Meraih Beasiswa ke Jepang, Bersiap Menuju "Global Network"

Kompas.com - 05/07/2012, 21:18 WIB

BEPPU, KOMPAS.com - Selain beasiswa untuk membantu biaya kuliah, daya tarik menempuh studi di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, adalah pembelajaran berkonsep internasional menuju pencapaian global network. Mahasiswa APU tidak dididik hanya dari sisi akademik, tetapi juga sangat menekankan pergaulan internasional melalui kegiatan-kegiatan nonakademik.

"Dari awal sekolah niat saya memang ingin studi tentang bisnis. Jadi, ketika berpikir soal bisnis, saya pun otomatis berpikir juga soal kekuatan jaringan yang bukan hanya skala nasional, melainkan juga internasional. Untuk itu, saya menetapkan pergi ke Jepang, ke APU ini, untuk membuka wawasan baru tentang global network," kata Aryanadewi Wignjosoesastro, mahasiswi Asia Pacific Management di Retsumeikan APU, saat ditemui Kompas.com di Kampus APU, Beppu, Jepang, Kamis (5/7/2012).

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan membiayai kuliah dengan cara self payment, lanjut Aryanadewi, ia mencari beasiswa. Kebetulan, APU menyediakan beasiswa untuk bisa mewujudkan tekadnya yang bulat itu.

"Saya pikir ini jodoh. Saya ingin berbisnis, bisa sekolah tentang manajemen bisnis, serta punya network internasional, maka tidak saya sia-siakan," ujar lulusan SMA Loyola Semarang, Jawa Tengah, ini.

Namun, lanjut dia, studi dengan mementingkan sisi akademis pun tidak cukup untuk menempa jiwa bisnisnya. Untuk itulah, selain bisa membantu meringankan beban biaya hidup kiriman dari orang tuanya, Aryanadewi mencari part time job atau kerja paruh waktu. Dia bilang, bekerja paruh waktu sambil kuliah di Jepang bisa membantunya belajar praktik berbisnis, perilaku bisnis bangsa lain, serta membuka jaringan.

"Intinya belajar. Ya, belajar mengenal orang, belajar time management yang baik karena rata-rata orang di sini sangat disiplin waktu, serta belajar bahasa Jepang sebagai modal lain saya membuka jaringan," ucap Aryanadewi.

Aryanadewi mengaku, apapun bisa ia kerjakan. Mulai kerja sambilan sebagai guru les bahasa Inggris, menjadi pelayan di Cafe & Sweet Momotarou, dan saat ini menjadi System Asisstant (SA) di Kampus APU, pernah ia lakoni.

"Bahkan, saya pernah kerja paruh waktu untuk membantu panen di ladang milik orang Jepang. Lumayan, mengisi libur dengan cari tambahan dan pengalaman," ucapnya.

Tak ubahnya Aryanadewi, tekad kuat juga melandasi kepergian Stefani V.S. Kosasih, mahasiswi tingkat di Asia Pacific Studies (APS) bidang studi International Governance di APU. Menurut dia, studi ke luar negeri, jika hanya menuruti kemauan orang tua dan tanpa dilandasi niatan kuat dari mahasiswa yang bersangkutan, bisa berantakan di tengah jalan. Apalagi, jika studi berlangsung selama bertahun-tahun dengan bantuan beasiswa, rasanya akan sia-sia.

"Pokoknya saya ingin sekolah ke luar (luar negeri), terserah ke mana saja. Waktu itu tak pernah terpikir ke Jepang, karena yang saya tahu kuliah di Jepang itu harus berbahasa Jepang. Ternyata, setelah mencari tahu dan bahkan dapat beasiswa, di sini saya belajar secara bilingual, Inggris dan Jepang," tutur Stefani.

Beruntung, kata Stefani, banyaknya kegiatan nonakademik di APU membantunya menambah wawasan dan pengalaman yang kelak akan menunjang keinginannya bekerja di kedutaan besar. Meskipun bukan berbentuk part time job seperti dilakukan Aryanadewi, pengalamannya bekerja sambilan banyak didapatkan sebagai teaching assistant.

"Saya juga aktif di kegiatan-kegiatan kampus seperti Indonesia Week. Pernah juga dapat pengalaman internship di KJRI Jepang," tuturnya.

Tawaran kerja

Berdasarkan data Student Enrollment Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) tahun ajaran baru periode Mei 2012, jumlah mahasiswa Indonesia di APU mencapai 127 mahasiswa dari jenjang sarjana (S-1) dan pascasarjana sebanyak 26 mahasiswa. Dengan total 153 mahasiswa, jumlah tersebut mendudukkan posisi Indonesia sebagai lima besar mahasiswa internasional terbanyak di APU. Posisi pertama ditempati oleh China (783 mahasiswa), disusul kemudian oleh Korea (627 mahasiswa), Vietnam (193 mahasiswa), serta Thailand (166 mahasiswa).

Dean of Admissions APU, Prof Kondo, mengatakan, bahwa angka tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pencapaian prestasi anak-anak mahasiswa Indonesia juga cukup membanggakan dirinya.

"Jumlah anak-anak Indonesia memang tergolong sedikit untuk lima besar. Tetapi, selama dua tahun belakangan ini prestasi akademik mereka terus meningkat dan termasuk paling tinggi di sini. Persaingan yang sangat kompetitif terjadi saat ini antara mahasiswa Indonesia dan Vietnam. Ini cukup membanggakan," ujar Kondo.

Lebih dari itu, kata dia, banyak perusahaan Jepang memberikan penawaran kerja untuk mahasiswa-mahasiswa internasional dari kampus ini, khususnya lulusan dari Indonesia. Adapun daftar perusahaan langganan pemberi lapangan kerja tersebut adalah Toyota Motor Asia Pacific, Rakuten Inc, Panasonic Corporation, Fujitsu Limited, Mizuho Securities Co Ltd, Lawson Inc, Kanebo Cosmetics Inc, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd, Mitsubishi Corporation, IKEA Japan, Fuji Xerox Co Ltd, Kumon Educational Japan Co Ltd, Takeda Pharmaceutical Company Ltd, Yamaha Corporation, Daihatsu Motor Co Ltd, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, Yanmar Co Ltd, serta Funai Consulting Incorporated.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau