Penghijauan

Kebun Vertikal Solusi Pertamanan Urban

Kompas.com - 20/07/2012, 03:34 WIB

Nawa Tunggal

Bangunan parkir mobil di perkotaan meski disediakan cukup luas hingga bertingkat-tingkat tidak jarang dipenuhi antrean membeludak tanpa kepastian tempat. Polusi merebak sekaligus menjadi peluang inovasi. Dinding bangunan bisa dijadikan kebun vertikal penyerap polutan karbon dioksida.

”Pemerintah Singapura sudah merespons inovasi dinding kebun vertikal (vertical green wall) yang kami buat,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Suprapedi ketika ditemui pada acara Seminar Ekonomi Hijau-Science Council Asia, Senin (9/7), di Bogor, Jawa Barat.

Suprapedi bersama peneliti senior LIPI lain, Mohamad Gopar, menggabungkan inovasi papan serat alami dan pupuk cair beyonic LIPI menjadi medium tanam kebun vertikal. Pada April 2012 contoh papan itu seluas 180 meter persegi dikirim ke Singapura.

Papan tersebut disertakan ke dalam sejumlah kegiatan pameran di Singapura. Inovasi verti-board setebal 8-10 sentimeter ini menarik perhatian banyak konsumen.

Pada bulan Juli hingga September 2012, Singapura memesan dinding kebun vertikal dari LIPI sebanyak 1.800 lembar dengan ukuran 159 sentimeter x 50 sentimeter.

”Pembuatan dinding kebun vertikal, setidaknya di Singapura, akan menjadi tren,” kata Suprapedi.

Menurut dia, Pemerintah Singapura menyediakan insentif 50 persen untuk pembuatan kebun vertikal. Pembuatan kebun vertikal diutamakan pada bangunan-bangunan parkir kendaraan yang luas sehingga polusi dari kendaraan bisa dikurangi.

Untuk komersialisasi hasil riset ini, Suprapedi menggaet mitra lokal PT Envirospace Consultants Indonesia dan mitra dari Singapura, Garden and Landscape Centre Pte Ltd (GLC). GLC Singapura berdiri sejak tahun 1969.

Perusahaan GLC Singapura menjadi pelopor lanskap dan solusi pertamanan. Perusahaan ini mempunyai reputasi untuk ide-ide inovatif dan ramah lingkungan yang berkembang secara global, termasuk di Mauritius, Seychelles, India, dan China.

Serat alam

Pembuatan dinding kebun vertikal menggunakan serat alami bambu, pelepah sawit, dan pakis. Menurut Suprapedi, ide inovasi ini berawal dari gagasan Kepala LIPI Lukman Hakim yang mengharapkan hasil kegiatan riset itu besar, signifikan, dan nyata.

Hasil riset diharapkan membawa dampak ekonomi yang besar dan signifikan dalam bidang keilmuan serta nyata dapat diwujudkan.

Dinding kebun vertikal memadukan hasil riset UPT Balai Penelitian dan Pengembangan Biomaterial LIPI sekitar tahun 1990 berupa papan komposit dari serat alami dan teknologi pupuk beyonic LIPI hasil penelitian tahun 2009-2011.

Istilah beyonic adalah kependekan dari beyond organic. Nama itu digunakan untuk pupuk organik yang diperkaya dengan mikroba yang jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan.

Pupuk beyonic LIPI bisa ditujukan untuk kegiatan bioremediasi (pemulihan) lahan kritis, seperti bekas tambang. Caranya, dengan menambahkan mikroba yang sesuai untuk pemulihan tanah tersebut.

Mikroba bisa diisolasi dari daerah setempat, kemudian dikembangbiakkan dan ditanamkan pada pupuk cair organik tersebut.

Pembuatan

Mohamad Gopar menjelaskan, pembuatan papan komposit menggunakan pelepah kelapa sawit dan bambu betung dengan usia tanam lima tahun. Pelepah dan bambu dipotong-potong dengan ukuran 2 meter, lalu dibelah dua untuk bahan berdiameter kecil atau dibelah empat untuk bahan berdiameter besar.

Potongan-potongan itu dipipihkan dengan alat bamboo crusher hingga diperoleh serat bambu dan pelepah sawit. Serat kemudian dipotong-potong dengan ukuran 5-6 sentimeter dengan mesin drum chipper.

Serat hasil pemotongan drum chipper dimasukkan ke mesin ring flaker hingga diperoleh serat seragam yang lebih kecil. Serat kemudian dikeringkan di dalam oven dengan temperatur 75 derajat celsius selama tiga hari.

Berikutnya, serat dicampur dengan perekat tahan air 5-10 persen. Dengan kerapatan serat 0,3-0,4 gram per sentimeter kubik, serat kemudian dicetak dengan pengempaan sampai suhu 130 derajat celsius.

”Papan itu kemudian dilubangi dan sudah menjadi medium tanam kebun vertikal,” kata Suprapedi.

Kebun vertikal adalah sebuah kebutuhan di tengah kota yang makin pengap dan polutif. Ternyata hasil riset peneliti Indonesia mampu menjawabnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau