Pilkada DKI Jakarta mempersembahkan sebuah drama menarik. Hasil yang diperoleh pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama berbanding terbalik dengan perkiraan beberapa survei sejumlah lembaga penelitian. Massa yang sebelumnya masih ragu-ragu (massa mengambang) akhirnya menjadi penentu kemenangan pasangan tersebut.
Massa mengambang yang belum menentukan pilihan, berdasarkan survei Litbang Kompas, mencapai 26 persen. Jumlah ini, jika ditambahkan ke hasil yang diprediksi yang menyebutkan pasangan ini akan memperoleh 18-21 persen, tidak terpaut jauh dari perolehan pasangan Jokowi-Basuki sekarang. Ini menunjukkan bahwa pasangan ini mampu menyedot perhatian massa mengambang.
Meskipun pergelaran Pilkada DKI Jakarta kali ini mempertontonkan sebuah aktualisasi demokrasi yang menarik, antusiasme pemilih Jakarta dalam memilih gubernur diperkirakan tidak meningkat. Bahkan, kali ini, mereka yang apatis, yaitu pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilih, jumlahnya diprediksi melampaui perolehan suara pasangan pemenang, Joko Widodo-Basuki Tjahaja.
Hasil penghitungan cepat Litbang Kompas dalam Pilkada DKI Jakarta, 11 Juli 2012, menunjukkan, tidak kurang dari 33,8 persen pemilih terdaftar di DKI Jakarta tidak menggunakan hak pilih. Proporsi tersebut terangkum dari 400 tempat pemungutan suara sampel Hitung Cepat Kompas yang tersebar pada 43 kecamatan di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta. Berdasarkan sampel itu, dalam tingkat kepercayaan 99 persen, hasil penghitungan cepat ini diperkirakan memiliki selisih ketidakakuratan (margin of error) +/- 1 persen (lihat Grafik).
Dengan demikian, apabila dikaitkan dengan jumlah total pemilih yang tercatat dalam daftar pemilih tetap pilkada sebanyak 6.962.348 pemilih, diperkirakan terdapat sekitar 2,4 juta pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilih dalam pemungutan suara. Rendahnya tingkat partisipasi pemilih terbanyak terjadi di Jakarta Pusat, 36,8 persen. Selanjutnya, berturut- turut terjadi di Jakarta Selatan (35,5 persen), Jakarta Utara (35,2 persen), Jakarta Timur (33,7 persen), dan terendah di Jakarta Barat (29,5 persen).
Jika dikaji, semua proporsi tersebut tidak banyak berbeda dibandingkan dengan pilkada tahun 2007. Saat itu, tercatat sebanyak 34,6 persen atau sekitar 1,9 juta pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilih dengan berbagai alasan.
Besarnya proporsi yang tidak memilih dalam Pilkada DKI Jakarta 2012 semakin mengukuhkan fakta selama ini tentang tingginya apatisme warga DKI Jakarta berpartisipasi dalam setiap ajang kontestasi politik. Pada penyelenggaraan Pemilu Legislatif 2009, Komisi Pemilihan Umum bahkan menempatkan DKI Jakarta sebagai provinsi terendah tingkat partisipasi pemilihnya dari semua provinsi di Indonesia. Saat itu, hampir separuh bagian pemilih terdaftar tidak menggunakan hak pilih.
Tingginya jumlah pemilih terdaftar yang tidak menggunakan hak pilih diprediksi melebihi perolehan suara yang diraih oleh pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012. Dalam pertarungan perebutan dukungan suara, hasil prediksi Hitung Cepat Kompas menunjukkan, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja yang diusung oleh PDI-P dan Partai Gerindra meraih 42,6 persen, atau diperkirakan meraih 1,9 juta suara.
Jika dilihat dari sebaran wilayahnya, proporsi dukungan terhadap pasangan ini agak menonjol di wilayah Jakarta Barat, 48,4 persen. Proporsi terendah pasangan ini diperoleh di Jakarta Selatan, 39,1 persen.
Hasil survei pasca-pilkada (exit poll) yang dilakukan Kompas menunjukkan, pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja didukung oleh berbagai identitas pemilih. Dari sisi jenis kelamin, proporsi pria relatif lebih besar daripada perempuan. Dari sisi pendidikan tergolong merata, tetapi pendidikan tinggi cukup menonjol.
Dari sisi pekerjaan, karyawan swasta dan wirausaha terlihat cukup dominan. Di sisi status ekonomi, sekalipun tampak merata pada berbagai kalangan, proporsi mereka yang berstatus ekonomi tinggi lebih menonjol dibandingkan dengan pasangan lain. Yang menarik, pasangan ini tidak hanya didukung oleh simpatisan PDI-P dan Gerindra, tetapi juga dari Demokrat, Golkar, hingga kalangan pemilih pemula.
Dukungan pemilih terbesar kedua diraih pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. Pasangan yang didukung oleh Partai Demokrat, PAN, PKB, PBB, Partai Matahari Bangsa, Partai Hanura, dan PKNU itu meraih 34,4 persen suara. Proporsi yang diraih Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli tampak merata di seluruh wilayah Jakarta, proporsi tertinggi di Jakarta Pusat (35,9 persen) dan terendah di Jakarta Utara (32,6 persen).
Dari sisi pemilih, hasil survei pasca-pilkada menyimpulkan, pendukung Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli terbesar berasal dari kalangan sosial-ekonomi menengah ke bawah, baik dari sisi pendidikan maupun status ekonomi. Dari sisi partai politik, simpatisan Demokrat tetap jadi tulang punggung pasangan ini. Namun, pemilih yang mengaku menjadi simpatisan partai politik lain amat minim yang mendukung pasangan ini.
Posisi ketiga ditempati pasangan Hidayat Nur Wahid-Didik J Rachbini. Pasangan yang didukung PKS ini meraup 11,4 persen. Dukungan tampak menonjol di wilayah Jakarta Selatan dan terendah di Jakarta Barat. Dari sisi partai, dukungan PKS sangat dominan bagi pasangan ini.
Selanjutnya, hasil hitung cepat secara berturut-turut menempatkan pasangan yang melaju dari jalur perseorangan, Faisal Basri-Biem T Benjamin, dengan perolehan 5,1 persen suara. Alex Noerdin-Nono Sampono, yang didukung Partai Golkar, PPP, berikut 16 parpol lain, diperkirakan mengumpulkan 4,7 persen suara. Sementara Hendardji Soepandji-Ahmad Riza Patria, pasangan dari jalur perseorangan, diperkirakan meraih 1,9 persen suara.
Dengan proporsi yang diraih setiap pasangan kandidat tersebut, jalannya pilkada diperkirakan akan berlanjut pada putaran kedua. Peraih suara tertinggi, Joko Widodo-Basuki Tjahaja, belum mencapai proporsi di atas 50 persen dukungan suara, sebagaimana disyaratkan dalam Pasal 11 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta sebagai Ibu Kota Negara. Oleh karena itu, sesuai Pasal 2 undang-undang tersebut, akan diadakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua.
Dalam hal ini, dua besar peraih suara terbanyak, yaitu pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli, akan bertarung kembali pada pilkada putaran kedua.
(Litbang Kompas)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang