Pendidikan Gratis Hanya Euforia Politik

Kompas.com - 10/07/2012, 17:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistyo menilai, pelaksanaan pendidikan gratis hanya bagian dalam euforia politik dan menyederhanakan persoalan. Menurut dia, janji menggratiskan pendidikan pada akhirnya hanya akan menjadi beban kepala sekolah dan para guru.

"Pendidikan gratis hanya euforia politik dan pada kenyataannya hanya menyederhanakan persoalan," kata Sulistyo, kepada Kompas.com, Selasa (10/7/2012), di kantor PGRI, Jakarta.

Ia mengungkapkan, saat ini isu pendidikan menjadi salah satu isu "seksi" yang ditunggangi politikus untuk mencapai tujuannya. Faktanya, pemerintah pusat ataupun daerah belum mampu menyajikan pendidikan gratis tersebut.

Buktinya, kata Sulistyo, terlihat dari bantuan operasional yang diberikan pemerintah pusat dan daerah (BOS-BOP) kepada sekolah belum mampu menutupi seluruh kebutuhan di sekolah. Bantuan tersebut  digelontorkan hanya untuk menutupi satu kebutuhan pokok, yakni kebutuhan operasional. Sementara itu, dua kebutuhan pokok lainnya, seperti investasi dan kebutuhan personal, tidak dipenuhi.

"Namanya saja 'bantuan' operasional, maka sifatnya hanya membantu dan belum menutupi semua. Kalau mau gratis, seharusnya pemerintah bisa konsekuen mengganti namanya jadi 'biaya' dan penuhi semua kebutuhannya," ungkapnya.

Lebih jauh ia mengatakan, banyak daerah yang belum siap menyelenggarakan pendidikan gratis. Akhirnya, terpaksa mengikuti aturan pemerintah daerah karena telanjur berjanji pada saat masa kampanye.

"Akhirnya mengakibatkan penderitaan guru dan kepala sekolah. Terpaksa mengambil guru honor dan digaji rendah," ujar Sulistyo.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau