Ormas Perlu Diberdayakan

Kompas.com - 03/07/2012, 04:44 WIB

jakarta, kompas - Kasus kekerasan yang melibatkan anggota organisasi kemasyarakatan kembali terjadi. Pemerintah diminta aktif melakukan antisipasi dan pendekatan supaya kekerasan semacam itu tidak berulang. Pemerintah juga mempunyai tanggung jawab memberdayakan anggota mereka di akar rumput dari sisi ekonomi.

AH (25), warga Cengkareng Timur, Jakarta Barat, menjadi korban pengeroyokan sejumlah anggota organisasi kemasyarakatan (ormas), Minggu (1/7) sekitar pukul 22.00.

”Korban sedang duduk di salah satu posko di Jalan Bangun Nusa bersama beberapa rekannya. Tiba-tiba sekitar 20 orang beratribut salah satu ormas melintas dan langsung memukuli dia,” kata Kepala Kepolisian Sektor Cengkareng Komisaris Ruddy Reinewald, Senin.

Ini merupakan kasus kekerasan kedua di Cengkareng dalam tiga hari terakhir. Sabtu malam, S (53), anggota satpam sebuah mal di Cengkareng, juga diserang segerombolan orang berseragam ormas. S kebetulan mengenakan kaus warna oranye atribut sebuah ormas.

Keterangan Kapolsek Cipondoh, Tangerang Kota, Komisaris Suyono, pada Senin pagi, pihaknya juga mendapat laporan warga, ada gardu sebuah ormas di Petir, Cipondoh, yang terbakar. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut karena gardu dalam kondisi kosong.

”Kejadian diperkirakan terjadi sekitar pukul 05.00. Kami sedang melakukan penyelidikan terhadap kasus ini,” kata Suyono.

Peran pemerintah

Direktur Bina Mitra Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yosi Hariyoso mendorong pemerintah menyelesaikan persoalan ini dengan menciptakan lapangan kerja. Persoalan ini tidak bisa dibebankan kepada kepolisian semata.

”Pertemuan dengan ormas di wilayah kami sudah sering kami lakukan. Pemimpin ormas juga sudah bertemu dan menandatangani komitmen damai. Namun, persoalan meletus di tataran akar rumput karena soal perut, soal harga diri, soal lahan parkir. Ini tugas pemerintah. Tugas kita semua menciptakan lapangan pekerjaan. Carikanlah itu, (program kerja) padat karya,” tuturnya.

Menanggapi dua kejadian itu, Wali Kota Jakarta Barat Burhanuddin mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendekatan terhadap ormas-ormas yang terlibat pertikaian.

”Sebenarnya di tingkat pimpinan ormas sudah tidak ada persoalan, tetapi di tingkat akar rumput berbeda dalam praktiknya,” katanya.

Menurut Burhanuddin, pemerintah sudah menengahi sampai tingkat paling bawah dan melakukan pembinaan. Akan tetapi, ormas sendiri yang harus bisa menahan emosi anggotanya.

Secara terpisah, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany mengatakan, pihaknya saat ini tengah menganalisis akar permasalahan terkait dengan gesekan antar-ormas.

”Kami akan lihat dulu akar permasalahannya sehingga nantinya didapat solusi yang tepat. Insya Allah rapat untuk menindaklanjuti hal tersebut dilakukan pada minggu ini,” ujarnya.

Penuturan Airin, Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Tangsel juga terus melakukan komunikasi antar-ormas agar mengendalikan oknum anggotanya.

”Oknum susah dikendalikan. Ini persoalan,” kata Airin.

Parpol bertanggung jawab

Menanggapi fenomena terjadinya benturan antar-ormas, Ketua Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nicolaas Warouw berpandangan, pemerintah pusat, daerah, polisi, dan partai politik ikut bertanggung jawab.

Nicolaas berpendapat, pertumbuhan ormas yang cenderung melakukan tindak kekerasan tidak lepas dari peran parpol. ”Hampir semua ormas berseragam yang berani melawan polisi itu terafiliasi dengan parpol tertentu. Ini adalah bagian dari langkah parpol melakukan perekrutan massa lewat simbol-simbol kelokalan, sentimen primordial,” paparnya.

Pada musim pemilu atau pilkada, ormas juga dimanfaatkan maksimal, diberi fasilitas dan logistik istimewa. Akan tetapi, setelah itu, ormas-ormas ini dibiarkan mencari nafkah sendiri.

Parpol tidak secara rutin ”menafkahi” ormas ini, sementara di sisi lain ormas dan lingkungan keluarga anggotanya yang umumnya kurang mampu tidak mendapat cukup akses pelayanan publik atau peluang usaha lain. Akhirnya, aksi kekerasan menjadi andalan mencari nafkah.

Pemerintah daerah juga terus membiarkan pertarungan akibat persaingan di antara ormas di akar rumput. ”Di sinilah tanggung jawab pemerintah daerah,” ujar Nicolaas.

Pemerintah pusat juga membiarkan pertumbuhan ormas menjadi liar tak terkendali. Mereka berebut lahan nafkah dengan memakai seragam beratribut militer, agama, atau seragam jagoan-jagoan daerah.

Perlindungan politik parpol terhadap ormas-ormas ini juga membuat polisi ragu menindak aksi kekerasan yang dilakukan. Polisi akhirnya memberi apologia kekerasan atas nama demokrasi.

(FRO/CAS/RTS/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau