Sikap Rusia Tak Berubah

Kompas.com - 12/07/2012, 02:11 WIB

MOSKWA, RABU - Sikap Rusia terkait krisis di Suriah tak berubah meski delegasi pihak oposisi Suriah berkunjung ke negara itu untuk membujuk Rusia agak berubah sikap. Di Dewan Keamanan PBB, Rusia juga menunjukkan keteguhan sikap untuk menolak setiap ancaman sanksi bagi Suriah.

Delegasi oposisi Suriah, yang dipimpin Ketua Dewan Nasional Suriah (SNC) Abdel Basset Sayda, berada di Moskwa, Rabu (11/7), untuk bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. SNC berusaha meyakinkan Lavrov bahwa situasi di Suriah sudah begitu rumit dan tak bisa lagi diselesaikan dengan cara dialog.

”Berbagai peristiwa di Suriah sudah bukan lagi persoalan perbedaan pendapat antara oposisi dan pemerintah, melainkan sudah menjadi revolusi,” tutur Sayda kepada Lavrov. Sayda bahkan membandingkan situasi di Suriah saat ini dengan momen keruntuhan Uni Soviet tahun 1991.

Sehari sebelumnya, juru bicara SNC, Bassma Kodmani, mengatakan, solusi politik melalui cara dialog dengan rezim yang berkuasa di Suriah sekarang sudah tak mungkin lagi. ”Tak mungkin ada dialog dengan rezim berkuasa. Kami hanya bisa mendiskusikan bagaimana melangkah menuju sistem politik yang berbeda,” tandas Kodmani yang turut berangkat ke Moskwa.

Situasi di Suriah saat ini terus memburuk. Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) mengatakan, jumlah korban tewas dalam konflik berdarah di Suriah sejak Maret 2011 telah mencapai sedikitnya 17.129 orang.

Korban terus berjatuhan, Selasa, setelah pertempuran antara tentara rezim dan pasukan oposisi terjadi di berbagai penjuru Suriah, mulai dari Aleppo dan Idlib di bagian utara, Latakia dan Deraa di barat, hingga Deir al-Zor di bagian timur.

Situasi pun makin mengarah ke konflik sektarian, antara pihak oposisi yang didominasi kelompok Sunni melawan rezim Bashar al-Assad dari kelompok Alawi yang berasosiasi dengan Syiah. Konflik pun dikhawatirkan akan meluas hingga ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah setelah beberapa pemain utama kawasan diduga turut bermain dalam konflik di Suriah.

Sayda mengatakan, revolusi di Suriah membutuhkan campur tangan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) untuk menghentikan gelombang kekerasan.

Namun, Rusia tetap teguh menolak setiap intervensi asing dalam krisis di Suriah. Setelah pertemuan dengan delegasi SNC, Lavrov menegaskan, nasib Suriah harus ditentukan pihak-pihak di Suriah sendiri.

Lavrov juga masih mengharapkan berbagai faksi oposisi di Suriah bisa bersatu untuk menggelar dialog dengan rezim Assad. Menurut Lavrov, sikap Rusia itu didasari pada rencana perdamaian utusan khusus PBB dan Liga Arab, Kofi Annan.

Mencari terobosan

Namun, hingga saat ini, rencana perdamaian Annan, yang meliputi keharusan gencatan senjata di antara para pihak di Suriah tak kunjung terwujud. Negara-negara Barat menghendaki cara lain yang bisa memberi terobosan, misalnya dengan ancaman sanksi kepada Suriah.

Namun, langkah ini juga terganjal sikap Rusia. Hari Selasa, Rusia menyebarkan draf resolusi baru kepada semua anggota Dewan Keamanan PBB di New York, AS.

Dalam draf tersebut, Rusia mengusulkan agar masa tugas Misi Pemantauan PBB di Suriah (UNSMIS) diperpanjang tiga bulan setelah masa tugas pertama habis, 20 Juli mendatang. Rusia juga mengusulkan agar UNSMIS menambah para pemantau dari kalangan sipil yang akan membantu proses politik di Suriah.

Akan tetapi, dalam draf resolusi versi Rusia itu, tak disebutkan kemungkinan ancaman sanksi apabila pihak-pihak di Suriah tetap tak melaksanakan rencana perdamaian Annan.

Hari Selasa, Rusia dikabarkan memberangkatkan konvoi 11 kapal perang dari sejumlah armada angkatan lautnya untuk menjalani latihan di kawasan Laut Tengah. Kapal-kapal tersebut dijadwalkan akan berlabuh di fasilitas AL Rusia di Pelabuhan Tartus, Suriah. Rusia mempertahankan fasilitas militernya di Tartus, yang sudah ada sejak era Uni Soviet.

(AFP/Reuters/AP/DHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau