BERLIN, KOMPAS.com — Pemerintah Jerman menghentikan aktivitas delapan pembangkit listrik bertenaga nuklir sejak setahun terakhir. Penggunaan energi nuklir untuk kebutuhan listrik sepenuhnya akan berakhir pada 2022.
"Secara bertahap penggunaan energi nuklir dikurangi, hingga berhenti total tahun 2022," kata Laure Kaelble, Expert for Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation, and Nuclear Safety of Germany, di Berlin, Jumat (13/7/2012).
Bencana akibat nuklir yang terjadi di kawasan Fukushima telah signifikan memengaruhi keputusan Jerman untuk segera meninggalkan energi nuklir. Tahun lalu, Jerman masih memanfaatkan energi nuklir sekitar 18 persen dari total suplai listrik. Jerman menghentikan pemanfaatan delapan pembangkit nuklir, yang berdampak terhadap penurunan pasokan listrik dari energi ini menjadi 9,5 persen. Saat ini masih tersisa sembilan pembangkit. Selanjutnya, penutupan pembangkit listrik nuklir yang tersisa akan berlanjut pada 2015, 2017, 2019, 2021, dan 2022.
Permintaan listrik di Jerman mencapai 80 gigawatt, sebagian besar dipenuhi dari energi fosil dan nuklir. Selain nuklir, sumber energi dari minyak bumi mencapai 32,1 persen, batubara 26,3 persen, dan gas alam 22,8 persen. Adapun suplai dari energi terbarukan masih sekitar 10,3 persen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang