguasaan bola dalam setiap laga yang secara rata-rata hanya 46 persen. Persentase ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan tim-tim lain.
Bento punya kenangan manis saat timnya melumat Spanyol, 4-0, dalam laga persahabatan di Lisabon, Portugal, November 2010. Namun, publik Portugal belum lupa betapa pedihnya diempaskan Spanyol, 0-1, pada putaran kedua Piala Dunia 2010.
Apalagi Spanyol tengah dilanda kepercayaan diri sangat tinggi untuk mengulangi prestasi serupa. Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Gerard Pique, Sergio Busquets, dan Cesc Fabregas yang bernuansa Barcelona akan bergabung dengan para penggawa Real Madrid untuk menyusun serangan.
Sementara koneksi lini tengah kubu Seleccao Eropa ibarat terputus, karena selain Ronaldo, hanya bek sayap Fabio Coentrao yang bermain untuk Real Madrid. Namun, jangan lupakan adanya bek tengah Pepe, yang juga membela Real Madrid dan mampu memotori serangan balik dari belakang.
Orkestrasi La Furia Roja akan ditopang penggawa Real Madrid seperti Xabi Alonso serta pemain bertahan seperti Arbeloa dan Sergio Ramos. Di bawah mistar gawang, Spanyol punya Iker Casillas yang juga bermain untuk Real Madrid.
Jika Spanyol menang, Casillas akan merayakan kemenangan yang ke-100 dalam 136 kali penampilannya bersama Spanyol. Namun, untuk itu, sang kapten Spanyol itu harus memastikan dirinya menggagalkan setiap upaya kapten Ronaldo yang kualitas penampilannya terus membaik.
***
Kemenangan yang ke-100 akan jadi milik ”Santo Iker” bila Spanyol melumat Portugal. Namun, tugas kali ini relatif lebih berat.
Pertama, ia harus menghadapi Cristiano Ronaldo, rekannya di Real Madrid. Kedua, Casillas juga mesti menghadapi perilaku bola Adidas Tango yang menurutnya aneh.
Casillas mengatakan, sekalipun tidak seaneh Jabulani yang digunakan pada Piala Dunia 2010, pergerakan Tango kerap menipu.
Rui Patricio tentu masih ingat gol cepat Rafael van der Vaart ke gawangnya. Namun, ia cepat bangkit dan mencatatkan sejumlah penyelamatan gemilang hingga Portugal mengubur Belanda, 2-1.
Responsnya yang cepat membuat penyerang lawan kerap kehabisan akal. Patricio memulai debutnya bersama ”Seleccao Eropa” ketika menggebuk Spanyol, 4-0, dalam laga persahabatan di Lisabon, Portugal, November 2010.
Bekal itu yang akan memperkuatnya menghadapi gedoran ”La Furia Roja” kali ini. Motivasinya yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Eduardo dan Beto membuat Paulo Bento cenderung terus memercayainya.
Pique yang populer di dunia maya dan punya sekitar tiga juta pengikut di Twitter adalah mimpi buruk bagi penyerang lawan. Mario Balotelli paham kokohnya Pique saat Italia hanya main imbang, 1-1, pada partai pembuka Grup C.
Cesare Prandelli pun harus menukar ”Super Mario” dengan Antonio Di Natale untuk melewati Pique. Namun, Spanyol harus waspada karena Pique dihantui cedera kaki kiri yang sewaktu-waktu bisa kambuh.
Fabio Coentrao, pemain belakang Real Madrid ini, akan menjadi rekan yang sempurna bagi Pepe di lini belakang. Keduanya sama-sama bermain untuk ”Los Blancos”, sebutan Real Madrid.
Keduanya juga sama-sama punya kemampuan memotori serangan balik yang tajam dan cepat. Coentrao yang berusia 24 tahun juga telah membuktikan perannya yang hidup di sayap kiri pertahanan ”Seleccao Eropa”.
Ia juga yang banyak mematikan pergerakan Arjen Robben dan Wesley Sneijder saat Portugal memukul Belanda, 2-1, pada laga terakhir penyisihan Grup B. Namun, Coentrao diintai cedera panggul yang kadang menyulitkannya.
Sekalipun dibangkucadangkan saat menghadapi Irlandia, Fabregas tetap mencetak gol setelah menggantikan Torres. Pemain Barcelona yang sempat dirundung masalah otot hanya beberapa pekan sebelum Piala Eropa 2012 dimulai itu berada dalam kondisi terbaiknya. Ia pemecah kebuntuan mencetak gol, juga kreator serangan.
Joao Moutinho adalah aktor di balik sundulan Cristiano Ronaldo yang membawa Portugal menumbangkan Ceko pada babak perempat final. Gelandang berusia 25 tahun yang bermain untuk Porto itu berambisi membawa Portugal menuju partai puncak Piala Eropa 2012.
Selain bagi Ronaldo, peran Moutinho juga akan vital bagi pemain lain untuk mendorong serangan balik yang cepat. Itu juga yang ditunjukkannya dengan efektivitas permainan dan serangan balik yang mematikan saat menghantam Belanda, 2-1.
Kelincahan itu ditunjang dengan postur 170 sentimeter dan bobot 61 kilogram. Akan tetapi, ia diancam cedera tumit yang menghantui.
Apalagi Del Bosque kerap membangkucadangkan penggedor berusia 28 tahun itu. Namun, nalurinya sebagai penyerang sejauh ini masih terwakili dengan dua gol dan sebuah gelar man of the match.
Sejauh ini Torres tak pernah mempersoalkan keputusan Del Bosque menjadikannya cadangan. Bagi penyerang dengan postur 186 sentimeter dan bobot 78 kilogram itu, hal paling penting saat ini adalah kemenangan Spanyol.
Cristiano Ronaldo akan sulit dihentikan. Dalam empat pertandingan terakhir bersama ”Seleccao Eropa”, grafik permainannya terus menanjak.
Total ia sudah mencetak tiga gol dan membukukan dua gelar man of the match. Kecepatan tinggi, tendangan bertenaga, dan teknik bermain di atas rata-rata adalah mimpi buruk lini bertahan lawan yang dimiliki lengkap Ronaldo.
Kapten yang dilahirkan 27 tahun lalu itu memang seolah diperuntukkan bagi sepak bola. Sejak kecil ia hanya tertarik pada sepak bola dan cenderung tidak menaruh minat pada pelajaran sekolah. Ini adalah saatnya mengulangi sukses Piala Eropa 2004 ketika Portugal ke final.