Putri di Kelas Ekonomi

Kompas.com - 21/07/2012, 03:12 WIB

London, Jumat - Untuk mencapai London, kota penyelenggara Olimpiade 2012, tim sepak bola putri Jepang dan tim bola basket putri Australia diterbangkan dengan tiket kelas ekonomi. Tim putra jauh lebih nyaman karena duduk di kelas bisnis dalam penerbangan mereka. Tim putri kedua negara itu pun protes atas perbedaan yang mereka alami.

Tim sepak bola putri Jepang terbang menuju London dengan pesawat mereka lebih dahulu transit di Paris. Kolega mereka, tim putra, juga menggunakan pesawat yang sama. Namun, dalam penerbangan selama 13 jam dari Tokyo hingga Paris itu para pemain putra dapat lebih santai karena duduk di kelas bisnis.

Jelas perbedaan itu membuat berang para pemain putri Jepang. ”Seharusnya dicarikan cara yang tepat agar tidak terjadi perbedaan seperti ini,” tutur Homare Sawa, salah seorang pemain yang juga memperkuat tim nasional Jepang dalam Kejuaraan Dunia Sepak Bola Putri FIFA 2011.

Sawa sama sekali tidak melihat dasar yang kuat dari pembedaan perlakuan tersebut. ”Jika dilihat dari sisi lain pun, kami lebih tua daripada mereka,” katanya.

Namun, Asosiasi Federasi Sepak Bola Jepang memiliki alasan tersendiri atas pembedaan tiket penerbangan antara tim nasional U-23 putra Jepang dan tim putri. Dasarnya tidak lain karena tim putra bermaterikan para pemain profesional.

Tiket penerbangan dengan kelas yang berbeda juga dialami oleh tim bola basket putri Australia yang dikenal dengan nama Opals. Dalam penerbangan ke London, mereka duduk di kelas ekonomi.

Sementara tim bola basket putra Australia yang berjulukan Boomerang bisa menikmati perjalanan di kelas bisnis.

Bernie, ayah dari Kristi Harrower yang merupakan salah satu bintang Opals, kepada media Australia, ABC, menegaskan, perbedaan kelas tempat duduk dalam penerbangan ke London antara Opals dan Boomerang telah merusak keutuhan tim bola basket Australia secara keseluruhan.

Memang sejauh ini, Opals memiliki prestasi yang jauh lebih baik daripada Boomerang. Boomerang sama sekali belum mampu mempersembahkan medali dari pentas olimpiade.

Namun, dalam tim Boomerang kali ini ada Patty Mills (23), point guard dengan tinggi badan 1,83 meter yang bermain untuk klub bola basket NBA, Portland Trail Blazers, pada musim 2010-2011. Pada musim 2012 ini, Mills memperkuat Los Angeles Lakers.

Sesungguhnya, beberapa pemain Opals juga masuk kategori profesional. Di dalam kompetisi putri profesional AS, WNBA, ada pemain Opals seperti Lauren Jakson yang membela Seattle dan Liz Cambage, si center Tulsa Shock. Tim bola basket putri Australia juga pernah mempersembahkan medali.

Dalam tiga olimpiade terakhir, tim Opals selalu mempersembahkan medali perak. Itu sebabnya, dalam Olimpiade London 2012, Opals juga ditargetkan merebut medali emas.

Kristina Keneally, mantan Perdana Menteri Negara Bagian New South Wales, juga menyesali keputusan yang diambil Federasi Bola Basket Australia itu.

”Sebab, pada saat ini tidak ada lagi alasan untuk membedakan perempuan dan laki-laki. Apalagi kedua tim sama-sama melakukan perjalanan untuk bersaing memberikan yang terbaik di Olimpiade London nanti,” tegas Keneally.

Scott Derwin, Ketua Kontingen Bola Basket Australia, mencoba meredakan ketegangan dengan menyampaikan bahwa sejauh ini dana yang digunakan untuk pembinaan Opals jauh lebih besar daripada Boomerang.

Nadal mundur

Dari Spanyol diberitakan, Rafael Nadal, si pemegang medali emas Olimpiade Beijing 2008, harus mengundurkan diri dari Olimpiade London yang tinggal beberapa hari lagi berlangsung.

Pengunduran diri Nadal tersebut tidak lain akibat cedera di lutut kaki kiri yang masih belum sembuh benar.

”Ini jelas salah satu kejadian yang menyedihkan dalam karier saya, selain juga kabar buruk bagi rekan saya,” tutur Nadal. (AP/NIC)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau