Jalan Murray Lebih Terbuka

Kompas.com - 30/06/2012, 02:44 WIB

London, Jumat - Jalan petenis Inggris Raya, Andy Murray, untuk merebut gelar juara Wimbledon lebih terbuka setelah unggulan kedua, Rafael Nadal, kandas. Murray akan mencatat sejarah jika dia dapat mencapai final atau menjuarai turnamen klasik yang memasuki episode ke-126 ini.

Jika dapat ke final, Murray menjadi orang Inggris Raya pertama setelah Bunny Austin pada 1938. Bahkan, jika juara, Murray akan menyamai prestasi Fred Perry pada tahun 1936.

Setelah Nadal tumbang di hadapan Lukas Rosol (Ceko), besar maknanya bagi Murray. Dalam dua tahun terakhir, Nadal kerap menjadi penjegal ambisi Murray. Pada tahun 2010 dan 2011, Murray takluk di semifinal. Tahun 2008, dia bahkan kalah di perempat final.

Sebagai sesama petenis yang menempati grup bawah, skenario awalnya, Murray dapat berjumpa Nadal di semifinal. Murray menapak hingga ke babak ketiga. Calon lawannya sampai partai puncak kemungkinan David Ferrer (Spanyol), Jo-Wilfried Tsonga (Perancis), atau Rosol.

”Agar dapat juara, saya harus sabar dan memiliki mental kuat. Sekarang saya mendapat sedikit keuntungan dan saya harus tetap fokus,” kata Murray.

Jika jalan Murray mulus, di partai puncak dia kemungkinan bakal berjumpa petenis nomor satu dunia yang merupakan juara bertahan, Novak Djokovic (Serbia), atau sang Maestro, Roger Federer (Swiss).

Djokovic memastikan tempat di putaran keempat setelah mengalahkan Radek Stepanek (Ceko) 4-6, 6-2, 6-2, 6-2.

Sementara Rafael Nadal mengaku tidak kecewa dengan kekalahannya dari Lukas Rosol di babak kedua. Dia mengatakan, dirinya tetap nyaman karena secara keseluruhan penampilannya tahun ini bagus.

Hasil terburuk

Nadal kalah dari Rosol dalam pertarungan lima set 7-6 (11/9), 4-6, 4-6, 6-2, 4-6. Kekalahan dari pemain peringkat 100 dunia ini menjadi hasil terburuk yang diraihnya sejak tahun 2005. Saat itu Nadal juga kalah di babak kedua turnamen Wimbledon dari Gilles Muller (Luksemburg).

”Itulah olahraga, kadang menang, kadang juga kalah. Lawan saya kali ini termotivasi untuk menang. Secara mental, saya baik-baik saja. Akan tetapi, secara fisik, sepertinya saya perlu istirahat,” kata Nadal, mantan petenis nomor satu dunia.

Bulan depan, pemegang 11 gelar grand slam ini akan kembali ke Wimbledon. Nadal akan berjuang meraih medali emas di ajang Olimpiade London.

Duel Nadal versus Rosol berlangsung seru dan ketat. Rosol sukses memojokkan Nadal dengan servis kerasnya. Pemain berusia 26 tahun ini sama sekali tidak dengan nama besar Nadal. Padahal, petenis asal Mallorca, Spanyol, ini baru saja membuat sejarah sebagai peraih gelar terbanyak di Roland Garros. Dia tujuh kali menjuarai Grand Slam Perancis Terbuka.

Rosol tampil penuh semangat. Dia melepaskan pukulan-pukulan keras yang membuat Nadal terkejut dan kebingungan. Dalam pertandingan itu, Rosol membuat 22 servis as.

Setelah menang 7-6 di set pertama, Nadal kalah di dua set berikutnya, 4-6, 4-6. Pada gim keempat, Nadal mendapat momentum dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2 setelah menang 6-2.

Namun, ketika permainan Nadal sedang berapi-api, tiba-tiba ofisial pertandingan memutuskan menunda pertandingan set kelima selama 45 menit karena harus menutup atap lapangan.

Rosol memanfaatkan situasi itu dengan baik. Dia pun akhirnya menang 6-4. ”Ini seperti keajaiban. Nadal pemain bintang. Dia bermain sangat baik, tetapi kali ini saya yang lebih baik,” ujar Rosol. (REUTERS/AFP/OTW)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau