PUTUSSIBAU, KOMPAS -
Residu minyak mentah biasa digunakan untuk membuat karet sintetis sehingga saat harga minyak mentah dunia turun harga karet alam ikut turun. Sejumlah petani di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sekadau, Kamis (12/7), mengatakan, para petani terpaksa menyimpan sebagian besar getah karet karena harga terlalu rendah.
Edi Mustafa (45), petani di Desa Sungai Besar, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan, para petani masih enggan menjual karet dalam jumlah besar. ”Harga karet turun terlalu drastis sehingga rugi kalau dijual banyak. Yang dijual umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja,” kata Edi.
Rozali (65), petani lain di Kecamatan Nanga Silat, Kapuas Hulu, mengatakan, saat ini harga karet justru hanya Rp 6.000 per kilogram. Dua bulan lalu harga karet masih Rp 14.000 per kg. ”Sekarang, harga karet lebih rendah dibandingkan harga beras yang sudah mencapai Rp 8.000 per kg,” ujar Rozali.
Laurensius Turut (55), petani di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, mengatakan, harga karet turun dari Rp 14.000 menjadi
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar Maman Surachman mengatakan, penurunan harga karet merata di semua wilayah Kalbar. Menurut dia, harga karet sangat dipengaruhi harga minyak dunia.
”Harga karet berfluktuasi mengikuti harga minyak mentah dunia. Namun, sampai saat ini umumnya harga belum menyentuh harga pokok produksi petani sehingga walaupun sedikit, petani masih mendapat keuntungan,” kata Maman.
Sementara itu, pasokan tembakau yang melimpah seiring datangnya musim panen raya di wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memicu anjloknya harga komoditas ini di tingkat petani.
Achmad Syaiful (38), petani tembakau di Desa/Kecamatan Kertek, Kamis, mengatakan, saat ini, harga tembakau daun kering Rp 50.000 per kg dari sebelumnya dihargai Rp 60.000 hingga
”Padahal, panen di awal musim kemarau seperti sekarang, kualitas tembakau sedang bagus-bagusnya. Tapi sekarang ini harganya yang enggak bagus,” ujar Syaiful yang memiliki lahan sekitar setengah hektar.
Penurunan harga jual tembakau diduga akibat melimpahnya pasokan seiring musim panen tembakau secara bersamaan di beberapa kecamatan. Di Wonosobo terdapat lima daerah penghasil utama tembakau, yakni Kecamatan Kejajar, Watumalang, Kalikajar, Kertek, serta Garung dengan luas lahan sekitar 8.000 hektar.
Menurut Siti Dursinah (45), petani tembakau Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar, tahun lalu, satu bidang ladang tembakau dengan jumlah pohon sekitar 1.700 batang ditebas tengkulak seharga lebih dari Rp 6 juta. Artinya, satu pohon tembakau dihargai sekitar Rp 4.000.
Namun, pada musim panen kali ini, dengan jumlah batang yang sama, tengkulak hanya berani menawar Rp 5,5 juta atau
Sekretaris Laskar Kretek Wonosobo Risto Mulyo mengatakan, harga tembakau kemungkinan bisa semakin turun mengingat saat ini masih terjadi tarik ulur kepentingan terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Pertembakauan di pemerintah pusat.