M u s i b a h

Kebakaran Landa Jakarta dan Semarang

Kompas.com - 22/07/2012, 02:55 WIB

Jakarta, Kompas - Kebakaran kembali melanda permukiman padat di Pejaten, Jakarta, dan Pasar Projo di Semarang, Jawa Tengah. Sekitar 53 rumah, 158 kios, dan 951 los ludes terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam kedua peristiwa ini, tetapi kerugian ditaksir mencapai triliunan rupiah.

Kebakaran di Kelurahan Pejaten, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang terjadi hari Sabtu (21/7) mulai pukul 04.15, menghanguskan 53 rumah petak yang dihuni 159 warga. Pemicunya diduga akibat hubungan arus pendek listrik.

”Api datang dari sebuah kamar di dekat kamar mandi. Saya terbangun karena orang-orang pada teriak kebakaran! Saya lihat api sudah membesar dan saya langsung menyelamatkan dua anak saya keluar rumah,” kata Sumardi, Ketua RT 02 RW 08, Kelurahan Pejaten.

Hanya berselang 10 menit, rumah petak sewaan Sumardi itu hangus. Dia tak sempat menyelamatkan barang berharga seperti sepeda motor. Semua warga panik menyelamatkan diri. ”Setelah saya cari sepeda motor, ternyata diselamatkan warga lain. Situasinya panik,” kata Sumardi.

Api berkobar saat sebagian warga menjalankan ibadah shalat subuh. Sebagian warga lain pergi ke pasar karena penghuni rumah petak di tempat itu banyak yang menjadi pedagang. Yang tersisa di lokasi kejadian itu sebagian besar ibu-ibu dan anak-anak. ”Saya kebetulan tidak ke pasar karena ingin libur pada puasa pertama,” tutur Sumardi.

Rumah petak di kawasan ini sesungguhnya milik tiga warga. Sebagian berbentuk rumah induk yang dibagi dalam kamar-kamar kecil. Rumah petak ini terdiri atas dua lantai. Luas setiap rumah petak rata-rata 5 meter persegi. Setiap unit diisi dua sampai lima orang sekaligus.

Instalasi listrik

Kepala Bagian Operasi Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan Mochtar Zakaria mengatakan, lokasi permukiman itu rentan terjadi kebakaran. Selain padat, sarana instalasi listriknya juga tidak rapi. Hal ini terlihat dari kabel-kabel listrik di bekas bangunan yang terbakar, kabel itu menjulur saling tumpang tindih.

Tim pemadam kebakaran pertama kali tiba di lokasi pukul 05.15. Petugas dengan 16 mobil pemadam berhasil memadamkan api pada pukul 06.25.

Di Jakarta, menurut Heru Agus W, Kepala Seksi Pengendalian Operasi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana DKI, hampir setiap hari terjadi kebakaran. Itu disebabkan kelalaian warga yang kurang peduli mengantisipasi bahaya kebakaran. Dalam dua hari terakhir, kebakaran melanda Jakarta Timur, Jakarta Pusat, dan Jakarta Selatan.

Kepala Polsek Pasar Minggu Komisaris Adri Desas Furyanto mengatakan, pihaknya belum menemukan tanda-tanda kesengajaan dalam musibah itu. Diduga kebakaran terjadi karena hubungan arus pendek listrik. Beberapa korban dan pemilik rumah telah dimintai keterangan.

Palang Merah Indonesia membuka posko bantuan di balai RW 08 Kelurahan Pejaten, sekitar 50 meter dari lokasi kebakaran. Selain membuka dapur umum, sukarelawan PMI juga menyediakan obat-obatan untuk korban kebakaran.

Pasar Projo

Pasar Projo di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, yang menjadi tumpuan hidup sekitar 1.000 pedagang besar dan kecil, juga terbakar pada Jumat sekitar pukul 20.30. Kerugian material ditaksir Rp 1 triliun karena banyaknya stok barang milik pedagang untuk dijual selama Ramadhan dan Idul Fitri ludes dilalap api.

Hingga Sabtu pagi, api belum berhasil dipadamkan meski pemadam kebakaran dari Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan perusahaan garmen PT Apacinti sudah dikerahkan. Kepala Polres Semarang Ajun Komisaris Besar Ida Bagus Putra Narendra mengatakan, hidran yang ada di pasar itu rusak sehingga menghambat proses pemadaman api.

Banyak pula material mudah terbakar, seperti kain dan karet, serta angin kencang yang membuat api terus menyala. Narendra mengungkapkan, kepolisian masih menyelidiki penyebab kebakaran dan menunggu hasil laboratorium forensik. Dugaan sementara, api berasal dari bagian belakang pasar. Api yang mulanya kecil dengan segera membesar karena pengaruh angin dan material yang mudah terbakar.

Terdapat 158 kios dan 951 los di pasar yang terdiri atas dua lantai itu dan hampir semuanya terbakar. Hanya kios bagian depan bangunan pasar di lantai satu yang selamat dari kobaran api. Kantor Pegadaian dan koperasi simpan pinjam di pasar itu juga ikut terbakar. Total kerugian ditaksir mencapai Rp 1 triliun.

Pedagang mengaku baru menambah stok barang sejak sebelum Ramadhan. Pedagang pakaian, kain, dan seprai, Suripto (57), mengaku mengetahui pasar terbakar pada pukul 21.30 ketika api sudah membesar. ”Kios saya ada di tengah. Baru pagi ini saya bisa masuk dan mengambil sisa-sisa barang yang tidak terbakar,” ujar Suripto yang rugi Rp 200 juta.

”Sekarang saya belum tahu mau bagaimana. Saya berharap pemerintah menyediakan lokasi sementara agar kami tetap dapat berdagang,” ujarnya.

Pedagang lain, Ace (55), juga mengalami hal serupa. Dia bahkan mencoba masuk ke pasar untuk mengambil tabungan yang tersimpan di tokonya, tetapi tidak diperbolehkan oleh petugas. ”Saya tinggal di Kota Semarang. Ini belum tahu kondisi kios saya. Kalau habis semua, hilang sudah Rp 150 juta,” ungkapnya.

Bupati Semarang Mundjirin mengungkapkan, pihaknya akan menyiapkan lokasi alternatif agar pedagang tetap bisa berjualan. Kios darurat segera dibangun di lokasi yang terdekat dengan pasar itu.

Komandan Kodim 0714/Salatiga Letkol (Inf) Joao Xavier Barreto Nunes menuturkan, pedagang pasar seharusnya diberi pengetahuan dan keterampilan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebakaran.

(NDY/MDN/UTI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau