Pertamina Ubah Fokus Bisnis

Kompas.com - 19/07/2012, 22:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — PT Pertamina (Persero) akan mengubah fokus bisnis dari hanya perusahaan minyak dan gas bumi (migas) menjadi perusahaan energi. Hal itu dilakukan untuk memperbesar bisnis dan mengejar keuntungan perseroan.

"Kita sedang RUPS tahunan, ingin mengajukan anggaran dasar yang baru dari semula perusahaan migas menjadi perusahaan energi. Jadi definisinya diperluas," kata Komisaris Utama Pertamina Sugiharto di Kementerian BUMN Jakarta, Kamis (19/7/2012).

Sekadar catatan, Menteri BUMN Dahlan Iskan memang mendorong agar perusahaan BUMN bisa menjadi perusahaan kelas dunia. Dahlan meminta agar perusahaan BUMN ini bisa melebarkan sayap ke luar negeri.

Hingga saat ini sudah ada empat perusahaan BUMN yang diminta untuk melebarkan sayap ke luar negeri, yaitu PT Perusahaan Listrik Negara, PT Pertamina, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

Khusus Pertamina, menjadi perusahaan berkelas dunia memang merupakan program lamanya. Sejak 2008, Pertamina sudah mencanangkan Rencana Program Jangka Panjang Pertamina (RPJP Pertamina) yang menitikberatkan pada sektor hulu sebagai fokus perusahaan.

Dalam RPJP itu, strategi Pertamina adalah menargetkan status sebagai perusahaan energi sekelas Petronas pada 2018 dan menjadi perusahaan energi 15 besar dunia pada 2023. Sejak memiliki visi itu, Pertamina langsung memburu lapangan minyak baru di luar negeri, seperti di Sudan, Qatar, Australia, Vietnam, dan Malaysia.

Dalam data aset Pertamina Hulu Energi, perusahaan memiliki 9 blok di tujuh negara. Pengelolaan blok tersebut bekerja sama dengan berbagai perusahaan migas internasional.

Pertamina memiliki satu blok di Malaysia yang berlokasi di offshore Sarawak. Blok SK-305 dikelola Pertamina bersama Petronas Carigali dan PVEP, Vietnam. Dalam blok ini, Pertamina mempunyai kepemilikan saham 30 persen. Status blok SK-305 sejak Juni 2011 sudah mulai beroperasi.

Di Vietnam, Pertamina mempunyai dua blok, yaitu Blok 10 dan Blok 11,2. Pertamina mempunyai saham 11,20 persen dan sisanya dimiliki oleh Petronas Carigali, PVEP, dan Quad Energy SA. Saat ini, status blok tersebut dalam  pengembangan, dan dijadwalkan pada 2012 sudah mulai berproduksi.

Sementara itu, di Australia, Pertamina mempunyai satu blok, yaitu blok BMG yang dikelola bersama Rock Oil Ltd, Beach Petroleum Ltd, Ceizo E&P Ltd, dan Sojitz Energy. Pertamina memiliki saham sebesar 10 persen dan hingga saat ini blok tersebut masih dalam fase non-produksi.

Pertamina juga memiliki blok migas di Qatar bernama blok 3. Kepemilikan saham Pertamina di blok ini sebesar 25 persen dan sisanya oleh Wintershall AG, Cosmo Energy, dan E&D Ltd. Status blok tersebut dalam masa studi geologi dan geofisika, serta estimasi pengeboran pada 2012.

Di Sudan, Pertamina memiliki blok 13 dengan saham sebesar 15 persen dan mengoperasikannya bersama CNPC Sudapet, Dindir Petroleoum, Africa Energy, Express, dan Petroleum & Gas Co. Ltd. Statusnya masih dalam studi geologi dan geofisika.

Pertamina juga mempunyai dua blok di Libya, yaitu Blok 17-3 dan Blok 123-3 dengan kepemilikan saham 100 persen. Namun, akibat situasi politik dan keamanan Libya yang belum stabil hingga saat ini, aktivitas Pertamina di kedua blok tersebut belum berjalan.

Di Irak, Pertamina mempunyai blok 3WD yang merupakan blok onshore west dessert dengan kepemilikan blok 100 persen. Saat ini, aktivitas blok tersebut masih dalam eksplorasi.

Pada Juni lalu, Pertamina membeli 32 persen saham Petrodelta, SA, Venezuela, milik Harvest Natural Resources Inc. Anak usaha BUMN Venezuela itu memiliki lapangan dengan cadangan 486 juta barrel ekuivalen minyak bumi (MMBOE). Jauh lebih besar dari Blok Cepu yang hanya 250 juta MMBOE.

Di dalam negeri, Pertamina terus memburu bisnis hulu secara agresif dengan mengambil alih lapangan Offshore North West Java (ONWJ), yang sebelumnya dimiliki BP Indonesia. Selain itu, Pertamina mengambil alih blok West Madura Offshore (WMO).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau