Delegasi oposisi Suriah, yang dipimpin Ketua Dewan Nasional Suriah (SNC) Abdel Basset Sayda, berada di Moskwa, Rabu (11/7), untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. SNC berusaha meyakinkan Lavrov bahwa situasi di Suriah sudah begitu rumit dan tak bisa lagi diselesaikan dengan cara dialog.
”Berbagai peristiwa di Suriah sudah bukan lagi persoalan perbedaan pendapat antara oposisi dan pemerintah, melainkan sudah menjadi revolusi,” tutur Sayda kepada Lavrov. Sayda bahkan membandingkan situasi di Suriah saat ini dengan momen keruntuhan Uni Soviet tahun 1991.
Sehari sebelumnya, juru bicara SNC, Bassma Kodmani, mengatakan, solusi politik melalui cara dialog dengan rezim yang berkuasa di Suriah sekarang sudah tak mungkin lagi. ”Tak mungkin ada dialog dengan rezim berkuasa. Kami hanya bisa mendiskusikan bagaimana melangkah menuju sistem politik yang berbeda,” tandas Kodmani yang turut berangkat ke Moskwa.
Situasi di Suriah saat ini terus memburuk. Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) mengatakan, jumlah korban tewas dalam konflik berdarah di Suriah sejak Maret 2011 telah mencapai sedikitnya 17.129 orang.
Korban terus berjatuhan, Selasa, setelah pertempuran antara tentara rezim dan pasukan oposisi terjadi di berbagai penjuru Suriah, mulai dari Aleppo dan Idlib di bagian utara, Latakia dan Deraa di barat, hingga Deir al-Zor di bagian timur.
Situasi pun makin mengarah ke konflik sektarian, antara pihak oposisi yang didominasi kelompok Sunni melawan rezim Bashar al-Assad dari kelompok Alawi yang berasosiasi dengan Syiah. Konflik pun dikhawatirkan akan meluas hingga ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah setelah beberapa pemain utama kawasan diduga turut bermain dalam konflik di Suriah.
Sayda mengatakan, revolusi di Suriah membutuhkan campur tangan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) untuk menghentikan gelombang kekerasan.
Namun, Rusia tetap teguh menolak setiap intervensi asing dalam krisis di Suriah. Setelah pertemuan dengan delegasi SNC, Lavrov menegaskan, nasib Suriah harus ditentukan pihak-pihak di Suriah sendiri.
Lavrov juga masih mengharapkan berbagai faksi oposisi di Suriah bisa bersatu untuk menggelar dialog dengan rezim Assad. Menurut Lavrov, sikap Rusia itu didasari pada rencana perdamaian utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan.
Namun, hingga saat ini, rencana perdamaian Annan, yang meliputi keharusan gencatan senjata di antara para pihak di Suriah tak kunjung terwujud. Negara-negara Barat menghendaki cara lain yang bisa memberi terobosan, misalnya dengan ancaman sanksi kepada Suriah.
Namun, langkah ini juga terganjal sikap Rusia. Hari Selasa, Rusia menyebarkan draf resolusi baru kepada semua anggota Dewan Keamanan PBB di New York, AS.
Dalam draf tersebut, Rusia mengusulkan agar masa tugas Misi Pemantauan PBB di Suriah (UNSMIS) diperpanjang tiga bulan setelah masa tugas pertama habis, 20 Juli mendatang. Rusia juga mengusulkan agar UNSMIS menambah para pemantau dari kalangan sipil yang akan membantu proses politik di Suriah.
Akan tetapi, dalam draf resolusi versi Rusia itu, tak disebutkan kemungkinan ancaman sanksi apabila pihak-pihak di Suriah tetap tak melaksanakan rencana perdamaian Annan.
Hari Selasa, Rusia dikabarkan memberangkatkan konvoi 11 kapal perang dari sejumlah armada angkatan lautnya untuk menjalani latihan di kawasan Laut Tengah. Kapal-kapal tersebut dijadwalkan akan berlabuh di fasilitas AL Rusia di Pelabuhan Tartus, Suriah. Rusia mempertahankan fasilitas militernya di Tartus, yang sudah ada sejak era Uni Soviet.