Oleh Gilang Galiartha
Setiap sore di Bulan Ramadhan, Anda akan menemukan aktivitas yang berbeda dibandingkan hari-hari biasa di Masjid Istiqlal. Ribuan orang tampak memadati komplek peribadahan umat Muslim itu, sejak pukul 16:30 WIB.
Masjid Istiqlal, selayaknya beberapa masjid besar lainnya di Jakarta, memiliki agenda pembagian paket santapan buka puasa setiap hari sepanjang bulan Ramadhan.
Sebanyak 3000 paket buka puasa disiapkan Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) melalui Bidang Takmir Masjid.
Ketua Takmir Masjid Istiqlal, KH Adnan Harahap mengatakan tidak ada persiapan khusus yang berbeda dari penyelenggaraan acara serupa di bulan Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.
Pria yang sudah tiga periode menjadi Ketua Takmir Masjid Istiqlal ini mengatakan, kegiatan ini sudah berjalan sejak ia belum menjabat sebagai Ketua Takmir, namun baru mulai terorganisir dengan baik selama lima tahun terakhir.
“Kalaupun ada yang berbeda, kami mengharapkan ada peningkatan. Peningkatannya ya dari kualitas makanannya, sebisa mungkin tetap kami tingkatkan dengan menyesuaikan dana yang ada,” katanya.
Perihal pendanaan, Adnan mengatakan kegiatan yang berurusan dengan masalah ibadah dibiayai dari kas pendapatan uang sumbangan dan kotak amal.
Tahun lalu, sepanjang bulan Ramadhan kotak amal harian di Masjid Istiqlal bisa mengumpulkan sekitar Rp385 juta, sementara untuk kotak amal yang hanya diedarkan pada saat pelaksanaan Shalat Jumat pada bulan puasa mencapai total Rp383 juta.
Kas yang terkumpul itu biasanya masih tersisa sekitar Rp60 juta hingga Rp100 juta pada saat akhir Ramadhan, dan digunakan sebagai modal awal untuk pembiayaan kegiatan-kegiatan Ramadhan selanjutnya.
Sementara itu, untuk setiap paket berbuka yang disiapkan Masjid Istiqlal senilai Rp10.000 atau menghabiskan dana sekitar Rp30 juta dalam satu hari pembagian paket berbuka.
“Itu belum termasuk minum dan jajanannya, makanya kami masak sendiri kami kasih ke Koperasi Istiqlal, mereka kan sudah ada katering, tapi tetap bisa kami pantau. Yang jelas untuk biayanya jauh lebih murah ketimbang ambil di luar, tinggal pelayanannya saja,” kata pria yang berasal dari Medan itu.
Untuk setiap paket yang bernilai Rp10.000 berisi satu porsi nasi, tumis sayur dan lauk daging. Selain itu, di dalamnya disisipkan juga beberapa butir kurma sebagai takjil ketika adzan maghrib tiba.
Salah seorang penerima paket berbuka puasa, Amri (37), mengatakan ia biasa datang ke Masjid Istiqlal sekitar pukul 17.00 sepulang berjualan di Pasar Senen.
"Lumayan buat ngirit ongkos makan, pas pulang ke rumah di Cengkareng perut udah isi," katanya.
Sementara sepasang suami istri Saiful dan Nani yang ikut hadir dalam pembagian paket berbuka memilih untuk bergabung dalam kegiatan tersebut karena suasana kebersamaan dari acara tersebut.
"Enak dari pada maksa pulang ke rumah dulu, mendingan bareng-bareng sama banyak orang di sini," ujar Saiful.
Tidak Tertib
Adnan menyampaikan dalam pembagian paket berbuka, panitia lebih memilih cara pemberian langsung teratur tanpa nomor antri ataupun kupon.
“Masyarakat bisa langsung menempati tempat duduk yang sudah disiapkan di koridor, dipisahkan antara laki-laki dan perempuan, lalu kami bagikan supaya bisa dimakan bersama ketika waktu berbuka tiba,” katanya.
Untuk pembagian sendiri, Masjid Istiqlal sudah menyiapkan sekitar 60 orang petugas berseragam merah dengan selendang kuning dan bernomor urut untuk menyiapkan minuman serta paket berbuka. Sementara itu, untuk tugas-tugas di dapur biasanya dikerjakan delapan orang petugas setiap harinya.
Salah seorang petugas pembagian paket berbuka, Ade Sasmita, bercerita bagaiamana ia seringkali ada masyarakat yang “ngeyel” ketika diarahkan supaya tertib.
“Di sini kan peraturannya seharusnya mereka duduk rapi, sesudah waktunya berbuka puasa atau maghrib silakan dimakan bersama, kadang-kadang yang ngeyel itu duduk belum waktunya udah dibawa jalan. Ini kan acaranya buka bersama,” ujar pria yang dalam kesehariannya menjadi petugas kebersihan di komplek Masjid Istiqlal itu.
Ade Sasmita sudah bekerja di Masjid Istiqlal sejak tahun 1989 dan ikut serta aktif dalam kegiatan pembagian takjil atau paket berbuka sejak tahun 1995.
Ia kerap menemui wajah-wajah sukacita ketika membagikan paket berbuka kepada masyarakat yang hadir di koridor Masjid Istiqlal, dan itu cukup membuatnya merasa ikut senang.
“Ada banyak yang datang dan kelihatan senang, saja juga senang sekali. Kalau ada yang ‘ngeyel’ ya itu sih bagian dari resiko juga,” ujarnya.
Lain lagi dengan cerita Udin (38) yang bertugas di dapur.
Setiap hari, ia bersama tujuh petugas yang berada di dapur menyiapkan paket berbuka dengan memasak air minum dan makanan sejak pukul 10.00 WIB .
Untuk makanan, biasanya sudah dikemas oleh Koperasi Istqilal dan diantarkan ke tempat penyelenggaraan sekitar pukul 17.00 WIB.
Selama pemberian paket berbuka, Udin yang tetap di dapur kerap menemui masyarakat yang melanggar larangan memasuki dapur.
“Kadang-kadang ya ada juga orang yang main nerobos langsung ke dapur. Minta langsung gitu. Tapi biasanya gak saya kasih,” katanya.
Namun, sesekali Udin juga tetap mau memberikan kepada orang yang menerobos langsung ke dapur, terutama bila ada ibu-ibu tua.
“Kasihan, Mas. Kalau yang lain gak saya kasih,” ujarnya.
Udin mengatakan masih perlu penjagaan yang lebih dari pihak keamanan supaya dapur tidak terjamah oleh peserta dan tidak mengganggu kerja petugas di dapur.
Adnan mengatakan bahwa pihak Masjid Istiqlal sudah menyediakan petugas keamanan sebanyak 60 orang dalam kegiatan pembagian paket berbuka itu demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
“Tapi siapapun yang datang kami anggap jamaah kami yang hendak berbuka bersama. Kami tidak pernah membedakan siapa, bahkan kami tidak tahu apa agamanya. Pokoknya, kalau ada orang kumpul ya kami berikan paket saja,” kata Adnan seraya tersenyum.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang