Tentara Serang Aleppo

Kompas.com - 23/07/2012, 04:49 WIB

damaskus, minggu - Pertempuran sengit pecah di Aleppo, kota komersial terpenting di Suriah utara, sejak Sabtu (21/7). Sedikitnya 130 orang tewas, termasuk 41 warga sipil, setelah tentara rezim Presiden Bashar al-Assad menyerang pasukan oposisi di kota itu selama tiga hari terakhir.

Serangan ke Aleppo terjadi tidak lama setelah oposisi mengebom Markas Besar Biro Keamanan Nasional di Damaskus hingga empat petinggi militer tewas. Serangan itu adalah bagian dari rangkaian serangan enam hari pihak oposisi yang diberi sandi ”Damascus Volcano”.

Sejumlah besar tentara Suriah dilengkapi puluhan kendaraan lapis baja menyatroni kota Aleppo, Sabtu. Salah satu daerah yang menjadi medan pertempuran adalah distrik Salaheddin, yang telah dua hari diduduki pasukan oposisi.

Aktivis oposisi melaporkan, sekitar 130 orang tewas, termasuk 41 warga sipil, Sabtu itu. Setidaknya sudah 19.000 orang tewas dalam 16 bulan konflik bersenjata di Suriah.

Ratusan keluarga lari meninggalkan Aleppo tidak lama setelah kontak senjata antara militer dan oposisi.

Di Damaskus, Minggu (22/7), kembali terjadi kontak senjata besar-besaran antara oposisi dan pasukan pemerintah. Distrik Barzeh, Damaskus, menjadi pusat pertempuran terbaru, Minggu. Ratusan orang mengungsi.

Sementara itu, Jenderal Mustafa Sheikh, salah satu perwira tinggi Suriah yang telah membelot, mengatakan, pasukan Assad mulai menyalurkan senjata kimia ke sejumlah wilayah. Besar kemungkinan senjata itu akan dipakai melawan oposisi.

Hari demi hari Suriah tidak pernah sepi dari bentrokan senjata yang mematikan. Nyawa manusia terkesan tidak berguna di sini. Kekerasan bersenjata mengubah Suriah menjadi ”kuburan massal” menakutkan sehingga setiap hari selalu ada ratusan orang kabur ke negara tetangga.

Gelombang pengungsi

Wilayah semi-otonomi Kurdi di Irak telah menerima hingga 9.000 pengungsi Suriah setelah kekerasan berlangsung. ”Jumlah pengungsi Suriah yang melintasi perbatasan terus meningkat. Sampai sekarang kami telah menerima 9.000 pengungsi,” kata Mohammed Abdullah, Kepala Direktorat Imigrasi dan Imigran Provinsi Duhuk, Irak.

Pelarian juga berasal dari militer Suriah. Seorang jenderal militer Damaskus melarikan diri ke Turki, Sabtu, sehingga sudah lebih dari 25 jenderal kabur dari Damaskus. Sudah lebih dari 40.000 pengungsi Suriah yang ditampung Turki saat ini. Lebanon juga menampung puluhan ribu pengungsi Suriah.

Duta Besar AS untuk Jordania, Stuart E Jones, mengatakan, Washington mengucurkan 100 juta dollar AS untuk membantu Jordania menangani pengungsi Suriah yang kini mencapai 140.000 orang.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon dan Utusan Khusus PBB-Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, tetap berharap agar jalan damai dapat diterapkan di Suriah. ”Kami terus mendorong sebuah solusi damai,” kata Ban.

AS dan Eropa berencana akan bertindak di luar kebijakan Dewan Keamanan PBB untuk menekan Assad. Oposisi menyarankan AS bertindak sendiri tanpa PBB. (AFP/REUTERS/AP/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau