Mahdi Muhammad
Diragukan pada awal, namun berujung dengan kekaguman. Buah pikiran dan empatinya selama empat tahun memberikan begitu banyak gelar bagi klub Catalan, FC Barcelona. Koloni semut melandasi pemikirannya.
Setelah menunggu hampir 30 menit dan diisi dengan serangkaian briefing
Saat pintu ruang dibuka, tak jauh dari hadapan tengah duduk santai, dengan kaki kiri sedikit ditekuk karena bertumpu pada salah satu kaki kursi. Tangannya bertumpu pada meja setinggi 1,5 meter. Inilah
Josep Guardiola, mantan pelatih tersukses di klub Barcelona, dan mungkin di dunia.
Sejak awal, Guardiola mewanti-wanti, dirinya tidak ingin memberikan wawancara satu per satu. Dia ingin bersikap adil dengan memberikan kesempatan dan waktu yang sama untuk bertemu. Selain itu, dia menginginkan suasana informal dalam setiap pertemuannya dengan media.
Itu sebabnya, dalam ruangan berukuran sekitar 10 x 10 meter tersebut, tidak ada meja panjang yang biasa disediakan bagi narasumber. Hanya ada tiga meja, dua di antaranya digunakan awak media dan satu untuk Guardiola. Bahkan, awak media dipersilakan membawa minuman yang disediakan panitia, mulai dari air mineral hingga anggur, sebagai teman ngobrol bersamanya.
Dari Santpedor
Bermula dari kota kecil bernama Santpedor, 75 kilometer timur laut Barcelona. Tak ada yang menyangka, kota kecil di daerah pedesaan Barcelona yang didominasi bangunan tua dari abad pertengahan serta dikenal karena industri logamnya itu, melahirkan satu sosok yang sangat dikagumi dalam persepakbolaan modern, atau mungkin pelatih terbaik sepanjang masa.
Pada 18 Januari, 41 tahun lalu, Josep Guardiola kecil lahir dari pasangan Valenti dan Dolors. Laki-laki yang memiliki nama lengkap Josep Guardiola i Sala ini adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Pep Guardiola, begitu dia dikenal, diapit Francesca dan Olga, dua kakak perempuannya, dan Pere, si bungsu.
Tumbuh dan berkembang sebagai seorang Catalan, sama seperti anak kecil lainnya, Pep juga ingin mengenakan seragam merah-biru, seragam kesebelasan kebanggaan mereka, Barcelona. Maka tak heran, ketika memasuki usia sekolah, Pep tak pernah lepas dari bola. Sepanjang hari, Pep selalu memainkan bola kesayangannya. Tak jarang, dia memecahkan jendela kaca rumah tetangganya atau bahkan membuat kabel listrik terputus.
Toni Valverde, sahabat karib Pep seperti dikutip kantor berita AP, menuturkan, Placa de la Generalitat, alun-alun kecil Santpedor, menjadi saksi perjalanan awal Pep sebagai pemain sepak bola. Setiap hari Pep membawa bola kesayangannya ke alun-alun kota, yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Hingga akhirnya pada usia 13 tahun, dia direktrut akademi sepak bola La Masia, akademi sepak bola usia dini milik klub yang diimpikannya, FC Barcelona. Perjalanan kariernya pun dimulai.
Sederhana dan filosofi semut
Sebagai pesepak bola yang berasal dari keluarga kelas pekerja atau kelas menengah di Spanyol, nilai-nilai yang diturunkan oleh keluarga tecermin dalam kehidupannya sehari-hari. Sopan santun, empati terhadap kaum yang lemah, bekerja keras, dan sederhana. Sebagai warga Catalan, filosofi kerja koloni semut terpatri sangat kuat di dirinya.
”Keberhasilan Barcelona bukan semata kerja keras saya sendiri. Asisten pelatih, pelatih fisik, dokter tim, fisioterapis dan lainnya. Ada 26 orang anggota staf kepelatihan, di luar para pemain, yang mendukung tim ini. Keberhasilan Barcelona adalah keberhasilan bersama. Bukan Pep Guardiola semata,” tuturnya.
Kebersamaan dalam membangun sebuah tim, itulah yang ia maksud sebagai filosofi semut. Di tim Barcelona pun, banyaknya bintang akan menjadi percuma tanpa menyatunya mereka sebagai tim.
Kesederhanaan menjadi ciri khasnya sebagai pelatih, yang juga diterapkannya dalam sepak bola. Kesederhanaan ini, dianggap oleh Pelatih Manchester United (MU) Sir Alex Ferguson, sebagai sebuah seni, seni modern dalam sepak bola.
Para pemain Barca diajarkan untuk melihat lapangan hijau, lapangan sepak bola, terbagi dalam delapan kotak yang semuanya harus dikuasai. Saat dinyatakan lulus dari akademi La Masia, pemain Barca harus belajar berpikir dua hal dalam satu waktu yang bersamaan, yaitu meski mereka menyerang, pada saat yang sama mereka juga harus bertahan.
Xavi Hernandez mengatakan, ”Cepat berpikir, mencari ruang kosong. Itu yang aku lakukan, mencari ruang kosong. Sepanjang hari, di setiap pertandingan, aku selalu mencari ruang kosong. Ruang, ruang, ruang. Orang yang tidak pernah bermain, tidak mengerti sulitnya mencari ruang kosong. Bila tidak berpikir dan bertindak cepat, pemain lawan menghadang. Ketika melihat ruang kosong, aku membagi bola. Itu yang aku kerjakan.”
Xavi, bersama Andres Iniesta, Lionel Messi, dan Cesc Fabregas, adalah tulang punggung strategi tiki-taka yang diusung oleh Pep. Dari mereka bertigalah, serangan Barca mulai dibangun dan pada mereka pulalah benteng pertahanan Barca dibangun.
Dalam empat tahun menangani Xavi Hernandez dan kawan-kawan, Guardiola memberikan pemahaman baru pada sepak bola menyerang yang mematikan, tanpa harus tampil garang atau keras. Filosofi bermain Guardiola lebih menekankan pada akurasi umpan dan penguasaan bola untuk kemudian sebanyak mungkin mencetak peluang dan gol.
Dengan fokus pada penguasaan bola dan akurasi umpan, gaya yang dikembangkan Guardiola kemudian justru terasa efektif dengan pemain-pemain yang bangun tubuhnya cenderung mungil untuk ukuran Eropa. Xavi, Iniesta, dan Messi, yang perannya digeser sebagai target man setelah cederanya David Villa, adalah tipikal pemain mungil yang bergerak bebas berkat tingginya tingkat akurasi umpan di antara mereka. Inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan tiki-taka, umpan-umpan pendek, cepat, dan tipis mengiris di antara kaki-kaki lawan.
Sistem bermain inilah yang mencetak 13 gelar plus catatan statistik yang mengesankan, yaitu 175 menang, 21 seri, 46 kalah, dengan rekor gol 618-178 dalam empat tahun Guardiola yang terasa pendek di Nou Camp.
Pep mengatakan, tidak ada yang luar biasa dalam caranya menangani Lionel Messi dan kawan-kawan. Seluruh aspek manajerial yang biasa dilakukan di organisasi, dilakukannya di Barca.
Mengapa akhirnya memutuskan menjadi pelatih klub sepak bola?
Ketika muda, saya bermain bola. Namun, ketika usia sudah tidak memungkinkan lagi, saya menggunakan otak dan pikiran untuk meracik, merancang permainan bagi anggota tim.
Anda menjadi pelatih sebuah klub besar dan sekumpulan pemain bintang. Bagaimana mengontrol mereka agar bermain dengan tujuan yang sama?
Hal itu memang tidak mudah. Pada akhirnya Anda harus ingat mereka adalah manusia biasa. Anda harus mengerti bahwa setiap orang berbeda dan beragam. Anda tidak berada di sana untuk mengubah perilaku mereka.
Anda berada di sana hanya untuk mengerti mereka, meyakinkan mereka, dan membuat mereka menjadi berjuang bersama untuk mencapai tujuan. Meyakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukan apa pun, apalagi bila dilakukan bersama-sama.
Hal itu pasti bisa diterapkan di tempat lain. Ini adalah aturan manajerial biasa. Bila di pabrik ada seragam kerja. Di lapangan, juga sama, ada seragam yang dikenakan. Yang harus Anda lihat dan pahami adalah siapa makhluk yang ada di balik seragam itu. Manusia biasa, yang memiliki masalah, ketidakamanan dan ketidaknyamanan dengan diri sendiri dan lingkungan. Tugas sebagai pelatih adalah mengembangkan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.
Setiap bangsa memiliki budaya. Anda harus mencoba mengerti dan bahkan berbicara empat mata. Tidak jarang Anda harus nongkrong bersama mereka untuk bisa memahami dan memberikan penjelasan. Setiap keputusan yang diambil adalah bagian upaya mencapai tujuan bersama. Garis bawahnya adalah Anda harus memanusiakan mereka (para pemain).
Kalau mereka sudah tidak memiliki lagi hasrat untuk bermain sepak bola di level yang lebih tinggi, tak mungkin Anda tetap membiarkannya bermain bersama anggota tim lainnya.
Apa yang sebenarnya Anda lakukan sehingga mendapatkan hasil terbaik dari para pemain?
Sepak bola adalah hal yang luar biasa. Bukan 2 + 2 > 4. Banyak hal memengaruhi sebuah pertandingan. Yang terpenting adalah mengelola informasi dan mengubahnya menjadi sebuah keputusan, berdasarkan latar belakang yang sudah dimiliki.
Dalam sebuah pertandingan, kekuatan dan kelemahan tim yang akan menjadi lawan Anda pada saat itu. Ketika Anda sudah memiliki informasi, menyerapnya, dan membuat putusan dalam bentuk strategi, Anda tinggal memvisualkannya bagi semua anggota tim. Saya akan memberi tahu anggota tim bila bertemu dengan tim A, ini adalah kekuatan dan kelemahannya. Begitu juga dengan tim-tim lain yang harus dihadapi.
Bagaimana Anda menangani tekanan berat? Terutama bila menghadapi pertandingan penting.
Saat bergabung, manajemen sebenarnya sudah memiliki penilaian sendiri terhadap kemampuan para pemain untuk menghadapi tekanan berat. Beberapa pemain bahkan sangat senang berada dalam kondisi tertekan. Mereka menikmati hal itu.
Yang terpenting dilakukan adalah membangkitkan rasa percaya diri dan mengontrolnya.
Saya juga merasakan tekanan. Tapi, ketika saya telah memiliki informasi dan mengenali permainan tim pesaing, tekanan itu menjadi berkurang.
Sebenarnya hasrat Anda lebih pada bermain sepak bola atau menjadi pelatih, menangani sebuah klub sepak bola?
Saya sangat menikmati bermain sepak bola. Hmmmm… (agak terbata-bata menjawab). Saya pikir saya lebih menikmati peran sebagai pesepak bola.
Sebagai pelatih, Anda tidak memiliki kekuatan yang sebenarnya di lapangan dan pada sebuah pertandingan. Tapi, sebagai pesepak bola, ketika bola berada di kaki Anda, semuanya bergantung pada Anda. Bukan pada pelatih atau siapa pun juga. Anda yang mengendalikan semuanya.
Apa keputusan yang paling sulit selama menjadi pelatih Barcelona?
Menetapkan pemain yang akan bertanding. Tidak mudah untuk menentukan pemain yang akan turun di lapangan ketika saat berlatih mereka menunjukkan kemauan dan kemampuannya. Tidak gampang.
Apakah menjadi pesepak bola yang sukses akan menjadi jaminan akan menjadi pelatih yang sukses pula?
Tidak ada aturan baku untuk itu. Tidak ada yang bisa menjamin bila Anda sukses sebagai pemain, Anda akan sukses sebagai pelatih. Atau sebaliknya.
Banyak pelatih sukses ternyata tidak sukses sebagai pemain. Ketika Anda memiliki kemauan untuk berlatih, belajar terus-menerus, belajar dari kesalahan dan kekalahan, teguh.