Harga Karet Anjlok

Kompas.com - 13/07/2012, 03:40 WIB

PUTUSSIBAU, KOMPAS - Harga getah karet di sejumlah daerah Kalimantan Barat turun dari Rp 16.000 per kilogram menjadi Rp 9.000 per kilogram. Kondisi itu dipengaruhi oleh turunnya harga minyak mentah dunia. Di Wonosobo, Jawa Tengah, panen raya memicu anjloknya harga tembakau.

Residu minyak mentah biasa digunakan untuk membuat karet sintetis sehingga saat harga minyak mentah dunia turun harga karet alam ikut turun. Sejumlah petani di Kabupaten Kapuas Hulu dan Kabupaten Sekadau, Kamis (12/7), mengatakan, para petani terpaksa menyimpan sebagian besar getah karet karena harga terlalu rendah.

Edi Mustafa (45), petani di Desa Sungai Besar, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, mengatakan, para petani masih enggan menjual karet dalam jumlah besar. ”Harga karet turun terlalu drastis sehingga rugi kalau dijual banyak. Yang dijual umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja,” kata Edi.

Rozali (65), petani lain di Kecamatan Nanga Silat, Kapuas Hulu, mengatakan, saat ini harga karet justru hanya Rp 6.000 per kilogram. Dua bulan lalu harga karet masih Rp 14.000 per kg. ”Sekarang, harga karet lebih rendah dibandingkan harga beras yang sudah mencapai Rp 8.000 per kg,” ujar Rozali.

Laurensius Turut (55), petani di Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, mengatakan, harga karet turun dari Rp 14.000 menjadi Rp 10.000 per kg. ”Para petani mengeluhkan harga karet yang turun karena menjadi penghasilan sehari-hari petani,” ujar Turut.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar Maman Surachman mengatakan, penurunan harga karet merata di semua wilayah Kalbar. Menurut dia, harga karet sangat dipengaruhi harga minyak dunia.

”Harga karet berfluktuasi mengikuti harga minyak mentah dunia. Namun, sampai saat ini umumnya harga belum menyentuh harga pokok produksi petani sehingga walaupun sedikit, petani masih mendapat keuntungan,” kata Maman.

Tembakau melimpah

Sementara itu, pasokan tembakau yang melimpah seiring datangnya musim panen raya di wilayah Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, memicu anjloknya harga komoditas ini di tingkat petani.

Achmad Syaiful (38), petani tembakau di Desa/Kecamatan Kertek, Kamis, mengatakan, saat ini, harga tembakau daun kering Rp 50.000 per kg dari sebelumnya dihargai Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per kg.

”Padahal, panen di awal musim kemarau seperti sekarang, kualitas tembakau sedang bagus-bagusnya. Tapi sekarang ini harganya yang enggak bagus,” ujar Syaiful yang memiliki lahan sekitar setengah hektar.

Penurunan harga jual tembakau diduga akibat melimpahnya pasokan seiring musim panen tembakau secara bersamaan di beberapa kecamatan. Di Wonosobo terdapat lima daerah penghasil utama tembakau, yakni Kecamatan Kejajar, Watumalang, Kalikajar, Kertek, serta Garung dengan luas lahan sekitar 8.000 hektar.

Menurut Siti Dursinah (45), petani tembakau Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar, tahun lalu, satu bidang ladang tembakau dengan jumlah pohon sekitar 1.700 batang ditebas tengkulak seharga lebih dari Rp 6 juta. Artinya, satu pohon tembakau dihargai sekitar Rp 4.000.

Namun, pada musim panen kali ini, dengan jumlah batang yang sama, tengkulak hanya berani menawar Rp 5,5 juta atau Rp 3.000 per batang. Ketua II Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Wonosobo Irawan mengakui, pada awalnya petani berharap hasil panen yang bagus dapat meningkatkan pendapatan mereka. ”Tapi cuaca sebulan terakhir yang tak banyak hujan menurunkan kelembaban tanah. Tembakau jadi lebih segar,” jelasnya.

Sekretaris Laskar Kretek Wonosobo Risto Mulyo mengatakan, harga tembakau kemungkinan bisa semakin turun mengingat saat ini masih terjadi tarik ulur kepentingan terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang dan Rancangan Peraturan Pemerintah Pertembakauan di pemerintah pusat. (AHA/GRE)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau