Aburizal Siap Maju Jadi RI 1

Kompas.com - 02/07/2012, 03:36 WIB

Bogor, Kompas - Pemimpin jangan dilihat dari apa yang diucapkan, tetapi dari yang dia perbuat. Pemimpin juga seperti nakhoda kapal, dan nasib terburuk penumpang kapal adalah jika nakhodanya bimbang dan ragu, terombang-ambing dalam tujuan yang kabur, dan saling bertentangan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie saat pendeklarasian dirinya sebagai calon presiden dari Partai Golkar di Pemilu 2014. Selain fungsionaris Partai Golkar, acara yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (1/7), ini juga dihadiri, antara lain, oleh Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Adapun karangan bunga berisi ucapan selamat dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri terlihat di lokasi acara.

”Sebagai sesama ketua umum partai, saya hadir untuk mengucapkan selamat kepada Pak Aburizal yang hari ini mendeklarasikan dirinya sebagai capres. Saya ucapkan selamat, dan selamat berjuang,” kata Anas sebelum memasuki lokasi acara deklarasi.

Kemeriahan terpancar dari acara deklarasi yang dihadiri belasan ribu orang ini. Tepuk tangan beberapa kali terdengar, terutama saat pertunjukan drama musikal Anas Sejuta Bintang. Komentar peserta juga sempat riuh terdengar saat ditampilkan petikan pernyataan Presiden Republik Indonesia, mulai dari Soekarno sampai Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, sejumlah peserta deklarasi terlihat mulai meninggalkan tempat duduk ketika pertunjukan drama musikal tersebut berakhir dan disusul dengan acara seperti pembacaan deklarasi 1 Juli yang menegaskan Aburizal sebagai capres dari Golkar. Deklarasi itu dibacakan oleh Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Jawa Barat Irianto MS Syaifuddin, didampingi 32 ketua DPD I Golkar, unsur pimpinan ormas yang didirikan dan mendirikan Golkar, serta sejumlah organisasi sayap partai tersebut.

Setelah itu, Aburizal menyampaikan pidato deklarasi. Dalam pidatonya, Aburizal antara lain mengatakan, membuat janji dengan seribu kembang kata-kata bukanlah hal yang sulit. Namun, tantangan terbesar seorang pemimpin adalah mewujudkan kata menjadi perbuatan, serta menjaga satunya kata dan perbuatan. Dan, salah satu tugas terpenting presiden adalah menjadi nakhoda yang memberikan arah bagi kapal besar Republik Indonesia, serta memastikan kapal tersebut berjalan menuju arah yang dituju.

J Kristiadi dari Centre for Strategic and International Studies menuturkan, pidato Aburizal tersebut dapat dilihat sebagai sindiran terhadap pihak lain. Akan tetapi, di saat yang sama, pidato itu juga dapat dilihat hanya sebagai retorika yang dapat berbalik menyerang Aburizal. Pasalnya, ada sejumlah janji Aburizal untuk partainya yang belum dipenuhi, misalnya memberikan dana abadi Rp 1 triliun dan membangun kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar di kawasan Slipi, Jakarta, menjadi gedung bertingkat.

”Rakyat sudah semakin cerdas untuk menilai, mana pernyataan yang hanya retorika dan mana yang benar-benar bermakna. Kini juga semakin disadari, perjuangan menegakkan kekuasaan yang benar tidak ubahnya dengan perjuangan melawan lupa,” tambah Kristiadi.

Sementara itu, menjawab pertanyaan wartawan di Yogyakarta, kemarin, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X belum bersedia diusulkan sebagai calon wakil presiden mendampingi Aburizal Bakrie.

”Jangan dululah, masih terlalu dini. Saya belum bersedia (dicalonkan),” kata Sultan.

Terkait pengukuhan Aburizal sebagai capres, Sultan sebagai kader Partai Golkar menyatakan setuju. ”Bagi saya, pencalonan itu tidak masalah. Silakan saja kalau memang itu menjadi keputusan partai. Perkara menang atau kalah rakyat sendirilah yang akan memilih,” katanya.

Di Yogyakarta, dukungan pencalonan Sultan sebagai cawapres mulai terlihat, salah satunya di perempatan Gramedia, Jalan Suroto, Kotabaru. Dua buah baliho besar bergambar Aburizal sebagai capres dan Sultan sebagai cawapres terpampang di depan kantor DPD Partai Golkar DI Yogyakarta.

Usung Sultan

Ketua DPD Partai Golkar DI Yogyakarta Gandung Pardiman mengatakan, pihaknya sepakat untuk mengusung Sultan sebagai pendamping Aburizal dalam Pemilu Presiden 2014.

”Sultan kami pilih karena beliau adalah sosok kuat dari Pulau Jawa dan terbukti memiliki filosofi kenegarawanan,” paparnya. (ABK/NWO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau