Jerman Tinggalkan Energi Nuklir

Kompas.com - 13/07/2012, 18:39 WIB

BERLIN, KOMPAS.com — Pemerintah Jerman menghentikan aktivitas delapan pembangkit listrik bertenaga nuklir sejak setahun terakhir. Penggunaan energi nuklir untuk kebutuhan listrik sepenuhnya akan berakhir pada 2022.

"Secara bertahap penggunaan energi nuklir dikurangi, hingga berhenti total tahun 2022," kata Laure Kaelble, Expert for Federal Ministry for the Environment, Nature Conservation, and Nuclear Safety of Germany, di Berlin, Jumat (13/7/2012).

Bencana akibat nuklir yang terjadi di kawasan Fukushima telah signifikan memengaruhi keputusan Jerman untuk segera meninggalkan energi nuklir. Tahun lalu, Jerman masih memanfaatkan energi nuklir sekitar 18 persen dari total suplai listrik. Jerman menghentikan  pemanfaatan delapan  pembangkit nuklir, yang berdampak terhadap penurunan pasokan listrik dari energi ini menjadi 9,5 persen. Saat ini masih tersisa sembilan pembangkit. Selanjutnya, penutupan pembangkit listrik nuklir yang tersisa akan berlanjut pada 2015, 2017, 2019, 2021, dan 2022.

Permintaan listrik di Jerman mencapai 80 gigawatt, sebagian besar dipenuhi dari energi fosil dan nuklir. Selain nuklir, sumber energi dari minyak bumi mencapai 32,1 persen, batubara 26,3 persen, dan gas alam 22,8 persen. Adapun suplai dari energi terbarukan masih sekitar 10,3 persen.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau